Penjualan Produk Kosmetik Impor Naik 30%

NERACA

Jakarta – Meningkatnya permintaan dan kurang mampunya produsen lokal memasok kosmetik menjadi alasan pertumbuhan penjualan kosmetik impor. Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia (Perkosmi) memperkirakan penjualan kosmetik impor akan naik 30%.

“Kenaikan penjualan produk impor yang lebih tinggi pada tahun ini disebabkan besarnya permintaan terhadap produk kosmetik bermerek asing. Besarnya permintaan mengikuti gaya hidup sebagian besar konsumen kosmetik di Indonesia yang cenderung menggunakan merek luar negeri karena adanya prestise yang berlebih,” kata Ketua Bidang Perdagangan Perkosmi, Wiyantono, di Jakarta, Kamis (7/2).

Pertumbuhan penjualan kosmetik impor, menurut Wiyantono, karena gencarnya upaya promosi yang dilakukan oleh agen penjual produk kosmetik impor. “Produk kosmetik impor masuk ke Indonesia umumnya melalui perusahaan berskala kecil serta multilevel marketing,” ujarnya.

Sedangkan Ketua Umum Perkosmi, Nuning S. Barwa, mengatakan peningkatan penjualan kosmetik impor pada tahun lalu dan tahun ini karena pemberlakuan perdagangan bebas antara negara-negara Asean. “Pemberlakuan harmonisasi tarif impor di negara-negara Asean sebagai dampak perdagangan bebas, mengakibatkan prosedur impor menjadi lebih mudah,” paparnya.

Nuning menambahkan, peningkatan penjualan kosmetik impor karena para eksportir kosmetik melihat Indonesia sebagai salah satu pasar yang cukup potensial. “Indonesia merupakan salah satu pasar yang besar bagi produk kosmetik dan pasar di Eropa maupun Amerika Serikat terjadi penurunan permintaan karena dampak krisis ekonomi,” katanya.

Sebelumnya, Nuning juga mengatakan bahwa omzet kosmetika nasional pada tahun ini diproyeksikan mencapai Rp11,2 triliun. Jumlah itu naik sekira 10-15% dibandingkan omzet tahun ini yang diproyeksikan mencapai Rp9,76 triliun. Menurut dia, jumlah konsumen kelas menengah di Indonesia semakin meningkat sehingga daya belinya juga semakin menguat. Selain perempuan, lanjutnya, saat ini pria juga banyak yang membeli produk kosmetika dan produk perawatan kulit.“Perkembangan pasar lokal cukup bagus. Dulu, pria tidak tertarik membeli produk perawatan kulit yang maskulin, tapi sekarang ketertarikan mereka tinggi,” kata Nuning.

Menurutnya, peluang pasar kosmetika di Indonesia sangat besar, sehingga semakin banyak produk impor yang masuk ke pasar domestik. Karena itu, kata dia, para produsen kosmetika nasional harus bisa memenuhi kebutuhan konsumen yang akan terus meningkat. Banjirnya produk kosmetika impor di pasar domestik, kata dia, bisa terjadi setelah adanya harmonisasi ASEAN. Jadi, setiap produsen kosmetika yang akan memasarkan produk harus menotifikasikan produknya terlebih dahulu kepada pemerintah di negara ASEAN tempat produk itu akan dipasarkan.

“Harmonisasi ASEAN mengakibatkan prosedur menjadi lebih mudah jadi banyak impor yang masuk. Produsen kosmetika luar negeri itu melihat Indonesia sebagai pasar yang potensial mengingat kondisi perekonomian di Eropa dan Amerika Serikat saat ini sedang lemah,” jelas dia.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, nilai ekspor kosmetika Indonesia pada 2010 adalah USD700 juta dan Rp3 triliun di tahun 2011. “Produsen global akhirnya bangun pabrik di sini, seperti Loreal,” ucapnya. Nuning menambahkan, saat ini yang masih menjadi tantangan di industri kosmetika nasional adalah inovasi. Para produsen kosmetika nasional saat ini masih belum bisa mengembangkan produknya. Dia berharap, semakin banyak produsen bahan baku kosmetika yang hadir di dalam negeri. Pasalnya saat ini bahan baku kosmetika masih didominasi oleh impor.

Ajak Pengusaha

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamukti mengajak para pelaku bisnis di Indonesia membuka usaha bahan baku kosmetik. “Saat ini kebutuhan barang konsumsi bagi industri kosmetik sudah sangat tinggi," ujar Bayu.

Menurut dia, kesulitan yang dihadapi industri kosmetik saat ini adalah memperoleh bahan baku lokal. Bayu mengatakan, kebutuhan bahan baku untuk industri kosmetik cukup besar. Sementara, perusahaan masih menggunakan bahan baku impor. “Seperti perusahaan Loreal, di mana bahan bakunya hanya 50% dari lokal, dan selebihnya impor. Namun, perusahaan sudah menargetkan untuk kebutuhan bahan baku lokal dapat mencapai 75%,” katanya.

Sampai dengan September 2012, kata dia, pertumbuhan impor barang konsumsi hanya 0,6% dibandingkan tahun 2011 yang berada pada kisaran 20%. Menurut dia, hal itu mengindikasikan bahwa substitusi impor untuk barang konsumsi sudah mulai terjadi pada kebutuhan produksi dalam negeri. “Porsi bahan baku di Indonesia sangat besar. Makanya, harus ada siasat ke depannya, bagaimana memenuhi kebutuhan bahan baku lokal, dengan harapan para pelaku usaha bisa mengisi bisnis tersebut,” ujarnya.

Bayu menambahkan, perlu ada upaya meningkatkan peran industri kosmetik agar dapat mengendalikan barang impor dan menambah bahan baku lokal. Sementara, jangkauan produksi Loreal mencakup kebutuhan domestik mencapai 30% dan 70% ke Asia. Perusahaan yang berdiri di lahan seluas 660 meter persegi dibangun dengan investasi sebesar Rp1,25 triliun. Pertumbuhan usaha rata-rata 30% di Indonesia mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 800 orang.

Related posts