Banjir dan Inflasi

Oleh: Cundoko Aprilianto

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Banjir di Jakarta dan beberapa daerah beberapa waktu lalu, juga faktor cuaca yang tidak menentu, sesuai dengan prediksi, berakibat pada melonjaknya laju inflasi selama Januari 2013. Inflasi bulanan Indonesia selama bulan itu adalah sebesar 1,03%, tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Januari 2009, Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,07%. Deflasi juga terjadi pada Januari 2010 sebesar 0,84%. Sedangkan pada Januari 2011 terjadi inflasi sebesar 0,89%.

Kepala BPS Suryamin mengatakan, banjir menyebabkan distribusi makanan terhambat. Sebelum terjadi banjir itu, inflasi Januari 2013 diperkirakan hanya 0,9%. Namun menyusul bencana itu, menurut Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, inflasi Januari diramalkan 1,1%, tidak terlalu beda jauh dengan realisasi 1,03%.

Banjir yang melanda DKI Jakarta pada Kamis (17/1/2013) menyebabkan kerugian bagi para pengusaha dan individu. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memperkirakan kerugiannya mencapai Rp 20 triliun.

Besarnya kerugian akibat banjir dan besarnya pengaruh pada inflasi menegaskan makin mendesaknya perbaikan infrastruktur di Jakarta. Selama ini memang infrastruktur menjadi kendala dalam pembangunan di Indonesia. Namun bencana akibat ketidakberesan infrastruktur kali ini terjadi di ibukota. Sangat memalukan. Kita tentu ingat betapa setelah diinspeksi oleh Jokowi, ternyata gorong-gorong di Bundaran HI hanya berdiameter 60 cm. Belum sempat ada perbaikan dan wacana deep tunnel yang mampu menampung banjir baru saja digulirkan, bencana sudah lebih dulu menyergap ibukota.

Memang, sejak zaman Belanda pun, banjir sudah sering terjadi. Banjir besar tercatat pada 1671, 1699, 1711, 1714, dan 1854. Namun, jebolnya bendungan Latuharhary menyadarkan kita betapa memprihatinkannya kondisi waduk di Jakarta. Kalau mau ditelisik lebih ke belakang, ambrolnya waduk Setu Gintung di Tangerang pada 17 Maret 2009 seharusnya membuat kita lebih waspada akan bahaya yang ditimbulkan oleh waduk-waduk yang tidak terawat dengan baik. Apalagi, banyak waduk yang merupakan peninggalan zaman Belanda.

Sebagai misal, Situ Gintung adalah bendungan buatan Belanda yang pengerjaannya dimulai pada 1932 dan selesai 1933. Bendungan Katulampa di Bogor juga buatan Belanda sekitar tahun 1911 atau 19 tahun lebih tua.

Bendungan-bendungan yang kondisinya tidak bagus ini tentu membutuhkan banyak dana untuk perawatan. Kondisi ini adalah akibat dari faktor usia dan masalah dari alam seperti sedimentasi atau pendangkalan, membuat kedalaman semakin berkurang dan akibatnya debit air yang dapat ditampung semakin sedikit.

Lebih dari 20 waduk yang ada saat ini di Jakarta dan sekitarnya dalam kondisi tidak baik. Oleh sebab itu, biaya perawatannya pun harus ditingkatkan. Kita tentu tidak mau bencana yang seharusnya bisa diantisipasi dengan perbaikan infrastruktur malah membuat kerugian besar.

Related posts