Jamaah Haji “Dimanjakan” dengan Subsidi dan Dividen - Lembaga Tabung Haji Malaysia

NERACA

“Kita tidak menaikkan kos (ongkos) naik haji selama empat tahun. Laitu (yaitu) sejak tahun 2009 hingga 2012. Insya Allah, tahun ini (2013) tidak akan (naik). Kita boleh (bisa) saja menaikkan (kos haji). Tapi, jika ada yang mahu naik haji tetapi tidak punya wang, mengapa kita tak bantu?”

Kata-kata itu terucap dari mulut Haji Mohd Khalid bin Mohd Noordin, Pengurus Besar Lembaga Tabung Haji (LTH) asal Negeri Jiran, Malaysia. Sejak berdiri tahun 1963 silam, LTH memang dikhususkan untuk mengurus penyelenggaraan haji jemaah Malaysia.

Lembaga Tabung Haji adalah perusahaan yang memiliki hubungan dengan Kerajaan Malaysia serta dibawahnaungan Menteri Agama Islam. Pakcik, begitu dirinya akrab disapa, mengatakan lembaganya dibentuk berdasarkan Parliament Act (UU) No.34 tahun 1962 yang awalnya bernama Perbadanan Wang Simpanan Bakal-bakal Haji (PWSBH).

Saat itu, kata pakcik, hanya beranggotakan 1.281 nasabah dengan jumlah deposito sebesar RM (Ringgit Malaysia) 46 ribu atau senilai Rp143,7 juta (mengacu pada kurs nilai tukar rupiah terhadap ringgit saat ini, RM1 = Rp3.124 ). Sementara akhir 2012 lalu, jumlah depositonya menjadi RM35,8 miliar atau senilai Rp111,84 triliun dengan jumlah anggota 8,1 juta nasabah.

Kemudian pada 1969, PWSBH berubah menjadi Lembaga Urusan Tabung Haji (LUTH) dan tahun 1995, melalui New Tabungan Haji Act No.535, kembali berubah dengan nama Lembaga Tabung Haji (LTH) sampai sekarang. “Di sini peran kami supaya pelaksanaan kegiatan calon jemaah haji lancar. Mulai dari persiapan, keberangkatan hingga kembali lagi ke Malaysia,” kata Haji Khalid Noordin kepada Neraca, belum lama ini.

Pakcik juga menjelaskan, lembaganya tidak hanya bergerak di sektor manajemen haji saja. Namun juga merambah ke sektor investasi dan keuangan. Berdasarkan laporan kinerja LTH yang dikutip Neraca, bidang investasi yang digeluti lembaga ini meliputi sektor perkebunan, keuangan syariah, properti, pelayanan dan jasa serta energi.

“Keuangan syariah membawahi perbankan, takaful, dan sekuritas. Pelayanan dan jasa menaungi makanan dan minuman berproduk halal, Taha Network, dan travel. Sedangkan sektor energi membawahi migas, pelabuhan dan pelayaran,” jelasnya. Hingga Desember tahun lalu, LTH memiliki 120 kantor cabang, termasuk satu kantor cabang di Jeddah, Saudi Arabia.

Des, apa yang menarik dari lembaga ini? Pakcik bilang bahwa selama ini LTH melakukan subsidi sekaligus membagi dividen kepada nasabah yang notabene jemaah haji mereka sendiri sebanyak 8,1 juta jiwa. Asal tahu saja, sejak 2009 hingga 2012, ongkos haji Malaysia tidak naik atau tetap, di harga RM9.980.

Langsung naik haji

Hal ini berbanding terbalik dengan ongkos naik haji (ONH) Indonesia dengan periode yang sama mengalami fluktuasi. Sebagai pembanding, pada 2009 ONH senilai Rp36,26 juta, 2010 ONH menurun Rp31,08 juta, 2011 sedikit menurun menjadi Rp30,7 juta. Namun, tahun lalu kembali naik sebesar Rp33,3 juta. Dengan asumsi, ONH bergantung pada nilai kurs dolar AS setiap tahunnya.

Itu pun tidak jelas sisa bunga tabungan jamaah haji kemana menguapnya. Sementara total jumlah ongkos haji yang mesti dikeluarkan LTH pada 2009 sebesar RM12.660 dengan subsidi yang dikucurkan RM2.680, 2010 RM13,040 dengan subsidi yang dikucurkan RM3.060, 2011 senilai RM14,340 dengan subsidi yang dikucurkan RM4.360, serta 2012 RM15.150 dengan subsidi yang dikucurkan RM5.170.

“Tahun lalu, total ongkos naik haji di Malaysia sebesar RM15.150. Ini ongkos yang sebenarnya. Mulai dari awal keberangkatan sampai dengan tiba kembali di Malaysia. Itu meliputi fasilitas pesawat, penginapan, makan, dan lain-lain. Lama jamaah Malaysia di Saudi Arabia 40-44 hari,” terang Khalid Noordin.

Tahun ini, dirinya berharap ongkos naik haji tidak naik dengan tujuan agar warga Malaysia yang belum berangkat haji dapat ikut serta asalkan dengan syarat. Salah satunya, bagi yang berusia di atas 75 tahun bisa langsung berangkat ke Mekkah dan Madinah. “Itu pertimbangan khusus. Nggak mungkin mereka harus mengikuti masa tunggu haji hingga 35 tahun karena kuotanya terbatas,” tambah dia.

Di Malaysia, imbuh pakcik, pembayaran calon jamaah haji reguler diharuskan melalui satu pintu, melalui LTH. Dengan demikian, untuk mengurus keperluan haji tidak perlu sampai dua atau tiga agensi yang berlainan.

Untuk dividen, di tempat yang sama, General Manager LTH, Anis Zuhani Ahmad, menjelaskan segala hal yang berkaitan dengan ibadah haji cukup diurus oleh LTH. Apabila hendak melaksanakan ibadah haji, maka setiap orang Malaysia mesti mempunyai akun Tabung Haji dan mendaftar ke LTH.

“Nanti, setelah mereka pulang haji, mereka bisa memilih apakah sisa uangnya untuk diinvestasi atau diambil kembali. Sebab uang di dalam akun Tabung Hajiitu bisa di ambil kapan saja,” ujar Anis kepada Neraca. Khusus dividen, wanita cantik berkerudung ini pun tidak segan membagi informasi.

Sebagai gambaran, sambung Anis, pendapatan LTH di 2011 sebesar RM1.689 miliar. Kemudian dibagi dua untuk biaya rutin seperti gaji karyawan yang totalnya sebanyak 50 ribu orang dan subsidi haji, serta untung, termasuk didalamnya dividen sebesar enam persen setelah dipotong zakat 2,5% untuk 8,1 juta nasabah.

“Jadi tahun 2011 kami bagi dividen sebesar RM1,678 miliar bagi 8,1 juta nasabah. Itu bersih. Nah, untuk tahun 2012 masih diaudit. Mudah-mudahan bulan ini (Februari) sudah keluar,” jelasnya. Anis juga menjamin simpanan jamaah haji di LTH dijamin langsung oleh Kerajaan Malaysia 100% sehingga tidak akan ada kerugian yang harus ditanggung atau dibebankan oleh pendeposit atau calon jamaah haji* Lazuardhi U Rifky

Related posts