Daya Tarik Rumah di Atas Tanah Miring

Sabtu, 09/02/2013

Lahan miring juga banyak terdapat di bagian kota. Wilayah kota Depok, Bandung, dan Bogor, atau di Jakarta Selatan, misalnya, kontur tanahnya berbukit-bukit. Jadi sangat banyak rumah yang dibangun di lahan miring.

NERACA

Ketika membangun rumah tinggal, hampir semua orang menyukai lahan datar. Selain mudah, juga tak membutuhkan desain dan arsitektur yang rumit. Karenanya, jika terpaksa harus menempati lahan miring, sebagian orang memilih untuk menguruknya lebih dulu.

Padahal, lahan miring tersebut tak perlu diratakan agar menjadi datar. Sebaliknya, dengan tanah yang miring itu justru memacu kita untuk membentuk rumah yang memiliki daya tarik tinggi.

Bahkan, ada sejumlah keuntungan atau kelebihan, rumah di atas lahan miring dibandingkan dengan lahan datar. Antara lain, pertama, rumah akan terlihat unik, karena pasti berbeda dengan model rumah datar. Bahkan terkesan seperti bangunan vila.

Kedua, harga tanah yang miring, sudah barang tentu lebih murah dari lahan yang rata. Ketiga, rumah yang berdiri di atas lahan miring bisa dipastikan dibangun oleh orang yang memiliki jiwa muda dan ide yang lebih cemerlang, karena dituntut harus mampu memanfaatkan bidang-bidang yang terbatas agar berfungsi maksimal.

Keempat, jika rumah sudah jadi dan memiliki unsur seni dan rancang bangun yang bagus, pasti nilai investasinya tak kalah dengan rumah datar. Rumah di atas tanah miring jelas akan menciptakan struktur ruangan yang tidak biasa, artinya pasti terdapat model tangga, ruangan, garasi, taman, kusen yang berbeda dibanding rumah biasa.

Rumah miring dipastikan memiliki ruang-ruang yang berbeda ketinggiannya dan luasnya. Tata letak ruang-ruangnya tentu akan lebih dinamis, karena akan menyesuaikan keberadaan rumah. Artinya, rumah menghadap ke sisi bagian atas atau bawah bidang lahan. Kebanyakan rumah di atas lahan yang miring menganut model rumah modern minimalis. Sebab,konsep minimalis adalah bagaimana memaksimalkan seluruh fungsi lahan dan ruangan yang terbatas. Modern, karena biasanya menggunakan struktur bangunan dan bahan yang baik dan kuat.

Tanah Labil

Yang harus menjadi perhatian khusus adalah tentang keadaan lahan itu sendiri. Lahan miring biasanya cenderung labil. Karena itu diupayakan lebih dulu agar tanahnya padat, hingga tidak mudah longsor. Konstruksi pondasinya juga harus kokoh.

Ada jenis pohon yang cocok ditanam di lahan miring, seperti bambu dan mangga. Akar-akarnya yang kuat mampu menahan dan mengikat tanah hingga tak longsor.

Selain itu, sistem drainase bangunan itu juga harus dipikirkan dari awal. Jika tidak, akan mengakibatkan kebocoran di lantai bawah dan banjir. Jika tak memungkinkan menaikkan saluran air ke atas, bisa diakali dengan membuat sumur resapan yang secara rutin disedot dengan memanfaatkan mobil kuras tinja yang suka berkeliling keluar masuk komplek.

Tapi, biasanya, lahan miring itu memiliki saluran air yang justru baik, dan lancar.

Masalah penting lainnya adalah aspek penerangan, pencahayaan, dan sirkulasi udara. Diharapkan, semua ruangan yang ada memiliki pencahayaan yang cukup pada siang hari. Lampu-lampu selain untuk penerangan, juga dimanfaatkan sebagai hiasan yang menarik dan bahkan memberi kesan elegan.

Agar ruangan di bagian bawah atau tengah tak pengap karena kurang cahaya dan udara segar, disarankan dinding-dinding diganti dengan jendela kaca berukuran besar dan dibuat ventilasi sebanyak mungkin. Jendela tinggi besar juga akan memberi kesan luas bagi ruangan yang berukuran sempit. Untuk menghindari banyaknya nyamuk, tentu saja lobang ventilasi ditutup dengan kasa nyamuk.

Untuk atapnya, tentu dapat divariasi, antara dak beton dan atap genteng untuk yang paling atas. Atap di tiap lantai tentu akan memberi suasana teduh bagi lantai di bawahnya. Karena itu alangkah baiknya jika dibuat miring, selain meneduhi, juga melindungi lantai bawah dari limpasan air hujan dan sengatan sinar matahari. (saksono)