Swasembada Daging 2014 Mustahil Tercapai

Produktivitas Sapi Lokal Minim

Kamis, 07/02/2013

NERACA

Jakarta - Ketua Komite Daging Sapi Jakarta Raya Sarman Simanjorang berpendapat program pemerintah swasembada daging 2014 mustahil tercapai. Pasalnya kalau swasembada daging 2014 dipaksakan yang terjadi adalah nggak sampai setahun swasembada, sapi akan habis dipotong semua. Sementara pada 2015 Indonesia bakal tergantung impor, dan hal ini, menurut dia, lebih berbahaya lagi.

Lebih jauh lagi Sarman mencontohkan, Australia yang hanya memiliki 21 juta penduduk, memiliki stok sapi sebanyak 28 juta ekor. Sementara Selandia Baru yang penduduknya hanya berjumlah 6 juta orang saja, stok sapinya mencapai 14 juta ekor sapi. Sangat berbanding jauh dengan Indonesia yang memiliki jumlah penduduk sekitar 430 juta jiwa, stok sapinya hanya 14,8 juta saja. "Itu pun katanya," ujar Sarman di Jakarta, Rabu (6/2).

Menurut Sarman, komoditi sapi itu harus berkesinambungan agar siap untuk memenuhi kebutuhan pasar.Jadi sapi itu harus berkesinambungan, di Australia itu ketika mengirim 1 juta ke Indonesia, mereka siap untuk menggantikan yang 1 juta itu. "Sampai saat ini pasokan sapi kita dengan kebutuhan lokal dan industri itu nggak seimbang. Jangan salah loh, 5 komoditi Kementan itu tidak ada satu pun yang berhasil, beras, jagung, kedelai, gula, ini daging mau dipaksakan," terang Sarman.

Hal senada di ungkapkan oleh Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung (Unila) Bustanul Arifin. Dia mengungkapkan daging dan kedelai Indonesia ternyata masih ada yang impor. “Kalau beras dan jagung oke bisa swasembada, tapi jagung, gula dan daging, saya kira swasembada tidak akan pernah tercapai kalau kondisinya terus seperti ini. Apabila impor terus dibuka lebarnya,” kata Bustanul.

Menurutnya, permasalahan daging sapi yang stoknya semakin menipis, bukan dikarenakan konsumsi masyarakat yang meningkat, akan tetapi pemerintah mensensus sapi yang tidak siap untuk dipotong. “Sensusnya benar, tapi tidak semua sapi tersebut ready di potong, bisa saja itu investasi, buat kawinin anaknya,” tuturnya.

Seharusnya, kata Bustanul, metode sensus yang dilakukan pemerintah dengan mencatat stok sapi yang aktif sehingga perhitungan tersebut tidak salah dan tidak terjadi kelangkaan daging sapi. “Sensus harus dilakukan secara benar dan diperbanyak produksi dalam negeri, lahan diperbanyak dan untuk sapi diternak dengan baik agar gemuk serta menghasilkan bibit sapi yang banyak,” ujarnya.

Pilih Impor

Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Impor Daging Indonesia Thomas Sembiring menuturkan, swasembada sapi di 2014 tak bisa terjadi karena kita masih lebih pilih impor. “Kalau saya bilang itu mimpi,” tutur Thomas.

Thomas mengungkapkan, ada cara lain untuk membuat swasembada sapi selain dengan menyetop keran impor, yaitu dengan menaikkan harga daging setinggi-tingginya, sehingga permintaan terhadap daging pun akan berkurang karena konsumen tak mampu membeli daging sapi. “Logikanya begini, harga dinaikkan saja yang di Jawa Barat, orang-orang sudah nggak mau beli daging lagi kan, sehingga permintaan menurun. Jadi beralih ke komoditi lain,” papar Thomas.

Selain itu, Thomas mengatakan yang terjadi di lapangan saat ini harga daging sapi melonjak karena kekurangan pasokan. “Kalau mau tahu harga daging kenapa naik, langsung ke pedagang kenapa naik. Jawabannya pasokan, mereka pasti jujur,” katanya.

“Kalau bisa impornya dihapuskan, biar harga naik terus. Pak Menteri bilang petani sudah bisa tersenyum walaupun belum ketawa. Mau sampai harga berapa mereka ketawa, nanti konsumen yang menangis, jadi mau pro yang mana?” jelas Sarman.

Sementara itu, Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) mencatat, selama ini pemenuhan daging sapi secara nasional berjumlah 495.727 ton berasal dari pemotongan sapi lokal, sapi eks penggemukan, dan impor daging dan jerohan. Data ISPI juga menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir, ketersediaan daging sapi memang naik 48,9%. Namun produksi daging dari sapi lokal dan sapi dari industri penggemukan hanya naik berturut-turut 30,1% dan 58%, sementara impor daging dan jerohan melonjak drastis 111,8%.

Impor daging ini ternyata secara konsisten telah menggerus industri sapi domestik yang berarti menggoyahkan ekonomi dan bisnis peternakan sapi rakyat. Melihat fakta itu, pemerintah telah sejak 2009 lalu mencanangkan Program Swasembada Daging Sapi (PSDS) 2014, yang merupakan salah satu dari lima program swasembada yang ditargetkan pemerintah. Empat komoditi yang lain yakni beras, gula, jagung dan kacang kedelai.

Sejatinya, pencanangan program PSDS ini adalah penundaan yang ke-3 kalinya dari pemerintah. Target pertama adalah pada 2005 yang ternyata gagal tercapai, kemudian diundur pada 2010 -yang ternyata juga tidak tercapai sehingga target PSDS mundur lagi menjadi 2014. PSDS 2014 akan tercapai dengan salah satu indikasi utama yakni kebutuhan daging sapi nasional 90% dapat dipenuhi dari dalam negeri, dan hanya 10% saja yang harus impor.

Mimpi untuk berswasembada daging sapi ini merupakan keniscayaan. Hal ini karena pemerintah pernah sukses berswasembada daging sapi di era 1970-an yang kala itu bahkan menjadi negara pengekspor sapi. Pada 1972, misalnya, Indonesia mengapalkan 14 ribu sapi dan 14 ribu kerbau ke Singapura serta Hongkong.