Waspadai Spekulan Dibalik Investasi Temasek di Matahari

Selasa, 05/02/2013

NERACA

Jakarta – Setelah banyak perusahaan berminat membeli sebagian saham PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), akhirnya PT Multipolar Tbk sebagai pemegang saham pengendali lebih memilih perusahaan ternama asal Singapura Temasek untuk menjadi mitranya melalui pembelian saham Matahari Putra Prima sebesar 26,1% atau senilai Rp 2,9 triliun.

Menurut Presdir PT Multipolar Tbk, Edy Handoko, alasan penjualan saham Matahari ke Temasek dimaksudkan untuk pengembangan usaha dan termasuk penambahan gerai. Selain itu, kehadiran Temasek juga menjadi branck mark sebagai mitra yang berbobot“Diharapkan dengan hadirnya Temasek akan memungkinkan ekspansi toko dan Hypermart lebih banyak lagi di Jawa dan luar Jawa, “katanya di Jakarta, Senin (4/2).

Menurut dia, investasi Temasek di Matahari Putra Prima cukup besar. Apalagi, perusahaan investasi asal Singapura ini belum sepenuhnya berinvestasi banyak di Indonesia baik dalam jumlah besar dan sektor usaha.

Disamping itu, masuknya Temasek berinvestasi di Matahari juga merupakan sebuah kepercayaan besar disamping akan membawa perubahan signifikan bagi Matahari, karena didalamnya akan ada sentuhan dan juga aturan dari Temasek yang mencurahkan pengalamannya dalam berinvestasi di banyak negara baik di Amerika Lantin dan juga di Eropa.

Belum Jelas

Namun menurut pengamat pasar modal, Satrio Hutomo, informasi yang disampaikan perusahaan tidak secara eksplisit dengan jelas mengemukakan adanya pembelian saham Multipolar oleh Temasek. “Bentuknya seperti perjanjian biasa, namun dikemas dengan kata-kata baru. Kalau bentuknya right tidak dapat 20%. Karena ketentuan right hanya sebesar 10%, “katanya kepada Neraca di Jakarta kemarin.

Dia menjelaskan, ketidakjelasan ini, dapat memicu spekulasi saham. Karena bagi yang awam dan tidak mencermati pemberitaan tersebut, tentu akan tertarik. Namun, secara teknikal, dia menilai jika saham Multipolar berada di level 1.600 itu memiliki profil risiko yang tinggi. Karena itu, investor dan trader harus hati-hati.

Satrio menambahkan, dengan informasi yang tidak jelas tersebut, pelaku pasar perlu mencermati keterangan yang disampaikan perusahan, apakah itu bentuknya right atau repurchase agreement (Repo). Namun, lepas dari itu, jika perusahaan menyalahi ketentuan yang ada, itu artinya perusahaan mengambil kelengahan dari pihak Otoritas Jasa Keungan (OJK).

Sementara analis Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, pembelian saham Matahari oleh Temasek karena pihak perusahaan menginginkan ada investor baru yang bisa masuk untuk mengembangkan usahanya, yaitu dengan membeli dari pasar. Hal tersebut agar kepemilikan saham di MPPA tidak berkurang. “Kepemilikan saham 26% sehingga harus ada transaksi penjualan saham ke publik,” jelasnya.

Dengan adanya pembelian saham tersebut, lanjut dia, bisa jadi terjadinya spekulan saham. Karena secara psikologis investor dan trader akan melihat siapa yang masuk dan seperti apa transaksi yang terjadi, apakah di atas harga pasar atau justru sebaliknya. “Saat ini konsolidasi, di level 1.500 atau 1.490. Jika masih dalam level yang terjaga investor bisa masuk.” ujarnya.

Sebagai informasi, skema Temasek berinvestasi di Matahari berupa membeli saham Matahari di pasar dengan menerbitkan exchangeable rights sebesar US$ 300 juta dengan harga saham yang di tawarkan Rp 2.050 per saham atau dengan nilai kurs rupiah Rp 9.588 per dolar dengan jaminan rencana kerja Matahari Putra Prima.

Disebutkan untuk aksi membeli saham di pasar, PT Multipolar Tbk telah menunjuk Ciptadana Securitas yang juga pemegang saham Matahari untuk memilih saham publik atau korporasi yang bakal di lepas. Dampak dari rencana tersebut, pada perdagangan awal pekan kemarin saham Matahari (MPPA) naik Rp 300 ke Rp 1.530.

Tambah Gerai

Di tahun 2013 ini, PT Multipolar Tbk menganggarkan dana sebesar Rp 1 triliun untuk menambah 20 gerai baru hypermart di beberapa wilayah di Indonesia, diantaranya Jakarta, Sulawesi (Bau-Bau, Palopo), Kalimantan, Sumatera (Palembang), Pekanbaru, Dumai. Penambahan gerai baru tersebut untuk mendukung ekspansi perusahaan di luar pulau Jawa.

Menurut Eddy Handoko, pihaknya akan menginvestasikan sekitar Rp 50-60 miliar untuk satu gerai baru. Tahun lalu, Multipolar telah menambah 17 toko baru di wilayah Kupang dan Kendari, “Tahun ini kita akan nambah sekitar 20 gerai. Ini toko-toko baru. Satu toko baru sekitar Rp 50-60 miliar. Kebanyakan di luar kota karena pertumbuhan ritel dan konsumer adanya di luar kota,”ungkapnya.

Sementara itu, dia menyebutkan, sumber dana untuk memenuhi kebutuhan investasi gerai baru diperoleh perseroan dari kas internal. kombinasi modal kerja dan supplier, serta pinjaman perbankan. Porsinya kas 50%, supplier 20-25%, bank 10% dan pakai lokal yang mempunyai jaringan network nasional.

Nantinya, dengan adanya penambahan gerai tersebut bisa berkontribusi sebesar 25% dan omset ditargetkan bisa menembus Rp 2,5 triliun di tahun 2013 setelah 20 gerai. Pada tahun 2012, omset perseroan mencapai Rp 12 triliun. lia/bani