WIKA Selesaikan Proyek Antam US$102 Juta

Jumat, 08/02/2013

NERACA

Jakarta- Masifnya pembangunan infrastruktur oleh pihak pemerintah maupun swasta menjadi berkah bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor tersebut. Sebut saja PT Wijaya Karya (Tbk), kembali akan mengerjakan proyek senilai US$102 juta milik PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). “Ini akan dikerjakan oleh konsorsium unincorporated Kawasaki Heavy Industries, Ltd. dan WIKA.” kata Sekretaris Perusahaan ANTM, Tedy Badrujuman di Jakarta, Kamis (7/2).

Dijelaskan Tedy, proyek ini merupakan perluasan pabrik feronikel (P2F) Pomalaa. Dengan dilaksanakannya pembangunan proyek tersebut, Antam akan menghentikan operasi furnace-1 yang berada di pabrik FeNi I. Operasi furnace-1 tercatat memiliki kapasitas 17MW dan akan digantikan oleh operasi furnace-4 yang memiliki kapasitas 38MW.

Pengoperasian furnace-4 juga termasuk pengoperasian line-4 yang mencakup fasilitas ore preparation and calcination seperti rotary dryer dengan kapasitas 260 ton per jam dan rotary kiln dengan kapasitas 90 ton per jam. Proyek perluasan pabrik feronikel (P2F) Pomalaa, atau proyek modernisasi dan optimasi pabrik feronikel Pomalaa(MOP-PP), bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas pabrik feronikel secara keseluruhan.

Proyek ini terdiri dari delapan paket pekerjaan yaitu Paket I: Jetty & Facilities, Paket II: Belt Conveyors, Paket III: FeNi Plant-1, Paket IV: Ladle Furnace, Paket V: Ore Preparation & Calcination, Paket VI: Electric Smelting Furnace, Paket VII: Oxygen Plant dan Paket VIII: pembangunan PLTU batubara berkapasitas 2 x 30MW. Pihak perusahaan berharap, proyek tersebut akan dapat diselesaikan pada 27 bulan ke depan.

Target Kinerja

Sekretaris Perusahaan PT Wijaya Karya Tbk Natal Argawan Pardede pernah mengatakan, pada tahun 2013, perseroan menargetkan dapat mencatatkan pertumbuhan kinerja sebesar 20%. Hal tersebut didukung adanya beberapa kontrak yang dikantongi perseroan. Disebutkan, kontrak baru perseroan yang cukup besar berasal dari proyek minyak dan gas dari swasta, proyek pembangkit listrik, jembatan dan bendungan.

Komposisi perolehan kontrak baru tersebut, lanjut dia sebesar 20% berasal dari proyek pemerintah, 30% dari proyek BUMN, dan sisanya disumbang dari swasta. Dalam kinerja perusahaan ke depan, perusahaan mengharapkan pertambahan proyek dari pemerintah dan BUMN sehingga mencapai 60% dibandingkan saat ini, sedang selebihnya dikontribusikan oleh swasta.

Sebelumnya perseroan telah menggarap proyek pembangkit listrik antara lain PLTA Bali sebesar 50 MW, Ambon 25 MW, Rengat 20 MW, dan Borang 30 MW. Selain itu, perseroan telah memperoleh kontrak pembangunan jalan Oksibil Dekay senilai Rp206,68 miliar, proyek Betano di Timor Leste senilai Rp93,81 miliar, proyek precast concrete piperack senilai Rp81,72 miliar, dan proyek pembangunan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia senilai Rp36,53 miliar pada Oktober 2012.

Tumbuh Positif

Analis saham, Lucky Bayu Purnomo mengatakan, kinerja WIKA akan tumbuh secara positif dengan adanya rencana pembangunan dan penambahan infrastruktur di tahun 2013. Ini akan menjadi katalis bagi pergerakan saham-saham yang bergerak di sektor infrastruktur seperti WIKA yang notabene fokus pada bisnis tersebut. Oleh karena itu, dia menilai saat ini momen yang tepat untuk mengoleksi saham tersebut. Meskipun harga WIKA saat ini dinilai mahal, dengan adanya sentimen positif tersebut menjadi peluang bagi WIKA untuk mencapai harga tertingginya. “Rekomendasi buy untuk WIKA.” ujarnya. (lia)