Kontribusi Bahan Makanan ke Inflasi 79,61%

NERACA

Jakarta - Kenaikan inflasi pada Januari 2013 yang mencapai 1,03% atau 4,57% jika dibandingkan dengan Januari tahun 2012 didorong oleh naiknya harga bahan makanan mencapai 79,61%.

"Dalam lima tahun terakhir, inflasi Januari 2013 memang yang paling tinggi, dan harga bahan makanan menjadi faktor utama pada inflasi tersebut," kata Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi, dalam jumpa pers, di Jakarta, Senin (4/2).

Bayu mengatakan, faktor penentu merupakan bahan makanan dan memberikan kontribusi 79,61 persen terhadap inflasi, selain ada beberapa faktor kunci seperti cuaca buruk.

"Ada faktor yang menjadi kunci, terutama cuaca buruk yang mengakibatkan distribusi terganggu dan berpengaruh terhadap daging ayam, ikan segar, cabe merah, telur ayam, dan yang lainnya," kata Bayu.

Bayu menegaskan, harga makanan yang menjadi faktor terhadap inflasi Januari 2013 itu memiliki peran yang besar terhadap pengeluaran masyarakat berpendapatan rendah. "Yang terkena dampak dari naiknya bahan makanan tersebut adalah masyarakat dengan pendapatan rendah," tegas Bayu.

Bayu menjelaskan, memang ada faktor lain seperti kenaikan tarif dasar listrik yang mulai diberlakukan awal Januari 2013 lalu, namun kenaikan tersebut belum banyak berpengaruh terhadap inflasi Januari itu.

"Kalau faktor listrik itu relatif kecil persentasenya," tandas Bayu.

Sebelumnya, pada Jumat (1/2) lalu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan laju inflasi pada Januari 2013 tercatat sebesar 1,03 persen, yang merupakan angka tertinggi sejak 2009.

"Inflasi bulan ini cukup tinggi dibandingkan bulan yang sama dalam empat tahun terakhir," ujarnya.

Suryamin mengatakan laju inflasi pada Januari biasanya tercatat dibawah satu persen, bahkan pada Januari 2009 sempat terjadi deflasi sebesar 0,07%.

"Inflasi ini naik dibandingkan 2012 yang hanya mencapai 0,76%, dan lebih tinggi dari 2009 yang tercatat deflasi," katanya.

Menurut dia, berdasarkan komponen pengeluaran, kelompok bahan makanan masih menjadi penyumbang inflasi terbesar yaitu 3,39% yang diikuti kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,56%.

Laju inflasi tertinggi tercatat di Sibolga sebesar 3,78% dan Sampit 2,91%. Sedangkan Pontianak mengalami inflasi terendah 0,01%. Sementara itu, kata Suryamin, kota yang mengalami deflasi adalah Sorong 0,98% dan Manokwari 0,75%.

BERITA TERKAIT

“Emak-Emak” Jangan Risau, Harga Bahan Pokok Masih Terjangkau

  Oleh : Muhammad Ridwan, Mahasiswa Universitas Lancang Kuning Pekanbaru Belakangan ini istilah “emak-emak” mulai ramai menghiasi pemberitaan, khususnya oleh…

Sumi Indo Kabel Catatkan Penjualan Tumbuh 9,5% - Harga Bahan Baku Naik

NERACA Jakarta - Di tengah persaingan bisnis kabel yang makin ketat, PT Sumi Indo Kabel Tbk (IKBI) meraih omzet penjualan…

BI Perwakilan Jabar Sebar Seribu Bibit Cabai di Kota Sukabumi - Salah Satunya untuk Menekan Inflasi

BI Perwakilan Jabar Sebar Seribu Bibit Cabai di Kota Sukabumi Salah Satunya untuk Menekan Inflasi NERACA Sukabumi - Bank Indonesia…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Tarif JORR Naik Mulai Akhir September 2018

    NERACA   Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan berbagai perubahan tarif terkait…

Jasa Raharja Berikan Santunan Korban Kapal KM Fungka Permata V

  NERACA   Sulteng – PT Jasa Raharja (Persero) bergerak cepat dengan memberikan santunan kepada korban terbakarnya Kapal KM Fungka…

Syngenta Dukung Pertanian Berkelanjutan Di Indonesia

      NERACA   Jakarta - Perusahaan agribisnis global Syngenta menunjukkan komitmen perusahaan untuk mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan (sustainable…