Jumlah Penderita Penyakit Mata Cukup Tinggi

Perlu Penanganan

Sabtu, 09/02/2013

Mengedepankan pelayanan komprehensif pada satu sentra berfasilitas mutakhir, dengan deretan tenaga ahli yang diakui, dan lokasi yang mudah terjangkau, Jakarta Eye Center (JEC) yang menjadi pionir rumah sakit mata Indonesia yang telah berpengalaman sejak 1984, kini kembali dibuka di Kedoya, Jakarta Barat. Dipilihnya lokasi ini jumlah penderita penyakit mata di Jakarta Barat cukup tinggi.

"Ya, alasan kami membuka JEC di Kedoya, kami mendapatkan data bahwa kawasan Jakarta Barat banyak masyarakat yang mengalami gangguan mata, ini yang menjadi alasan kami mendirikan di wilayah ini. Kami inggin memudahkan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang maksimal," tutur Dr. Darwan M. Purba, Spm, selaku Direktur Utama JEC Kedoya, sekaligus salah satu pendiri JEC.

Sedangkan jika dilihat dari data Kementrian Kesehatan 2012 memperlihatkan angka di Indonesia sebesar 1,5% penduduk Indonesia atau sekitar 3,6% juta jiwa, dengan berbagai pemicu utama mulai dari katarak, glaukoma, kelainan kornea, dan penyakit lain yang berhubungan dengan usia lanjut.

Sedangkan jika dilihat dari data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS), angka ini dipertegas dengan jumlah pasien rawat jalan penyakit mata di Indonesia pada 2011 yang mencapai 672.168 orang.

“Masyarakat dari berbagai kalangan, terutama di Jakarta, bisa lebih mudah mendapatkan akses kesehatan mata melalui satu pusat layanan terpadu. Kedepannya, kami berharap langkah ini dapat membantu memperbaiki kondisi kesehatan mata di Indonesia yang masi memprihatinkan,” tuturnya.

Salah satu fasilitas yang tersedia di JEC Kedoya adalah Children Eye Care, dimana pihak rumah sakit memberikan pemahaman pengobatan yang menyeluruh sesuai kondisi fisik dan karakter anak merupakan kehandalan fasilitas ini.

“Anak-anak umumnya sulit diarahkan sehingga dibutuhkan kesabaran dan teknik tersendiri agar dokter mendapatkan hasil medis yang akurat. Children Eye Care memiliki atmosfer yang nyaman bagi anak dan tim dokter yang ahli dalam pemeriksaan mata usia dini, termasuk psikolog, spesialis anak serta dukungan peralatan khusus,” tuturnya Dr. Florence M. Manurung, SpM.

Menurut dia, sarana unik ini memberikan penanganan kelainan penglihatan anak seperti gangguan refraksi, mata malas, mata juling, katarak, glaukoma, masalah retina, tumor mata, dan rekonstruksi mata anak. Layanan yang ditawarkan mulai dari deteksi awal pada bayi usia 0 (nol) hingga tindakan pembedahan.

Kecangihan Laser Assited In Situ Keratomileusis (LASIK) menjadi metode yang kini semakin banyak digunakan untuk mengoreksi kelainan refraksi. Metode ini bertujuan mengubah bentuk lapisan kornea agar pembiasan cahaya berlangsung sempurna.

“Tindakan lasik dimulai dengan membuat lapisan tipis (flap) pada lapisan permukaan kornea mata. Flap kemudia dibuka dan bagian dalam kornea disinar dengan laser hingga terbentuk permukaan baru. Setelah penyinaraan selesai, flap dikembalikan ke posisi semula dan proses lasik pun selesai,” tuturnya.