Biaya Produksi Melonjak, Harga Jual Mie Instan Bakal Naik

Rabu, 06/02/2013

NERACA

Jakarta – Naiknya Upah Minimum Provinsi (UMP), tarif listrik dan harga gas mendorong melonjaknya biaya produksi mie instan. Kementerian Perindustrian pun memperkirakan harga produk mie instan akan naik sekitar 10% akibat dipicu oleh banyaknya komponen produksi industri yang mengalami kenaikan.

“Meningkatnya biaya produksi telah mendorong kenaikan harga produk mie instan sebesar 10%. Kenaikan harga jual mie instan juga akan disesuaikan dengan peningkatan biaya produksi sehingga tidak melemahkan permintaan dari pasar,” kata Direktur Industri Makanan Kementerian Perindustrian, Faiz Ahmad di Jakarta, Selasa (5/2).

Dia menilai, hingga akhir tahun nanti, penjualan mie instan di Indonesia diperkirakan bakal tumbuh sebesar 8%. Hal ini, sambung dia, karena pertumbuhan penduduk di Indonesia. Padahal masyarakat sudah menjadikan mie instan sebagai pengganti nasi.

Penjualan mie instan, imbuh Faiz, diproyeksikan bakal mencapai 17,8 miliar bungkus. Angka ini menunjukan peningkatan yang cukup signifikan, padahal penjualan tahun lalu telah mencapai 16,5 miliar bungkus. “Volume penjualan mi instan di Indonesia merupakan yang terbesar kedua di dunia setelah China,” paparnya.

Faiz mengungkap, pertumbuhan volume penjualan mi instan cenderung stabil dalam tiga tahun terakhir. “Mi instan dapat menjadi substitusi beras dan pertumbuhan penjualannya seiring pola konsumsi di masyarakat kaum urban yang memilih kepraktisan,” bebernya.

Pasar mi instan di Indonesia menduduki posisi kedua terbesar di dunia setelah China, menurut data World Instan Noodles Association (WINA). Pasar mi instan di Indonesia pada 2010 mencapai 14,4 miliar bungkus (bags/cups) dan diperkirakan naik 10% per tahun, di bawah China sebesar 42,3 miliar bungkus.

Serbu Rusia

Mie instan tak hanya digemari di Asia, tetapi sudah merambah hampir seluruh dunia. Atas dasar itu, produk mie instan Indonesia akan ekspansi ke Rusia. Dubes RI untuk Rusia Djauhari Oratmangun mengatakan Indonesia telah siap menanamkan modal untuk pembangunan pabrik mie instan di negeri bekas komunis yang rakyatnya ternyata mulai gemar makanan khas masyarakat Asia khususnya orang Indonesia. "Itu permintaan khusus dari Wakil Perdana Menteri Rusia Dmitry Rogozin waktu kami bertemu. Ternyata mie instan juga sangat digemari di Rusia,” papar Djauhari.

Menurut Djauhari, dalam pertemuan antara Indonesia-Rusia beberapa waktu lalu terjadi kesepakatan perdagangan antar dua negara. Rusia menawarkan mengekspor langsung gandumnya ke Indonesia dengan imbal balik ekspor minyak sawit bisa ditingkatkan ke negara itu dan Indonesia melakukan investasi dengan membangun pabrik mie instan.

"Ini peluang besar bagi perusahaan mie instan Indonesia karena jumlah penduduk Rusia sangat besar. Kalau saya ke Indonesia saya akan ketemu dengan pembuat produk mie instan dan ajak mereka melihat potensi pasar di Rusia,” jelas Djauhari.

Rusia adalah sebuah negara yang membentang dengan luas disebelah timur Eropa dan utara Asia. Dengan wilayah seluas 17.075.400 km, Rusia adalah negara terbesar dunia. Wilayahnya kurang lebih dua kali wilayah China atau Amerika Serikat. Penduduknya menduduki peringkat ketujuh di dunia setelah China, India, Amerika Serikat, Indonesia, Brasil dan Pakistan.

Negara ini dahulu pernah menjadi negara bagian terbesar Uni Soviet. Rusia adalah ahli waris utama Uni Soviet dan mewarisi 50% jumlah penduduk, 2/3 luas wilayah, dan kurang lebih 50% aset-aset ekonomi dan persenjataannya. Penduduk Rusia sekarang ini sekitar separuh dari total jumlah penduduk Indonesia. "Pasar mie instan sangat besar di sini. Peluang ini tidak boleh disia-siakan. Siapa pengusaha Indonesia yang tertarik bangun pabrik di Rusia, silakan hubungi KBRI Moskwa," katanya.

Kepala Bidang Penerangan KBRI Moskwa M. Aji Surya mengatakan mie instan populer di Rusia. "Di negeri Beruang Putih ini banyak toko yang menjual mie instan, apalagi di kantin KBRI," gurau dia.

Delegasi Indonesia pada World Media Summit yang berlangsung di gedung World Trade Center misalnya menemukan supermarket yang menjual aneka ragam mie instan dan tampak banyak dibeli warga setempat. Yang banyak dijual adalah merk Rolton dan Dosirak. Belum ada mie instan yang bermerk produk Indonesia. Harga mie instan di Rusia sekitar 30 rubel atau satu dolar AS.

Menurut Aji Surya, tawaran kepada pengusaha Indonesia untuk investasi pabrik mie instan di Rusia yang begitu kuat itu membuktikan keseriusan Rusia menjadikan Indonesia sebagai mitra usaha. Ia mengatakan volume perdagangan kedua negara ditargetkan meningkat hingga US$5miliar pada 2014. Pada tahun 2011 nilai perdagangan kedua negara mencapai US$2,51 miliar, naik dari 2010 yang sebesar US$1,68 miliar.