Bank Sentral Tegaskan Larang NDF

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengingatkan perbankan nasional untuk tidak melakukan transaksi Non Deliverable Forward (NDF) untuk transaksi valuta asing (valas) karena tidak memiliki underlying asset. “Intinya kita kirim surat, dan menegaskan PBI nomor 10/37 tahun 2008 tentang pasal 4 ayat 1 dan 2 bahwa transaksi valas terhadap rupiah harus ada underlying dan settlement full month. Tegas, tidak boleh ada NDF,” ujar Direktur Grup Hubungan Masyarakat BI, Difi Ahmad Johansyah di Jakarta, Rabu (6/2).

Bank sentral, kata Difi, akan mengarahkan perbankan untuk melakukan penetapan nilai kurs, baik dolar AS maupun rupiah di pasar dalam negeri. Sehingga pasar valas di dalam negeri bisa semakin menggeliat. “BI akan mengarahkan bank-bank untuk membuat quotation forward onshore. Tujuannya agar pasar forward onshore lebih hidup karena ada bahayanya tanpa underlying,” terangnya.

Sementara terkait kegiatan spekulasi di pasar NDF Singapura, Difi bilang BI masih mengkaji dan belum menemukan praktik perbankan nasional yang turut serta dalam aktivitas tersebut. Sebelumnya, Deputi Gubernur BI, Halim Alamsyah telah menegaskan, bahwa sesuai aturan BI perbankan dilarang melakukan, transaksi NDF sendiri bersifat spekulasi, karena tidak memiliki underlying.

Dia juga menjelaskan kalau kasus pelanggaran tersebut terjadi di luar negeri, khususnya di Singapura dan Malaysia. “Jadi NDF ini yang melakukan kuotasinya, yang memberikan harganya ada di Singapura, bukan di Indonesia, sehingga ini kewajiban pemerintah setempat untuk meneliti, apakah hal itu akan menyebabkan kerugian di sana atau tidak. Untuk ini, kita tahu dan sedang memantau kasus yang terjadi di Singapura, lalu kita juga tahu Malaysia sudah mengambil langkah-langkah (penyelesaiannya),” jelasnya.

NDF merupakan produk derivatif valas yang diperdagangkan secara off the counter dan bertempat di Singapura. NDF menawarkan lindung nilai (hedging) bagi investor yang memiliki eksposur mata uang lokal atau instrumen spekulatif bagi mereka untuk mengambil posisi off-shore atas mata uang lokal. [ardi]

BERITA TERKAIT

Tak Ikut Danai Akuisisi Saham Freeport, Kemana Peran Bank BUMN?

Oleh: Rezkiana Nisaputra Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara) sudah memastikan, bahwa empat bank pelat merah tidak akan ikut membiayai proses…

Laba Bank Jatim Tumbuh 5,01%

      NERACA   Jakarta - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) mencatatkan laba bersih mengalami…

Bank Mandiri Kantungi Laba Rp 12,2 Triliun

NERACA Jakarta – Semester pertama 2018, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan laba bersih Rp 12,2 triliun. Angka ini…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Tahan Suku Bunga Acuan 5,25%

      NERACA   Jakarta - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 18-19 Juli 2018 memutuskan untuk…

Kredit BTN Tumbuh 19,14%

      NERACA   Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mencatatkan peningkatan penyaluran kredit sebesar 19,14% secara…

Laba Bank Jatim Tumbuh 5,01%

      NERACA   Jakarta - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) mencatatkan laba bersih mengalami…