Setelah Jual Matahari, Saham Multipolar Dalam Pengawasan BEI - HARGA SAHAM MELESAT 100%

NERACA

Jakarta–Melesatnya harga saham PT Multipolar Tbk (MLPL) sebesar 100% menjadi Rp 440 per lembar saham pasca transaksi penjualan saham PT Putra Prima Tbk (MPPA) kepada Temasek senilai Rp 2,9 triliun, langsung masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia.

Informasi tersebut disampaikan BEI dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (5/2). Disebutkan, harga saham Multipolar dinilai meningkat di luar kewajaran atau unusual market activity(UMA). Oleh karena itu, BEI meminta investor untuk memperhatikan jawaban dari perusahaan atas permintaan konfirmasi bursa.

Selain itu, investor juga diminta untuk mencermati kinerja Multipolar serta keterbukaan informasinya. Sementara untuk manajemen Multipolar diminta untuk mengkaji kembali rencana aksi korporasinya jika belum mendapat persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Picu Spekulan

Sebelumnya, pengamat pasar modal Satrio Hutomo pernah bilang, informasi transaksi penjualan saham Matahari oleh Multipolar sebagai pemegang saham pengendali kepada Temasek, dinilai secara eksplisit tidak jelas. “Bentuknya seperti perjanjian biasa, namun dikemas dengan kata-kata baru. Kalau bentuknya right tidak dapat 20%. Karena ketentuan right hanya sebesar 10%, “katanya.

Dia menjelaskan, ketidakjelasan ini, dapat memicu spekulasi saham. Karena bagi yang awam dan tidak mencermati pemberitaan tersebut, tentu akan tertarik. Namun, secara teknikal, dia menilai jika saham Multipolar berada di level 1.600 itu memiliki profil risiko yang tinggi. Karena itu, investor dan trader harus hati-hati. “Ini ada yang aneh,”ungkapnya.

Satrio menambahkan, dengan informasi yang tidak jelas tersebut, pelaku pasar perlu mencermati keterangan yang disampaikan perusahan, apakah itu bentuknya right atau Repurchase Agreement (Repo). Namun, lepas dari itu, jika perusahaan menyalahi ketentuan yang ada, itu artinya perusahaan mengambil kelengahan dari pihak Otoritas Jasa Keungan (OJK).

Hal senada juga disampaikan analis Trust Securities, Reza Priyambada, dengan adanya pembelian saham oleh Temasek, bisa jadi terjadinya spekulan saham. Karena secara psikologis investor dan trader akan melihat siapa yang masuk dan seperti apa transaksi yang terjadi, apakah di atas harga pasar atau justru sebaliknya. “Saat ini konsolidasi, di level 1.500 atau 1.490. Jika masih dalam level yang terjaga investor bisa masuk,”jelasnya.

Sebagai informasi, PT Multipolar Tbk sebagai pemegang saham pengendali lebih memilih perusahaan ternama asal Singapura Temasek untuk menjadi mitranya melalui penjualan saham Matahari Putra Prima sebesar 26,1% atau senilai Rp 2,9 triliun.

Kata Presiden Direktur PT Multipolar Tbk, Edy Handoko, alasan penjualan saham Matahari ke Temasek dimaksudkan untuk pengembangan usaha dan termasuk penambahan gerai. Selain itu, kehadiran Temasek juga menjadi branck mark sebagai mitra yang berbobot“Diharapkan dengan hadirnya Temasek akan memungkinkan ekspansi toko dan Hypermart lebih banyak lagi di Jawa dan luar Jawa, “katanya.

Tambah Gerai

Ditahun 2013 ini, PT Multipolar Tbk menganggarkan dana sebesar Rp 1 triliun untuk menambah 20 gerai baru hypermart di beberapa wilayah di Indonesia, diantaranya Jakarta, Sulawesi (Bau-Bau, Palopo), Kalimantan, Sumatera (Palembang), Pekanbaru, Dumai. Penambahan gerai baru tersebut untuk mendukung ekspansi perusahaan di luar pulau Jawa.

Karta Eddy Handoko, pihaknya akan menginvestasikan sekitar Rp 50-60 miliar untuk satu gerai baru. Tahun lalu, Multipolar telah menambah 17 toko baru di wilayah Kupang dan Kendari, “Tahun ini kita akan nambah sekitar 20 gerai. Ini toko-toko baru. Satu toko baru sekitar Rp 50-60 miliar. Kebanyakan di luar kota karena pertumbuhan ritel dan konsumer adanya di luar kota,”ungkapnya.

Sementara itu, dia menyebutkan, sumber dana untuk memenuhi kebutuhan investasi gerai baru diperoleh perseroan dari kas internal. kombinasi modal kerja dan supplier, serta pinjaman perbankan. Porsinya kas 50%, supplier 20-25%, bank 10% dan pakai lokal yang mempunyai jaringan network nasional.

Nantinya, dengan adanya penambahan gerai tersebut bisa berkontribusi sebesar 25% dan omset ditargetkan bisa menembus Rp 2,5 triliun di tahun 2013 setelah 20 gerai. Pada tahun 2012, omset perseroan mencapai Rp 12 triliun. (bani)

BERITA TERKAIT

BEI Suspensi Saham Shield On Service

Setelah masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) lantaran terjadi peningkatan harga saham di luar kewajara, kini BEI menghentikan…

IPO DIVA Oversubscribe mencapai 5,6 kali - Patok Harga Rp 2.950 Per Saham

NERACA Jakarta - PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA) telah menetapkan pelaksanakan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) pada…

Pimpinan Persoalkan Legalitas WP KPK Dalam Gugatan

Pimpinan Persoalkan Legalitas WP KPK Dalam Gugatan NERACA Jakarta - Pimpinan KPK mempersoalkan legalitas Wadah Pegawai (WP) KPK yang menggugat…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

HRUM Targetkan Penjualan 4,8 Juta Ton

Hingga akhir tahun 2018, PT Harum Energy Tbk. (HRUM) menargetkan volume produksi dan penjualan batu bara mencapai 4,8 juta ton.…

BNBR Private Placement Rp 9,38 Triliun

Lunasi utang, PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) berencana mengonversi utang dengan melakukan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih…

Danai Pelunasan Utang - Chandra Asri Rilis Obligasi Rp 500 Miliar

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun, emisi penerbitan obligasi masih ramai dan salah satunya PT Chandra Asri Petrochemical Tbl (TPIA)…