Harga Komoditas Ancam Perkembangan Pasar Saham 2013

NERACA

Jakarta- Belum pulihnya sektor komoditas dinilai akan menjadi berpengaruh terhadap perkembangan pasar modal Indonesia, baik terkait pelaksanaan Penawaran Saham Umum Perdana (Initial Public Offering/IPO) dan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). “Pasti akan berpengaruh terhadap perusahaan IPO.” ujar Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Rabu (6/2).

Hoesen mengatakan, selain berpengaruh terhadap pelaksanaan IPO, kondisi tersebut juga memiliki dampak terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), khususnya terkait industri dan perusahaan yang bergerak pada sektor tersebut. “Ada signifikansinya tetapi terkait industri dan perusahaan yang bergerak di sektor komoditas.” katanya.

Meskipun demikian, kontribusi sektor komoditas terhadap IHSG saat ini terbilang kecil sehingga hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan. Saat ini sektor utama yang menempati pasar berasal dari sektor perbankan dan konsumer yang mencatatkan nilai kapitalisasi pasar yang cukup besar. Bahkan pada bulan pertama 2013, mampu mengerek IHSG menembus level 4.500.

Selain itu, lanjut Hoesen, kondisi tersebut juga diimbangi dengan makro ekonomi Indonesia yang saat ini tercatat cukup baik. “Dari sisi ekonomi, kita termasuk dalam G20. Artinya, value ekonomi Indonesia besar, dan juga terhadap energi dunia meskipun komoditas melemah.” jelasnya.

Pertambangan

Kendati demikian, sektor yang paling anjlok akibat pelemahan harga komoditas, yaitu sektor pertambangan (coal). Hal tersebut dikarenakan pertambangan merupakan salah satu sektor yang ‘sensitif’ terhadap kondisi global.

Hoesen menambahkan, saat ini pihaknya belum mencatatkan perusahaan baru yang akan melaksanakan penawaran saham umum perdana (IPO). “Dari 11 perusahaan yang ada di pipeline, merupakan carry over tahun 2012, baru dua yang sudah mengkonfirmasikan.“ ujarnya.

Kesebelas emiten yang dalam proses tersebut, antara lain PT Bank Maspion, PT Siba Surya, PT Citra Borneo Indah, PT Indoprima Gemilang, PT Steel Pipe Industry Indonesia (Spindo), PT Dyandara Media International, PT Cipaganti Citra Graha, Trans Marine, dan PT Pelita Paper Cengkareng Paper.

Sementara analis saham, Lucky Bayu Purnomo pernah bilang, saat ini sektor mining, di antaranya tambang, batu bara, timah, emas, tambang minyak dan energi berada dalam posisi Downtrend. Proyeksinya, kondisi tersebut masih akan berlanjut hingga beberapa bulan ke depan. Karena itu, saat ini bukanlah saat yang tepat untuk mengoleksi saham-saham tersebut.

Meskipun demikian, bagi investor yang sudah masuk dapat membagi portofolionya sebagai langkah antisipasi. Selain itu, agar tidak terjadi kerugian yang lebih besar. "Sebaiknya sell 50 % dari jumlah portofolio, dan 50 % lagi digunakan untuk menunggu perbalikan arah." ujarnya.

Senada dengan Lucky, analis E-Treading Sekuritas Andrew Argado pun mengatakan, saat ini memang kondisi saham energi dan mining sedang mengalami perlambatan. Dikarenakan krisis ekonomi di Amerika dan Eropa masih belum terlalu pulih meskipun cenderung mengalami perbaikan.

“Krisis global di beberapa negara telah mengurangi produksi sektor manufaktur sehingga energi yang dikeluarkan pun mengalami penurunan. Maka dari itu berpengaruh terhadap harga saham sektor energi. Sementara untuk sektor minning seperti timah, nikel, ataupun baja akan pulih lebih lama dibanding sektor tersebut.” jelasnya.(lia)

BERITA TERKAIT

JELANG RAMADHAN HARGA TIKET PESAWAT MASIH MAHAL - Menhub Panggil Operator Maskapai Soal Tiket

Jakarta-Harga tiket pesawat mahal saat ini masih menjadi pembicaraan di kalangan masyarakat. Apalagi menjelang Ramadhan 2019, moda udara diprediksi masih…

BPKN: Segera Revisi UU Perlindungan Konsumen! - DINILAI TIDAK SESUAI PERKEMBANGAN ZAMAN

Jakarta-Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) mendesak pemerintah agar merevisi Undang-undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Karena UU tersebut…

Niaga Komoditas - Penyerapan Biodiesel Strategi Hadapi Diskriminasi Sawit Eropa

NERACA Jakarta – Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kanya Lakshmi Sidarta menilai penyerapan biodiesel di dalam negeri…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Realisasi Kontrak Baru ADHI Capai 8,57%

NERACA Jakarta – Per Maret 2019, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) merealisasikan kontrak baru senilai Rp3 triliun atau 8,57%…

Laba Bersih Sari Roti Tumbuh 123,23%

Di kuartal pertama tahun ini, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 64,85 miliar atau…

Multi Bintang Bagi Dividen Rp 1,23 Triliun

NERACA Jakarta – Meski perolehan laba sepanjang tahun 2018 kemarin tertekan, emiten minuman beralkohol PT Multi Bintang Indonesia Tbk tetap…