Kemendag Tegaskan Tak Ada Impor Gula Konsumsi

Senin, 11/02/2013

NERACA

Jakarta - Produksi untuk kebutuhan gula konsumsi dalam negeri diproyeksikan mengalami peningkatan yang cukup signifikan.Oleh karena itu Pemerintah tidak akan mengimpor gula.Pasalnya ,produksi gula konsumsi di tahun ini mencapai 1,36 juta ton. Kementerian Perdagangan memprediksi total produksi gula konsumsi tahun 2013 mencapai 3,8 juta ton. Sedangkan konsumsi hanya pada kisaran 2,4 juta ton.Dengan angka ini Kementerian Perdagangan mengatakan tidak perlu lakukan impor untuk gula konsumsi tahun 2013.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi mengungkapkan kita tidak akan mengimpor dari gula tahun 2013 tetapi untuk daerah-daerah di pedalaman dan perbatasan yang selama ini pasokan kurang dan harga mahal perusahaan swasta untuk menambahkan fasilitas untuk melakukan operasi di daerah tersebut.

Lebih lanjut lagi Bachrul menerangkan khusus untuk gula rafinasi, kuota impor tahun 2013 adalah sebanyak 2,265 juta ton. Ia mendorong untuk melakukan hulurisasi dengan membuka lahan tebu. Selain itu dalam waktu dekat, Kementerian Perdagangan akan mengeluarkan HPP terbaru soal harga gula. "Kita dorong adanya hulurisasi dan kami akan segera realisasikan ini. Gula akan keluar HPP baru sebelum masa giling, dengan konsep baru dan ada randomisasi artinya tadinya domainnya industri jadi hasil karya petaninya. Kita akan coba terus perdalam," jelas Bachrul di kantornya,akhir pekan lalu.

Sementara itu,PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X menargetkan produksi gula pada 2013 mencapai 538 ribu ton naik dari estimasi hasil produksi gula pada 2012 sebesar 494 ribu ton. Target ini seiring beberapa rencana aksi korporasi tahun depan, yakni perluasan lahan area tanam tebu dan optimalisasi kapasitas terpasang mesin produksi pada 11 pabrik gula di bawah naungan PTPN X. Untuk menyokong target tersebut, PTPN X mempersiapkan belanja modal sebesar Rp 960 miliar.

Direktur Utama PTPN X, Subiyono, mengatakan target itu untuk menjaga tradisi PTPN X terkait realisasi produksi gula nasional. Mengingat, produksi gula sebesar 494 ribu ton tahun 2012, adalah terbesar ketimbang produksi gula PTPN lainnya. Subiyono melanjutkan, realisasi produksi tersebut menyumbang sekitar 20 persen dari total produksi gula nasional yang mencapai 2,56 juta ton gula konsumsi.

Perluas Lahan

Pada 2013, pihaknya akan memperluas area tanam tebu hingga 76 ribu hektare dari 72 ribu hektare tahun 2012. Rinciannya, 1.000 hektare di Pulau Madura dan 3.000 hektare tersebar di Lamongan, Tuban dan Bojonegoro. "Semua lahan tebu rakyat, saya optimis target 538 ribu ton gula tahun 2013 tercapai," kata Subiyono.

Subiyono menilai untuk mencapai swasembada gula, tak perlu menunggu hingga 2014. Bahkan wacana membangun pabrik gula di luar Jawa, bukan keputusan bijak mendongkrak produksi gula nasional. Sebab 62 pabrik gula yang terdiri dari 51 pabrik milik BUMN dan 11 pabrik milik swasta, memiliki kapasitas cukup untuk mewujudkan swasembada gula sebesar 3,1 juta ton.

Dengan asumsi rendemen 9 persen dan hari giling 160 hari di 62 pabrik, Subiyono yakin produksi gula nasional mencapai 3.136.000 ton gula. "Kita hanya butuh menyejahterakan petani tebu. Kalau hasil tanam tebu enggak menarik lagi, petani akan beralih ke komoditas lain," imbuhnya.

Ia melihat, kesejahteraan petani tebu harus sejalan dengan kenaikan harga gula. Disinggung rencana aksi koalisi 3 PTPN, yakni IX, XI dan XII yang berencana mendirikan PG Glenmore Banyuwangi senilai Rp 2 triliun , ia enggan berkomentar. "Saya enggak bisa jawab tentang hal itu," ujarnya.

Di tempat yang sama, Sekretaris Perusahaan PTPN X, M. Cholidi menambahkan, rencana aksi korporasi tersebut akan mendongkrak jumlah giling tebu hingga 6.449.000 ton dari 6.072.000 ton di tahun 2012. Pihaknya juga akan memaksimalkan kapasitas giling sebesar 42 ribu ton ceen day (TCD) pada 11 PG. Dari kapasitas tersebut, PTPN X hanya mampu sebesar 37 ribu TCD.

Ia yakin, target produksi gula tahun depan akan terealisasi. Sekedar informasi,kebutuhan gula untuk konsumsi rumah tangga saja mencapai sekitar 2,97 juta ton Gula Kristal Putih (GKP) per tahun, atau sekitar 250 ton per bulan. Detilnya, konsumsi gula kristal putih (GKP) masyarakat Indonesia itu adalah 12 kg/perkapita/tahun.

Jumlah ini pun sangat dimungkinkan mengalami kenaikan pada beberapa moment tertentu, seperti pada hari-hari besar keagamaan. Sebab, pada saat-saat itu konsumsi pasti meningkat. Nah, dalam situasi inilah kadangkala lonjakan harga terjadi secara tiba-tiba. Dan biasanya, hal itu disebabkan pasokannya yang tersendat sebagai akibat dari kondisi persediaan gula nasional yang belum kondusif; tidak seimbang antara kapasitas produksi dalam negeri dengan realitas angka konsumsi yang terjadi.

Selain itu, ke tidak seimbangan antara kebutuhan gula dengan jumlah produksi ini pula yang kemudian menjadikan kita harus mengimpor gula, baik untuk gula kristal mentah (raw sugar) maupun gula industri (refined sugar). Namun, lagi-lagi kebijakan impor pun kadang tak bisa menjamin ketersediaan stok secara tepat waktu. Sampai saat ini, produksi gula nasional sendiri masih jauh dari memadai untuk memenuhi kebutuhan riil tadi.

Kemampuan produksi Indonesia hanya 2,1 juta ton GKP per tahun, alias masih belum bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri yang hampir berada di angka 3 juta ton/tahun. Mari kita hitung. Bila jumlah produksi gula kristal putih (GKP) kita adalah 2,1 ton/tahun seperti data tadi, lalu kita bagi 200 juta penduduk indonesia yang mengkonsumsi gula, maka jumlah itu hanya bisa memenuhi 60% dari jumlah konsumen tersebut. Dan itu, artinya jumlah produksi tersebut sama halnya hanya bisa untuk memenuhi konsumsi masyarakat Pulau Jawa saja. Pasalnya, mayoritas pabrik gula yang ada adalah berdomisili di Pulau Jawa. Bahkan, ada sejumlah daerah yang sulit mendapatkan distribusi gula dari Jawa, seperti Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Aceh, dan Riau.