PLN Ingin Rasio Elektrifikasi Bisa Naik 3%

Kamis, 07/02/2013

NERACA

Jakarta – Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN) Nur Pamudji dengan target pertumbuhan listrik di 2013 yang mencapai 10% akan ditopang dengan target rasio elektrifikasi yang ditargetkan oleh PLN sebesar 77-78%. Sedangkan rasio elektrifikasi pada 2012 telah tercapai sebesar 74%. “Dari rasio elektrifikasi tahun lalu telah tercapai sebesar 74%, tahun depan kita harapkan bisa naik 2-3%, katakanlah menjadi 78% target kita. Target ini dicapai melalui perkiraan 2,5 - 3 juta sambungan listrik baru pada 2013,” ucap Nur Pamudji di Jakarta, Rabu (6/2).

Peningkatan rasio elektrifikasi di daerah pedesaan pun akan ditingkatkan. Untuk itu, anggaran sektor kelistrikan dalam Daftar Isian Pagu Anggaran (DIPA) 2013 sebesar Rp10,1 triliun sekitar Rp2,5 triliun diantaranya akan dipakai untuk mengembangkan jaringan kelistrikan ke pedesaan. “Untuk membangun jaringan distribusi ke desa yang belum terjangkau listrik dan (memperluas) jaringan transmisi listrik itu kira-kira butuh Rp2,5 triliun. Fokusnya di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Sumatera, Nusa Tenggara. Ada juga beberapa wilayah di Pulau Jawa misalnya di daerah Banten Selatan,” kata Nur.

Namun demikian, untuk menjadikan rasio elektrifikasi mencapai 100% maka diperlukan dana sekitar US$90 miliar. PLN juga menargetkan rasio elektrifikasi bisa mencapai 100% pada 2020. Direktur Keuangan PLN Setio Anggoro Dewo mengatakan PLN memiliki target untuk mencapai rasio elektrifikasi 100% pada 2020. Untuk mengejar rasio elektrifikasi tersebut, setidaknya PLN harus menghasilkan pasokan listrik sekitar 5.000 MW setiap tahunnya. “Dari 2010 hingga 2020 PLN harus bisa investasi pembangkit listrik sekitar 5.000 MW setiap tahunnya. Selama 10 tahun tersebut setidaknya investasinya sekitar US$ 90 miliar,” kata Dewo.

Menurutnya, nilai tersebut melalui perhitungan, misalnya membangun pembangkit listrik membutuhkan investasi US$1,5 juta per MW. Berdasarkan hitungan PLN, PLN membutuhkan investasi hingga US$90 miliar agar seluruh pelosok Indonesia bisa merasakan listrik.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Jarman mengatakan setiap tahun, Indonesia membutuhkan investasi sekitar US$9,6 miliar untuk memenuhi kebutuhan lisrik rata-rata sebesar 5.000 megawatt (MW). Investasi untuk listrik sangat dibutuhkan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,5%.

Jarman mengatakan, sampai 2020 Indonesia harus menambah kapasitas listrik sebesar 5.000 MW setiap tahunnya. Adapun dana sebesar US$ 9,6 miliar tersebut digunakan untuk pembangkit listrik dan transmisi. Untuk bisa mencapai target 5.000 MW setiap tahunnya dibutuhkan investasi juga dari swasta.

Pembagian investasi tersebut sebanyak 60 % untuk investasi pembangkit dan 40 % untuk transmisi. Tahun ini, kata Jarman, ditargetkan ada tambahan kapasitas listrik sebesar 5.500 MW. Jumlah tersebut berasal dari FTP tahap I PLN sebesar 2.000 MW sementara Independent Power Plant (IPP/Proyek lpembangkit listrik swasta) sebesar 2.500 MW.

Sementara itu, total utang PLN per Juni 2012 ini mencapai Rp 200 triliun. Utang PLN dua terbesar berasal dari obligasi sebesar Rp 56 triliun dan pinjaman bank yang terkait program percepatan pembangunan 10.000 Mw sebesar Rp 50,6 triliun. “Utang PLN sudah lebih dari Rp 100 triliun dari yang seharusnya. Total hutang untuk program percepatan 10.000 MW tahap I saja sekitar Rp 80 triliun,” jelas Nur.

Pelanggan Baru

Infrastruktur menjadi salah satu kebutuhan utama dalam pengembangan ekonomi baik di pusat maupun di daerah. Untuk di daerah, kebutuhan listrik menjadi syarat utama bisa menopang pertumbuhan ekonomi daerah. Untuk itu, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memita para kepala daerah bisa meningkatkan pembangunan infrastruktur di daerahnya masing-masing. Pasalnya dengan pembangunan infrastruktur di daerah maka PLN berpotensi mempunyai 19 juta pelanggan baru.

"Hingga kini, ada 3 juta pelanggan baru PLN untuk sektor rumah tangga sehingga total pelanggan rumah tangga mencapai 50 juta pelanggan. Namun kalau didukung dengan infrastruktur yang memadai khususnya di daerah maka PLN berpotensi akan mendapatkan 19 juta pelanggan baru," ungkap Nur.

Ia menjelaskan penambahan jaringan listrik di pedasaan harus didukung dengan sarana penunjang lainnya seperi tiang listrik yang tidak boleh dekat dengan pepohonan, membuat jalan sampai ke desa-desa terpencil dan tentunya semua pembangunan tersebut harus melibatkan kepala daerah setempat sehingga mendapat dukungan untuk segera direalisasikan.

PLN, lanjut Pamudji, akan melakukan penambahan listrik di pedesaan, sehingga harus mengupayakan penyediaan energi yang cukup serta penyaluran energi yang lebih baik dan lebih luas untuk mengatasi persoalan akses terhadap energi listrik. "Kami akan membangun transmisi di luar Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua untuk merealisasikan penambahan listrik di pedesaan," ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan Pamudji, rasio elektrifikasi nasional pada 2012 diperkirakan mencapai 74%. Sementara pada tahun ini, ditargetkan meningkat sekitar 2-3% menjadi 78%. Data PLN menunjukkan, di awal 2012, hanya 72,03% dari total penduduk Indonesia yang menikmati listrik. Rasio elektrifikasi adalah ukuran tingkat ketersediaan listrik di suatu daerah. Rasio ini juga merupakan hitungan untuk mengetahui jumlah penduduk Indonesia yang telah memperoleh akses listrik.