Ketidakefisienan Pasar Modal Jadi Celah Aksi Goreng Saham

Investasi Temasek di Matahari

Senin, 11/02/2013

NERACA

Jakarta- Penerbitan emisi obligasi tukar (exchangeable rights) senilai US$300 juta berdasarkan dalam ketentuan exchangeable rights subscription agreement antara PT Multipolar Tbk (MLPL) dengan anak usaha Temasek, Andersen Investment Ltd dengan ketidakjelasan informasi dinilai menjadi salah satu ‘cara halus’ menggoreng saham. “Ini hanya akal-akalan emiten untuk menaikkan harga saham,”kata pengamat pasar modal dari FE Universitas Pancasila, Agus Irfani kepada Neraca di Jakarta akhir pekan kemarin.

Terjadinya lonjakan harga pasca penyampaian informasi yang tidak jelas oleh emiten, menurut Agus, mengindikasikan adanya praktik insider trading, di mana hal tersebut sebenarnya dilakukan dengan adanya kerja sama dengan investor dan sejumlah broker. “Biasanya investor-investor yang berani mengambil risiko dan ikut-ikutan. Ini terjadi pada saham-saham yang ‘diam’.” ujarnya.

Agus menilai, salah satu penyebab terjadinya hal tersebut, yaitu karena ketidakefisienan pasar modal Indonesia dalam melakukan monitoring atau pengawasan. Sehingga dimanfaatkan oleh emiten untuk mencari celah melakukan praktik insider trading. “Kejadian seperti ini bisa kembali berulang karena ada informasi yang sifatnya private.” ujarnya

Oleh karena itu, pihak otoritas perlu meningkatkan pengawasan dan pemantauan serta melakukan evaluasi terhadap perusahaan-perusahaan tercatat. Terlebih aksi ‘goreng’ saham pernah terjadi sebelumnya. “Pada 2002 misalnya, saham Indah Kiat dan Tjiwi Kimia sempat mengecoh dengan harganya yang melonjak tajam.” jelasnya.

Kemudian selama pasar tidak efisien, kata Agus, hal tersebut akan terus terjadi. Namun, dengan kehadiran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat ini, diharapkan pengawasan menjadi lebih baik dan efisien. “Suspensi yang dilakukan BEI sangat tepat. Namun, perlu monitoring, dan pengawasan yang lebih ekstra.” jelasnya.

Dia menambahkan, untuk meminimalisir terjadinya kenaikan harga saham yang disebabkan adanya insider trading, yaitu dengan memperketat ketentuan persentase pergerakan harga saham. Di pasar internasional misalnya, pergerakan harga (price movement) yang terjadi lebih dari 4% maka masuk pengawasan terjadinya insider trading.

Minta Klarifikasi

Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Hoesen mengatakan, pihaknya akan meminta penjelasan kepada pihak manajemen PT Multipolar Tbk (MLPL) mengenai exchangeable rights subcription agreement dengan Andersen Investment Ltd, anak usaha Temasek. “Saat ini kita lagi minta penjelasan. Penjelasannya paling lambat minggu ini, tapi kita mau panggil.” jelas

Kata Hoesen, pihaknya tengah mempelajari permasalahan ini dan meminta Multipolar memberikan klarifikasi terkait skema exchangeable rights subcription agreement tersebut. “Ini pake perjanjian khusus. Kita ingin tahu, dalam rangka apa. Apakah mandatory atau apa?” tuturnya.

Asal tahu saja, pasca investasi Temasek pada Multipolar senilai Rp2,9 triliun, harga saham MLPL sempat melonjak 100% dan langsung masuk dalam pengawasan BEI. Lonjakan harga saham Multipolar tersebut dinilai di luar kewajaran atau unusual market activity(UMA).

Karena itu, BEI meminta investor untuk memperhatikan jawaban dari perusahaan atas permintaan konfirmasi bursa. Selain itu, investor juga diminta untuk mencermati kinerja Multipolar serta keterbukaan informasinya. Sementara untuk manajemen Multipolar diminta untuk mengkaji kembali rencana aksi korporasinya jika belum mendapat persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Sementara dalam informasi mengenai exchangeable rights subcription agreement yang disampaikan perusahaan, MLPL sebagai pemegang saham pengendali lebih memilih perusahaan ternama asal Singapura Temasek untuk menjadi mitranya melalui penjualan saham Matahari Putra Prima sebesar 26,1%. Hal tersebut dimaksudkan untuk pengembangan usaha dan termasuk penambahan gerai. Selain itu, kehadiran Temasek juga dinilai menjadi branck mark sebagai mitra yang berbobot. (lia)