PNM Tetap Salurkan Kredit UMKM 20%

Tak Gentar Hadapi Perbankan

Senin, 11/02/2013

NERACA

Jakarta – PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM menyatakan tidak gentar apabila di tahun-tahun mendatang perbankan juga akan berekspansi ke sektor UMKM dengan lebih gencar. Karena memang dalam aturan multiple license dari Bank Indonesia (BI), yang sudah resmi berlaku sejak Januari 2013 ini, disebutkan bahwa perbankan wajib menyalurkan kredit ke sektor UMKM sebesar 20% dari total portofolio kreditnya.

“Kita tidak khawatir, karena kita kan 100% fokus di (pembiayaan/kredit) mikro, sementara mereka (perbankan) cuma diwajibkan 20%. Kita akan berusaha meningkatkan variasi skim produk kita untuk nasabah supaya tidak kalah dengan perbankan. Karena sasaran kita memang adalah masyarakat kelas bawah atau di pelosok desa yang tidak tertangani oleh bank,” kata Tri Susilo, Direktur Bisnis PT PNM (Persero), ketika ditemui di Jakarta, Jumat (8/2), pekan lalu.

Supaya “menang” dari perbankan yang juga masuk ke sektor UMKM tersebut, PNM mengutamakan beberapa hal untuk menggaet hati para nasabahnya, misalnya adalah dengan memberikan servis atau pelayanan yang lebih baik, mempertahankan sistem kekeluargaan atau friendly kepada nasabah, serta jemput bola dalam memberikan pinjaman atau menagih ke rumah nasabah masing-masing.

“Juga syarat (untuk meminjam) yang kita berikan kepada para nasabah lebih fleksibel daripada lembaga keuangan formal. Agunannya juga seadanya dengan yang mereka punya, misalnya bisa stok atau produknya sendiri. Untuk penagihan, kita jemput bola dengan mengoleksinya harian. Misalnya untuk menagih satu-satu nasabah, tidak boleh lewat jam usaha mereka, karena kalau tidak akan sudah dipakai untuk yang lain seperti beli rokok,” tuturnya.

Kemudian, skim atau pola pelunasan pinjamannya disesuaikan dengan karakteristik pelaku usaha mikro tersebut. “Jadi disesuaikan skimnya, misalnya bisa bayar harian, atau paling lama satu minggu sudah bayar. Karena nasabah kecil itu kalau disuruh bayar Rp1,5 juta per bulan tidak akan sanggup, sedangkan jika per hari Rp50 ribu baru mereka bisa,” ujarnya.

Bangun kantor cabang

Mengenai sistem kekeluargaan atau kedekatan emosional dengan para nasabah, dia bilang, bahwa hal itu sangat penting untuk mendapatkan kepercayaannya sehingga mereka akan tetap mau menjadi nasabah seterusnya.

“Untuk itu kita ada sentuhan personal ke nasabah, memberikan motivasi atau edukasi supaya mereka nantinya berani bertransaksi di lembaga keuangan formal, dan sebagainya. Lalu kita terus lakukan inovasi, karena pangsa pasarnya masih besar. Kita juga bina SDM, supaya marketing skill-nya lebih baik, serta bisa membantu nasabah di masa sulitnya. Dari situ akan timbul ikatan emosional yang kuat, jadi nasabah kecil akan loyal. Tapi jeleknya, sekalinya sudah loyal, ketika si petugas pindah, mereka juga akan ikut saja ke mana dia pergi. Ini juga dikarenakan mereka malas kalau harus percaya lagi (dengan orang baru),” paparnya.

Sementara, untuk pembangunan kantor cabang atau kantor layanan Ulamm, perseroan ini menganggarkan maksimal Rp100 juta. “Tapi realisasinya, sampai tahun 2012, biasanya hanya di bawah Rp100 juta. Kita memang inginnya bangun kantor yang sederhana saja, karena kalau terlalu mewah, nanti mereka (para nasabah) akan takut masuk. Tapi anggaran ini juga disesuaikan dengan tempatnya, misalnya di Manado bisa sampai Rp140 juta,” ucapnya.

Pinjaman atau kredit yang diberikan PNM kepada nasabah, sejak 2009 sampai 2012 lalu, berada di kisaran minimal Rp1 juta sampai maksimal Rp200 juta. Tapi mulai tahun ini jumlah minimalnya akan diturunkan menjadi Rp500 ribu.

“Target kita jangka panjang itu memang ingin menurunkan portofolio nasabah (dalam rata-rata maksimal peminjaman), dulu waktu bisnis Ulamm (Unit Layanan Modal Mikro) mulai di 2008, average loan per nasabah adalah Rp78 juta. Sekarang kita sudah berhasil menurunkan sampai Rp47 juta per nasabah,” jelasnya.

Jumlah debitur PNM sampat awal tahun ini berjumlah 126.600 debitur, namun yang masih aktif menjadi debitur sebanyak 62 ribu, sedangkan sisanya sudah lunas atau naik kelas (bisa meminjam ke perbankan, karena biasanya perbankan memberikan kredit minimal Rp200 juta). Dari jumlah tersebut, lebih dari 50%-nya adalah yang pinjamannya di bawah Rp50 juta.

“Suku bunga yang kita berikan rata-rata berkisar dari 1,1%-1,6%, tergantung jumlah pinjaman dan lokasi (tempat tinggal debitur). Karena kalau biaya operasional besar, maka bunganya juga besar. Tapi kita pernah berikan yang terendah itu 0,9% per bulan, biasanya di daerah Jawa, sedangkan yang tertinggi pernah mencapai 1,8%,” ungkapnya.

Ingin go public

Ditemui di kesempatan yang sama, Parman Nataatmadja, Direktur Utama PT PNM (Persero), menerangkan bahwa perseroan ini berencana melakukan penawaran saham perdana ke publik (initial public offering/IPO) pada tahun 2015. Namun hal tersebut masih menunggu persetujuan dari pemerintah atau stakeholder.

“Karena setelah konsultasi dengan perusahaan sekuritas, pada saat itulah yang diperkirakan pangsa pasarnya sudah lebih baik. Tapi, di tahun ini kita akan mengeluarkan obligasi sebesar Rp1 triliun. Selain itu, rencana tambah modal kita dari RBPT sebesar Rp500 miliar, dan sisanya dari perbankan. Kita juga sudah mengajukan penambahan modal setor ke (Kementerian) BUMN sebesar Rp900 miliar. Ini untuk mewujudkan 1600 outlet Ulamm di 2017-2018,” terangnya.

Dia juga menyebutkan bahwa penyaluran pinjaman pada akhir tahun 2012 lalu sebesar Rp2,3 triliun, naik 27,78%, dari periode sama tahun 2011 yang sebesar Rp1,8 triliun. Kemudian, outstandingnya sebesar Rp2,8 triliun, naik 24,6%, dari jumlah 2011 yang sebesar Rp2,2 triliun. Lalu, NPL growth dan NPL Nett masing-masing sebesar 1,99% dan 0,14%.

“Untuk Ulamm, target tahun ini adalah Rp3,1 triliun. Lalu akan tambah 100 outlet Ulamm, antara lain di provinsi Papua dan NTT. Kita juga akan berusaha menjaring sekitar 50 ribu nasabah di tahun ini, dengan sekitar 4000 nasabah per bulannya,” pungkasnya. [ria]