Didukung Pasar, Saham Spindo Diproyeksikan Naik 15%

Tetapkan Harga Perdana Rp295 per saham

Selasa, 12/02/2013

NERACA

Jakarta- Kondisi pasar saat pelaksanaan penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO) pada akhir Februari yang mendekati earning seasons untuk emiten-emiten Indonesia, dinilai dapat menjadi pendukung pergerakan harga saham emiten. Tidak terkecuali bagi pencatatan saham PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (Spindo) yang berencana melepas 40,36% atau sekitar 2,9 miliar lembar saham pada bulan ini. “Kita asumsikan dengan penetapan harga IPO sebesar Rp325 yang merupakan harga tengah dari rentang harga IPO Rp260-390 dan didukung dengan kondisi pasar saat IPO, minimal pada saat hari pertama IPO, kenaikan diproyeksikan antara minimal 10%-15%.”kata analis saham PT Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta (11/2).

Baca juga: Reksa Dana Saham Diprediksi Tumbuh 20% - Berharap Asa di Semester Kedua

Menurut Reza, meski secara Price Earning Ratio (PER), Spindo berada di level 29,61 kali atau lebih tinggi dari PER industri, namun bukan berarti Spindo lebih mahal dari industri. PER yang diraih oleh Spindo sesuai dengan kondisi fundamentalnya yang dapat dikatakan cukup baik dibandingkan dengan yang lain, seperti ALMI, JKSW, dan NIKL.

Karena itu, jika dibandingkan dengan perusahaan yang mendekatinya yaitu, BAJA maka PER Spindo masih lebih menarik. Selain itu, Spindo merupakan bagian dari Baja. Untuk itu, dengan membandingkan harga yang ditawarkan oleh Spindo dengan BAJA maka Spindo diharapkan bisa lebih menarik.

Baca juga: Pembeli Saham Link Net Segera Dirilis

Sewaktu IPO, harga yang dicatatkan BAJA sebesar Rp250, di mana pada saat pembukaannya, berada di level Rp275 dan ditutup di level Rp340. “Pada akhir tahun 2011, harga bertengger di level Rp270 sehingga selama 2011, BAJA mengalami penurunan imbal hasil 20,6% dari harga penutupan saat IPO namun, memberikan kenaikan 8% dari harga IPO. Pada akhir 2012, harga BAJA di level 510 atau sudah naik 104% dari harga IPO.” paparnya.

Harga IPO

Dalam pelepasan sahamnya, Spindo menargetkan dapat memperoleh dana segar senilai Rp754 miliar hingga Rp 1,13 triliun dengan jumlah saham yang ditawarkan ke publik di kisaran Rp260-Rp390 per lembar melalui 40,36% atau sebanyak 2,9 miliar lembar saham yang dilepas.

Baca juga: Minat Investor Beli Saham IPO Berkurang - Target 32 Emiten Sulit Tercapai

Menurut Vice President Invesment Banking PT Andalan Artha Advisindo Sekuritas (AAA Sekuritas), Jimmy Randiatmoko, harga penawaran perdana saham Spindo ditetapkan Rp295 per saham, dari rentang harga perdana saham yang ditawarkan Rp260-Rp390 per saham,”Harga perdana saham yang ditetapkan Rp295 per saham. Pertimbangan harga perdana saham berdasarkan price earning (PE) rata-rata perusahaan sejenis dan potensi pertumbuhan pendapatan perusahaan ke depan,”katanya.

Rencananya, perseroan akan menggunakan sekitar 42,94% dana hasil IPO untuk belanja modal perseroan, 12,06% yang akan digunakan untuk pelunasan kredit modal kerja ke PT Indonesia Eximbank, sedang sisanya sebesar 45% untuk peningkatan modal kerja yaitu pembelian bahan baku berupa HRC (baja canai panas), CRC (bajai canai dingin), Carbon Steel, Stainless Steel, GL Coil, dan bahan pembantu.

Baca juga: Spindo Targetkan Laba Bersih Rp 240 Miliar

Sementara pada tahun 2013, Spindo menganggarkan belanja modal sebesar Rp 1,5 triliun-Rp 1,6 triliun yang akan digunakan untuk perbaikan mesin-mesin produksi pipa karbon dan pipa baja tahan karat milik perseroan. Perseroan menargetkan perolehan laba bersih sebesar Rp290-Rp300 miliar di 2013, atau mengalami kenaikan dibandingkan dengan perolehan tahun 2012 lalu sebesar Rp124 miliar dengan target penjualan 2013 sekitar Rp4 triliun dan target produksi sekitar 400 ribu ton/tahun atau 26 ribu/bulan.

Baca juga: JSMR Pengendali Saham Tol Cinere Serpong

Bangun Pabrik

Wakil Direktur Utama Tedja Sukmana Hudianto pernah mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan pembangunan pabrik di Gresik Jawa Timur yang akan memproduksi pipa baja dengan ukuran 12 sampai 20 inci, “Investasi pembangunan pabrik dan pembelian mesin baru mencapai sekitar Rp 1,3 triliun,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, pembangunan pabrik baru di Gresik dimaksudkan untuk peningkatan produksi pipa untuk minyak dan gas. Karena selama ini, perseroan lebih banyak penjualan pipa untuk kontruksi dan infrastruktur. Nantinya, pabrik baru di Gresik akan mempunyai kapasitas produksi 26 ribu matrik ton dan hasil penjualan pipa untuk sektor migas bisa dihitung pada tahun 2014 dan 2015.

Baca juga: Minat Investor Beli Saham IPO Mulai Berkurang - Target 32 Emiten Sulit Tercapai

Topik Terkait

bursa efek spindo