Cepat Tanggap dalam Beraksi

Ibnu Khajar, Vice President Aksi Cepat Tanggap (ACT)

Sabtu, 09/02/2013

Keajaiban tidak akan muncul dari kondisi normal, maka orang hebat selalu muncul dari kondisi yang tidak normal, itu dia prinsip hidup seorang Vice President (VP Partnership) Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ibnu Khajar.

NERACA

Dilahirkan di Tegal, Jawa Tengah, anak ke Enam dari Sembilan bersaudara ini, adalah salah satu sosok yang sangat dibanggakan orang tua, prinsip hidup yang dia miliki membuat kariernya di dunia kerja terus melesat. Awal karier di 1997 ia sudah menjabat sebagai CDC (Community Development Consultant) program.

Pahitnya manisnya dunia kerja sudah dia cicipi di berbagai bidang pekerjaan, mulai dari dunia bisnis, sampai sekarang, ketika dia bekerja di lembaga Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang bergerak dibidang sosial.

Mulai masuk ACT pada 2011 yang menjabat menjadi Senior Manager Global Qurban ACT. “Awal masuk kerja saya pikir pekerjaan ini sangat santai berbeda dengan dunia kerja yang sebelumnya saya kerjakan masuk Jam Sembilan pulang Jam Lima, tetapi saya salah disini saya di tuntut untuk berkerja tanpa batas waktu,” tuturnya.

Menurutnya pekerjaan yang dilakoninya saat ini memang tidak kenal waktu, karena kapan saja ada laporan untuk bantuan kami langsung bergerak cepat untuk langsung mengarahkan karyawan kami untuk turun kelapangan.

“Penomena orang bekerja di sebuah perusahaaan sosial memang harus di tuntut totalitas, banyak orang yang tidak seriyus menjalankan pekerjaan ini banyak yang tidak sanggup untuk menjalan di bidang seperti ini,” tuturnya.

Sebagai kepala rumah tangga dari dua anaknya, dia tetap tidak melupakan tanggung jawab sebagai orang tua, dia menyempatkan untuk membagi waktu untuk anak dan istrinya. "Walaupun pekerjaan saya sangat tak kenal waktu," ungkapnya.

Menurut dia awal saya masuk kerja di ACT keluarga sempat protes karena kesibukan saya, tetapi saya memberikan penggarahan kepada istri dan anak saya bahwa pekerjaan yang dia jalani saat ini bukan sekedar bekerja tetapi membantu masyarakat yang sedang membutuhkan bantuan.

Bukan hanya bekerja di ACT, tetapi ia mempunyai usaha butik pakaian yang dikelola mertuanya. Istri sebelumnya suka di dunia mengajar sempat membuat sekolah PAUD di rumah dan mengembangkan Guru-guru, karena istri lulusan Sarjana Pendidikan sayang jika tidak memanfaatkan ilmu Sarjananya, ungkapnya.

Pengalaman dia di ACT adalah “kecepatan” misalkan seperti gempa di Aceh, setelah ditetapkan sebagai emergency, kami langsung metting dengan tim kami dan langsung berangkat ke Aceh.

Kini Ibnu Hajar tengah mengejar S2 Program Master di Binus University Jakarta. Menurutnya semua manajemen ACT melakukan proses untuk setiap personil menyumbangkan gagasan, menciptakan program, sampai mengawal proses implementasi agar memberikan manfaat optimal kepada pemetik manfaat beneficiaries.

Kami sadar kerja besar ini tidak bisa dilakukan sendiri, perlu mitra untuk sinergi agar kerja besar ini dapat melibatkan banyak partisipasi dari banyak pihak. Corporate adalah pihak yang paling tepat untuk turut berkontribusi. Saat ini kita sudah bekerja sama dengan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan beberapa perusahaan.

Harapan dia untuk kedepannya di ACT untuk lima tahun kedepan inggin go global, dan saya ingin memastikan relawan MRI di lembagakan, agar masyarakat mudah untuk menghubungi para relawan yang dibutuhkan masyarakat. "Secara prinsip untuk karier dia kedepannya, saya belum bisa untuk mendirikan usaha sendiri, saya hanya menggikuti perkembangan ACT, karena pendidikan saya bergerak di bidang marketting," ungkapnya. (sahlan)