Konsumsi BBM Pembangkit Listrik Terus Ditekan

Perkecil Defisit Perdagangan

Senin, 11/02/2013

NERACA

Jakarta – Demi terus mengurangi defisit neraca perdagangan yang terutama diakibatkan oleh besarnya minyak dan gas untuk konsumsi dalam negeri, pemerintah terus menurunkan porsi pemakaian bahan bakar minyak untuk pembangkit listrik.

Menurut Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jarman, pemakaian BBM pembangkit listrik akan terus menurun dalam beberapa tahun ke depan. "Pada 2012, porsi volume BBM pembangkit dalam bauran energi masih 15 persen, namun tahun ini ditargetkan turun jadi 10 persen," katanya di Jakarta, Sabtu.

Dia menjelaskan, pada 2013, porsi BBM dalam bauran energi ditargetkan turun menjadi 49% dari sebelumnya 38% di tahun 2012. Menurut Jarman, penurunan pemakaian BBM pada 2013 sebagian besar akan diganti batubara setelah proyek 10.000 MW tahap pertama beroperasi.

Sepanjang 2013 ini, porsi batubara dalam bauran energi direncanakan 57% atau meningkat dari 2012 yang 44%. Secara nilai, porsi batubara diproyeksikan naik dari 32% menjadi 35% di 2013. Jarman mengatakan, pada 2014, porsi volume BBM pembangkit ditargetkan turun lagi menjadi empat persen dan tinggal tiga persen di 2015.

Di pihak lain, pengamat energi dari ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro mengatakan, pemerintah harus meningkatkan produksi minyak mentah dan pembangunan kilang untuk mengatasi defisit dalam jangka menengah hingga panjang.

Dijelaskan Komaidi, peningkatan impor terutama BBM memang tidak terhindarkan karena peningkatan kebutuhan BBM transportasi dan keterbatasan produksi kilang dalam negeri. "Karena itu, pemerintah harus serius melaksanakan program peningkatan produksi sekaligus kapasitas kilang tersebut," ungkapnya.

Tekan Impor

Neraca perdagangan Indonesia pada 2012 tercatat mengalami defisit sebesar US$ 1,63. Defisit antara lain dikarenakan peningkatan impor minyak dan gas. Pada 2012, impor migas tercatat US$ 42,56 miliar atau meningkat dibandingkan 2011 yang US$ 40,7 miliar.

Itu sebabnya, pemerintah berpendapat perlu ada penyikapan yang tegas atas harga BBM sebagai upaya mengurangi impor minyak. Soalnya, meningkatnya defisit transaksi berjalan dewasa ini sangat ditentukan oleh tingginya impor minyak tersebut. "Impor migas menyebabkan defisit sebesar US$ 4,8 miliar, angka yang sebelumnya tidak pernah kejadian. Ini mungkin karena konsumsinya tinggi dan juga harga minyak dunia yang tinggi di awal tahun," kata Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, belum lama ini.

Menurut dia, tingginya impor migas tersebut membuat surplus di neraca perdagangan non-migas seakan tak berarti, padahal surplus tersebut mencapai US$ 3,5 miliar selama 11 bulan pertama 2012. "Saya kira, kita sebetulnya bisa berharap neraca non-migas surplus terus pada 2013 ini. Tapi kalau konsumsi (migas) begini terus, harganya pun begini terus, tanpa ada penyikapan mengenai harga (BBM), ini bisa membuahkan defisit di neraca migas 2013," imbuh Gita.

Gita masih menaruh harapan adanya koreksi harga minyak di tahun 2013 sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan. Namun ia sendiri masih belum dapat memperkirakan seberapa besar kemungkinan tersebut. "Saya tidak dalam posisi memberikan prediksi kemana arah (harga minyak internasional)," jelas Gita.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan RI selama November 2012 terjadi defisit sebesar US$ 478,4 juta. Hal itu terjadi karena impor November 2012 sebesar US$ 16,92 miliar. Sementara ekspor RI dalam periode yang sama hanya US$ 16,44 miliar . Untuk impor selama Januari hingga November 2012 ini mengalami kenaikan 9,92 % (year over year) menjadi US$ 16,92 miliar dari sebelumnya US$ 15,39 miliar.

Namun bila dibanding dengan Oktober 2012, impor RI cenderung turun 1,67%. Impor ini dikontribusikan dari impor migas US$ 4,07 miliar dan impor non migas sebesar US$ 3,94 miliar. Sedangkan ekspor selama Januari hingga November 2012 sebesar US$ 16,44 miliar , turun 4,6 % (yoy) dibanding sebelumnya US$ 17,4 miliar. Namun bila dibanding dengan Oktober 2012 masih naik 7,3 %. Ekspor tersebut dikontribusikan dari migas US$ 2,7 miliar , naik 2,23 % dan ekspor non migas naik 8,36 % menjadi US$ 13,73 miliar.

Neraca Defisit

Sementara neraca perdagangan selama Januari hingga November 2012 juga mengalami defisit sebesar US$ 1,33 miliar. "Jadi selama kondisi global ini belum pulih, maka Indonesia masih akan mengalami defisit," tambahnya.

Sementara defisit neraca perdagangan yang disebabkan karena minyak dan gas (migas), kondisi ini terulang kembali sejak terjadi pada 2008 lalu. BPS mencatat neraca perdagangan RI selama November 2012 terjadi defisit sebesar US$ 478,4 juta. Impor Indonesia kali ini kembali cenderung lebih besar dibanding ekspornya.

Kepala BPS Suryamin menjelaskan impor RI selama November 2012 sebesar 16,92 miliar dollar AS. Sementara ekspor RI dalam periode yang sama hanya US$ 16,44 miliar. "Defisit RI selama November sebesar US$ 478,4 juta," kata Suryamin.

Menurut Suryamin, untuk impor selama Januari hingga November 2012 ini mengalami kenaikan 9,92% (year over year) menjadi US$ 16,92 miliar dari sebelumnya US$ 15,39 miliar. Namun bila dibanding dengan Oktober 2012, impor RI cenderung turun 1,67 %. Impor ini dikontribusikan dari impor migas US$ 4,07 miliar dan impor non migas sebesar US$ 3,94 miliar.

Sedangkan ekspor selama Januari hingga November 2012 sebesar US$ 16,44 miliar, turun 4,6% (yoy) dibanding sebelumnya US$ 17,4 miliar. Namun bila dibanding dengan Oktober 2012 masih naik 7,3%. Ekpor tersebut dikontribusikan dari migas US$ 2,7 miliar, naik 2,23 % dan ekspor non migas naik 8,36% menjadi US$ 13,73 miliar.

Sementara neraca perdagangan RI selama Januari hingga November 2012 juga mengalami defisit sebesar 1,33 miliar dollar AS. Hal ini juga disebabkan karena impor RI lebih tinggi dibanding ekspornya. Untuk impor mengalami kenaikan 9,4% (yoy) menjadi US$ 176,09 miliar. Hal ini dikontribusikan dari impor non migas naik 10,77 persen (yoy) menjadi US$ 137,25 miliar.