Awal Pekan, Tekanan Indeks Belum Berakhir

NERACA

Jakarta – Transaksi perdagangan saham Jum’at akhir pekan kemarin, terkoreksi 11 poin menyusul aksi ambil untung yang dilakukan investor asing. Posisi indeks yang sudah naik tinggi dimanfaatkan untuk profit taking. Alhasil, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 11,881 poin (0,26%) ke level 4.491,267. Sementara indeks LQ4 melemah 1,549 poin (0,20%) ke level 768,845.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di posisi Rp 9.660 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan kemarin di Rp 9.700 per dolar AS.

Analis Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, pelemahan indeks BEI selain aksi ambil untung juga bursa AS yang masuk area negatif, “Bursa AS yang cenderung bergerak berada dalam area negatif mendorong sebagian pelaku pasar domestik mengambil posisi jual,”katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Dia menambahkan, sentimen dari Eropa terkait prospek negara-negara di kawasan itu juga masih dinilai negatif beberapa pelaku pasar domestik. Sementara analis e-Trading Securities menambahkan, secara teknikal IHSG BEI pada akhir pekan bergerak dalam area negatif.

Perdagangan berikutnya, indeks BEI Senin awal pekan diperkirakan masih akan mengalami koreksi, “Diproyeksikan kisaran indeks BEI bergerak di level 4.380-4.550 poin,"ujarnya.

Meski IHSG BEI melemah, dia mengatakan, pelaku pasar asing masih melakukan beli bersih di pasar reguler sebesar Rp330,58 miliar dengan saham yang paling banyak dibeli Astra International (ASII), Semen Gresik (SMGR), Bank Mandiri (BMRI), Indofod Sukses Makmur (INDF), dan Bank Danamon (BDMN).

Tercatat delapan sektor lain yang terkena koreksi menyeret indeks jadi negatif. Investor asing yang sebelumnya mengoleksi saham kini mulai melepas untuk ambil untung. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 150.102 kali pada volume 8,503 miliar lembar saham senilai Rp 6,752 triliun. Sebanyak 87 saham naik, sisanya 151 saham turun, dan 108 saham stagnan.

Volume dan nilai transaksi penjualan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di pasar negosiasi senilai Rp 1,6 triliun. Transaksi ini difasilitasi broker Credit Suisse (CS) dan Macquarie Capital (RX). Bursa-bursa Asia menutup perdagangan akhir pekan di teritori positif berkat aksi beli yang dilakukan investor setempat. Sayangnya, bursa saham Jepang harus puas terjebak di zona merah menyusul naiknya nilai tukar yen terhadap dolar.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 1.300 ke Rp 66.000, Lionmesh (LMSH) naik Rp 1.000 ke Rp 13.000, Sarana Menara (TOWR) naik Rp 950 ke Rp 26.550, dan Century Textile (CNTX) naik Rp 450 ke Rp 6.000.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 500 ke Rp 49.900, Multi Prima (LPIN) turun Rp 350 ke Rp 5.900, Unilever (UNVR) turun Rp 300 ke Rp 22.000, dan Elang Mahkota (EMTK) turun Rp 250 ke Rp 4.050.

Koreksi indeks BEI juga terjadi pada perdagangan sesi I, dimana IHSG ditutup menipis 3,692 poin (0,08%) ke level 4.499,456. Sementara Indeks LQ45 naik tipis 0,186 poin (0,02%) ke level 770,580.

Hanya tiga indeks sektoral yang berhasil bertahan di zona hijau, sementara tujuh sisanya jatuh ke zona merah. Koreksi paling dalam terjadi di saham-saham konsumer. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 84.307 kali pada volume 6,367 miliar lembar saham senilai Rp 4,205 triliun. Sebanyak 80 saham naik, sisanya 126 saham turun, dan 105 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 1.250 ke Rp 65.950, Lionmesh (LMSH) naik Rp 1.000 ke Rp 13.000, Sarana Menara (TOWR) naik Rp 900 ke Rp 26.500, dan Century Textile (CNTX) naik Rp 450 ke Rp 6.000.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Multi Prima (LPIN) turun Rp 350 ke Rp 5.900, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 250 ke Rp 50.150, Tower Bersama (TBIG) turun Rp 200 ke Rp 5.250, dan Elang Mahkota (EMTK) turun Rp 200 ke Rp 4.100.

Sebaliknya, diawal perdagangan indeks BEI dibuka menguat sebesar 13,56 poin atau 0,30% ke posisi 4.516,70. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 3,39 poin (0,44%) ke level 773,78.

Kata analis Sinarmas Sekuritas Christandi Rheza, perdagangan Jum’at akhir pekan, secara teknikal indeks BEI bergerak menguat di kisaran 4.493-4.525 poin. Namun, lanjut dia, IHSG BEI diperkirakan bergerak "mixed" seiring dengan ketidakpastian kondisi politik di Spanyol dan Italia, dan mencuatnya krisis perbankan di Italia.

Selain itu, dia menambahkan, data klaim pengangguran dari AS juga sempat diperkirakan memberikan sentimen tambahan terhadap pergerakan indeks BEI. Bursa regional diantaranya indeks Hang Seng diakhir pekan, dibuka melemah 6,41 poin (0,03%) ke level 23.170,59, indeks Nikkei-225 turun 171,71 poin (1,51%) ke level 11.185,36, dan Straits Times melemah 1,22 poin (0,04%) ke level 3.260,55. (bani)

Related posts