BEI dan OJK Serius Pangkas Lot Saham

Senin, 11/02/2013

NERACA

Jakarta- Rencana realisasi perubahan lot saham dari 500 lembar menjadi 100 lembar saham pada tahun ini mendorong pihak otoritas untuk serius mematangkan rencana tersebut. “Kami terus melakukan koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Paling cepat awal semester kedua 2013,”kata Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Ito Warsito di Jakarta kemarin.

Menurutnya, untuk merealisasikan hal tersebut butuh kesiapan seluruh sistem, baik di pasar modal sendiri, maupun perusahaan efek anggota bursa. Pasalnya, perubahan lot saham dari 500 menjadi 100 bukan hanya persiapan sistem di BEI tetapi juga di KPEI, KSEI, broker dan sistem bank kustodian.

Dengan adanya perubahan lot saham, lanjut dia, diharapkan dapat meningkatkan jumlah investor di pasar modal. Seperti sebelumnya dicontohkan, sebuah saham yang memiliki harga Rp10 ribu misalnya, biasanya investor harus merogoh kocek Rp5 juta untuk satu lot. Nantinya, dengan adanya pengurangan lot, hanya akan menjadi Rp1 juta.

Karena itu, hal ini dinilai dapat meningkatkan transaksi harian saham. Adapun jumlah sub account yang terdaftar di PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada Januari 2013, mencapai 363.566, dibandingkan Januari 2012 sekitar 365.321 rekening.

Sementara Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen pernah mengatakan, pengurangan jumlah saham dalam satuan lot merupakan salah satu upaya untuk mempermudah investor membangun portofolio. Indonesia memiliki jumlah penduduk lebih dari 200 juta dan luas wilayah yang besar, sehingga diharapkan dengan pengurangan jumlah saham itu dapat mendorong partispasi investor ritel lebih banyak.

Namun, tidak dipungkiri, menurut Hoesen, untuk merealisasikan pengurangan jumlah saham dalam satuan lot tidak mudah, yaitu butuh kesiapan infrastruktur, terutama sistem pada information technology (IT) di BEI dan perusahaan efek.

Selain itu juga harus dilakukan sosialisasi secara menyeluruh kepada para pelaku pasar. Kepala Eksekutif OJK untuk Pasar Modal, Nurhaida mengatakan, saat ini pengurangan lot saham dari 500 lembar saham menjadi 100 lembar masih tengah didiskusikan. Meskipun sejauh ini hal tersebut menuai kontroversi. “Ini masih dalam pembahasan.” ujarnya.

Salah satu kontroversi yang muncul, yaitu pelaku pasar menilai harga saham murah di pasar modal sudah sangat banyak sehingga tidak perlu dilakukan pengurangan jumlah lot saham. “Likuiditas saham tidak perlu menurunkan lotnya, lebih baik di stock split saja,”kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Pardomuan Sihombing.

Penguatan basis investor serta memperbanyak emiten, menurut Pardomuan, dianggap lebih mumpuni untuk menaikkan likuiditas saham. Dia mencontohkan stock split yang dilakukan PT Astra Internasional Tbk (ASII) pada harga Rp 6.800 per lembar saham dari harga sebelumnya Rp 60.000 per lembar saham menjadi salah satu acuannya.”Sekarang semua orang bisa memiliki saham Astra karena sudah murah. Kalau jumlah lot dikurangi, bagaimana dengan harga saham yang kecil-kecil di level Rp 50,” tuturnya. (lia)