Emiten Properti Bersaing Bisnis Hotel Budget

Rabu, 06/02/2013

NERACA

Jakarta-Kinclongnya kinerja sektor properti yang menjadi salah satu pendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga awal tahun ini dinilai menjadi bukti masih prospektifnya sektor tersebut ke depan.

Selain itu, masih tingginya permintaan di sektor tersebut, khususnya untuk hunian maupun penginapan dengan harga terjangkau menjadi ruang bagi emiten untuk melakukan pengembangan usahanya. Tidak heran, jika beberapa emiten serius bersaing mengambil peluang tersebut.

PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) melalui anak usahanya yang bergerak di bidang bisnis hotel dan resort merupakan salah satu emiten yang tengah serius menggarap bisnis hotel budget. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya rencana perseroan untuk membangun tiga hotel budget pada tahun ini. “Nilai investasi untuk masing- masing hotel budget tersebut sebesar Rp 30 miliar hingga Rp 35 miliar atau sekitar Rp 90 miliar hingga Rp 105 miliar untuk keseluruhan investasi hotel budget.” Kata Edikar, Direktur Bakrieland unit usaha Hotels & Resorts, di Jakarta, Selasa (5/1).

Sumber pendanaan untuk pembangunan hotel budget tersebut, menurut dia tidak termasuk pada pendanaan belanja modal induk perusahaan Bakrieland Development, melainkan berasal dari internal dan pinjaman perbankan.

Rencananya, ketiga hotel budget tersebut akan berlokasi di Jakarta, Balikpapan, dan Bandung di atas lahan seluas 1500 m2 hingga 2500 m2. Alasan perusahaan membidik hotel budget di ketiga lokasi tersebut, lanjut dia, karena melihat peluang pada segmen hotel yang masih sangat besar dan memiliki platform yang baik untuk berkembang.

Pasar Menjanjikan

Selain itu, potensi penyerapan pasarnya pun dinilai masih cukup menjanjikan. “Bisnis budget hotel merupakan bisnis yang potensial bagi perusahaan. Dengan meningkatnya perekonomian dan besarnya middle income, serta perkembangan budget hotel yang signifikan, kami memasuki segmentasi budget hotel,” jelasnya.

Ditargetkan, ketiga hotel tersebut akan dapat beroperasi pada tahun 2014. Untuk pengoperasiannya tersebut, kata dia, tidak menutup kemungkinan bagi pihak perusahaan untuk melakukan kerjasama dengan investor. Namun hingga saat ini hal tersebut masih belum ditentukan. “Kemungkinan akan ada kerja sama. Yang jelas, nantinya operator yang akan mengoperasikan hotel adalah operator berskala internasional, ” ujarnya.

Edikar menambahkan, pada dasarnya perseroan membangun hotel sesuai dengan tuntutan pasar dan melihat potensi penyerapan pasar. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan perusahaan akan membangun hotel bintang 4 dan hotel bintang 5 ke depan.

Bangun Lima Hotel

Selain ELTY, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) yang merupakan emiten pengembangan properti juga berencana akan membangun lima hotel budget tahun ini. Padahal, baru tahun lalu, perseroan membangun dua hotel budget didaerah Cirebon dan Semarang.

Menurut Corporate Secretary Ciputra Development, Tulus Santoso, penambahan lima hotel budget akan dibangun di daerah Serpong, Bintaro, Bengkul, Banjarmasin, dan Bandung. Menurutnya, dalam pembangunan hotel budget tersebut, pihaknya tidak melakukan joint atau gabungan dengan perusahaan lainnya. “Konsepnya sendiri tidak melakukan joint dengan perusahaan siapa pun, tanahnya sudah dibeli dan saat ini tengah proses izin. Jika sudah selesai bisa diproses kapan pun,” jelasnya.

Untuk pembangunan lima hotel budget ini, nilai investasi yang diperkirakan mencapai Rp225 miliar, dengan komposisi pendanaannya sebesar 50% bersumber dari perusahaan dan selebihnya merupakan pinjaman perbankan. Masing-masing hotel budget tersebut ditaksir menelan dana sekitar Rp 45 miliar.

Kata dia, nantinya kelima hotel budget tersebut ditargetkan dapat berkontribusi sebesar 10% kepada kinerja perseroan. Adapun proyeksi laba bersih yang ditargetkan Ciputra Developmet pada tahun depan, yaitu mencapai Rp720 miliar atau naik 60% dibandingkan dengan target laba bersih 2012 sebesar Rp450 miliar.

Hal tersebut didukung adanya sejumlah proyek yang akan diluncurkan. Salah satunya, yaitu sekitar 10 proyek baru di beberapa wilayah seperti Sulawesi dan Kalimantan, “Perseroan memperkirakan minat beli masyarakat masih akan tinggi, selain itu juga suku bunga dari perbankan juga masih stabil,” tuturnya. (lia)