Saham Energi Ditengarai Jeblok Akibat Sentimen Global - SAATNYA PERLU ADA AKSI KORPORASI

Jakarta –Proyeksi penurunan harga komoditas dunia yang masih terus berlanjut pata tahun ini lantaran belum pulihnya perekonomian global, rupanya memberikan dampak bagi industri sektor energi yang diproyeksikan masih bergerak stagnan. Karena itu, tak heran jika para pelaku pasar modal banyak menunda mengoleksi saham-saham sektor komoditas belakangan ini.

NERACA

CEO PT Remax Capital, Lucky Bayu Purnomo mengatakan, saat ini sektor tambang seperti batu bara, timah, emas, tambang minyak dan energi berada dalam posisi downtrend, “Proyeksinya, kondisi ini masih akan berlanjut hingga beberapa bulan ke depan,” katanya di Jakarta, Selasa (5/2).

Karena itu, menurut dia, sebaiknya pelaku pasar menghindari saham-saham sektor tambang hingga pertengahan tahun ini. Secara sektoral, sektor energi, berada dalam posisi terendah dibandingkan sektor lainnya. Hal tersebut dipicu oleh kondisi global terkait harga komoditas pertambangan yang masih belum sepenuhnya mampu mengalami penguatan.

Oleh karena itu, kondisi ini akan memberikan sentimen negatif bagi saham-saham di sektor tersebut. Maka dengan mencermati profil risiko demikian, dia menilai, saat ini bukanlah saat yang tepat untuk mengoleksi saham-saham tersebut. Namun, bagi investor yang sudah masuk dapat membagi portofolionya sebagai langkah antisipasi. Selain itu, agar tidak terjadi kerugian yang lebih besar. "Sebaiknya sell 50 % dari jumlah portofolio, dan 50 % lagi digunakan untuk menunggu perbalikan arah." ujarnya.

Namun, sejauh ini investor bisa saja mengakumulasi saham-saham yang memiliki nilai kapitalisasi besar, sehingga tidak terlalu berisiko. Menurut analis dari PT Trust Securities, Reza Priyambada, sentimen negatif masih akan membayangi sektor-sektor yang termasuk dalam kategori energi dan pertambangan. Pasalnya, sektor ini rentan dengan kabar-kabar global, “Sebenarnya oil dan gas itu menarik, karena kebutuhan akan sumber energi minyak dan gas setiap tahunnya naik, tapi, jika bicara mengenai saham-sahamnya masih tertahan dengan sentimen negatif dari outlook global." jelasnya.

Pelemahan tersebut akan menjadi lebih parah jika emiten yang bergerak di sektor tersebut mencatatkan penurunan volume produksi dan penjualan. Oleh karena itu, salah satu hal yang dapat mendukung terjadinya penguatan, yaitu berita-berita positif bagi pelaku pasar, “Yang kemungkinan masih bisa bertahan yaitu saham-saham yang masih bisa rilis berita positif, terlepas dari benar atau tidaknya berita tersebut. Tapi jika dirasa positif oleh pelaku pasar maka akan dijadikan bahan trading."ujarnya.

Dia mencontohkan, salah satu saham oil dan gas yang mampu mengalami peningkatan berkat adanya pemberitaan positif mengenai emiten tersebut yaitu SUGI, di mana perseroan menginformasikan telah menemukan cadangan minyak.

Pemberitaan tersebut membawa saham tersebut mengalami peningkatan harga yang sangat positif sehingga sekarang ini sudah berada di area overbought. Oleh karena itu, adanya peluang untuk mengalami penguatan kembali mulai tipis. "Sepertinya, akan konsolidasi dulu ke kisaran 355-365, setelah itu baru ada peluang untuk rebound lagi." jelasnya.

Namun jika perseroan dapat mempertahankan sentimen positif ini maka harga saham tersebut akan dapat bertahan hingga mendekati resisten berikutnya, yaitu di level 480-500. Jadi, strategi trading yang paling tepat untuk sektor tersebut, lanjut dia, pihak investor dapat melakukan aksi beli (buy) jika banyak berita-berita positif terkait makro maupun informasi adanya aksi korporasi yang dilakukan emiten.

Lama Pulih

Hal senada juga disampaikan analis E-Treading Sekuritas Andrew Argado, saat ini memang kondisi saham energi sedang mengalami perlambatan. Dikarenakan krisis ekonomi di Amerika dan Eropa masih belum terlalu pulih meskipun cenderung mengalami perbaikan. "Krisis global di beberapa negara telah megurangi produksi sektor manufaktur sehingga energi yang dikeluarkan pun mengalami penurunan. Maka dari itu berpengaruh terhadap harga saham sektor energi,"ungkapnya.

Sebaliknya, lanjut Andrew, dengan membaiknya eknomi global maka saham energi akan menuju ke arah yang positif. Lain halnya dengan sektor minning seperti timah, nikel, ataupun baja yang pulihnya akan lama dibandingkan dengan sektor energi. "Saat ini ada kecederungan membaik saham energi karena harga minyak mengalami kenaikan sehingga bisa mendongkrak harga saham energi," tuturnya.

Menurutnya, sektor minning akan cenderung lebih lama pulihnya dari pada sektor energi. "Pasar akan cenderung lebih memilih bahan bakar dulu untuk pulih seperti minyak dan batubara, setelah itu baru sektor tambang. karena sektor minning seperti timah biasa untuk industri otomotif dan infrastruktur yang lebih menunggu perbaikan ekonomi maka mining akan mengikutinya," tambahnya.

Dia juga menyarankan agar investor tidak langsung memilih sektor energi untuk menanamkan sahamnya akan tetpi perlu selektif dalam saham energi. "Jangan memilih saham energi yang memang ada masalah di manajemennya. pilih yang prospeknya bagus,”tandasnya.

Lebih lanjut dikatakan Andrew, saham sektor energi tidak berpengaruh banyak dalam pergerakan saham IHSG. Pasalnya yang paling mendominasi dalam pergerakan IHSG adalah saham-saham seperti saham Astra, Perbankan dan Unilever. "Kalau sektor energi tidak berpengaruh banyak dalam pergerajan HSG," tandasnya.

Sebaliknya, Direktur Utama PT Eksploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO) Henry Sitanggang mengatakan, bisnis sektor energi masih berprospek menjanjikan dan harusnya saham energi itu diminati oleh seluruh pelalu saham.

Dia menegaskan, saham sektor energi itu akan berkembang dan tidak akan mengalami stagnan karena perekonomian Indonesia sangat dipengaruhi oleh sektor energi.”Apabila sektor energi ini mengalami stagnan, maka akan berpengaruh besar kepada perekonomian dan oleh karena itu saham energi harusnya diminati meskipun adanya pengaruh dari global,”pungkasnya.

Dirinya mengakui, saham sektor energi sangat sensitif atas isu global sehingga akan mempengaruhi secara signifikan terhadap saham di sektor ini. Namun, dia tetap optimistis dengan perkembangan saham sektor ini karena prospek yang menjanjikan kedepannya.”Persero ini tidak akan terlalu dipengaruhi oleh isu global dikarenakan kita bergerak dan dipengaruhi atas pengaruh lokal saja,”tegasnya.

Lebih lanjut lagi, dia menuturkan untuk menyiasati tentang perkembangan bisnis sektor energi maka persero mengharapkan volume penjualan batubara mencapai 3,6 juta ton pada tahun ini.“Target sekitar 300 ribu ton per bulan pada 2013 sehingga volume penjualan diperkirakan mencapai 3,6 juta ton pada 2013,” ungkapnya.

Henry juga menjelaskan untuk mendukung operasional tahun ini, pihaknya akan menganggarkan belanja modal sekitar Rp 2,3 triliun. Belanja modal itu akan digunakan untuk pengembangan coal terminal dan mulai menjalankan tambang batu bara sendiri.

Open feet diharapkan dapat dilakukan pada semester kedua 2013, produksi diperkirakan mencapai 30 ribu - 50 ribu per bulan. Oleh karena itu, untuk kedepannya akan mendapatkan proepek yang baik dalam sektor energi ini.”Semuanya akan bisa terlihat dalam laporan keuangan pada bulan Juni tahun ini, apakah mengalami peningkatan atau penurunan namun kami optimistis akan mengalami kenaikan karena sektor energi ini masih sangat dibutuhkan oleh orang banyak,” tambahnya. lia/mohar/bari/bani

Related posts