Industri Tekstile Diproyeksikan Tumbuh Sampai 4%

Banyak Permintaan Dari Pasar

Selasa, 05/02/2013

NERACA

Jakarta - Badai krisis ekonomi yang menghantam Eropa dan Amerika Serikat (AS) tak mampu menggoyahkan industri Tekstile dan Produk Tekstile (TPT) dalam negeri. Dalam tahun ini, industri TPT ditargetkan mampu tumbuh 3% - 4%. Pasalnya pasar produk TPT dalam negeri sedang mengalami banyak permintaan, baik dari dalam negeri maupun dari manca negara.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Perindustrian, Anshari Bukhari memaparkan, sampai Oktober 2012 produk tekstil memberikan kontribusi nilai ekspor sebesar US$ 10,4 miliar atau setara dengan 10,7 % dari total ekspor non migas. Sedangkan nilai investasi industri TPT mencapai Rp 2,6 triliun dan penyerapan tenaga kerja di triwulan kedua 2012 sebanyak 430 ribu orang.

“Prospek industri TPT ini sangat cerah. Namun kita harus berjuang keras untuk mendapatkan itu,” terang Anshari disela penandatanganan MoU dengan 10 perusahaan Asosiasi Pertektilan Indonesia dan pembukaan pelatihan basis kompetensi dalam bidang garmen dan pakaian jadi di Jakarta, Senin (4/2).

Namun, Anshari juga mengungkap, meningkatnya Upah Minimum Provinsi (UMP), produktivitas yang rendah, kelangkaan bahan baku kapas serta usia mesin yang relatif sudah tua menjadi kendala dalam industri TPT nasional.

“Kami telah melakukan beberapa upaya untuk mengatasi masalah baik sektor industri TPT hulu maupun hilir. Upaya itu adalah program restrukturisasi mesin tekstil yang telah berjalan sejak 2007 dan menjadi kebijakan pemerintah dengan memberikan potongan harga serta subsidi bunga bagi perusahaan yang melakukan peremajaan mesin,” terang Anshari.

Setelah dilakukan program restrukturisasi mesin industri TPT sejak 2007 sampai 2011, lanjut Ansari, telah terjadi peningkatan investasi.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat mengungkap, memasuki bulan kedua di 2013, industri TPT dihadapkan pada dua masalah yang diprediksi akan menghambat pertumbuhan, yakni kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) sebesar 15% dan pemberlakuan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 253 Tahun 2011 tentang pengembalian bea masuk yang telah dibayar atas impor barang dan bahan untuk diolah, dirakit atau dipasang pada barang lain dengan tujuan untuk diekspor.

“Industri TPT nasional dihadapkan pada besarnya biaya energi dan masalah pengembalian bea masuk atas barang impor. Selama ini, sektor industri serat pemintalan menggunakan komponen energi listrik yang sangat besar,” tutur Ade.

Tingginya tarif tenaga listrik, imbuh Ade, membuat kinerja ekspor tekstil dan produk tekstil semakin menurun. "Tahun lalu kinerja ekspor TPT sudah turun 6% dan tahun ini diperkirakan lebih rendah dari realisasi 2012," ujarnya.

Ade juga menerangkan kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) sebesar 15% pada tahun ini dapat memicu produsen tekstil dan produk tekstil (TPT) mengurangi produksinya dan berdampak pada pengurangan tenaga kerja. “Meningkatnya biaya pada sektor listrik akan membuat produktivitas TPT semakin menurun karena ongkos produksi juga bertambah," paparnya.

Ade menerangkan kalau, kenaikan TTL menyebabkan produsen harus menurunkan produksi. Untuk mempertahankan harga jual, produsen harus mengurangi pekerja sekitar 10.000 orang. "Produsen tidak bisa menaikkan harga jual produknya karena akan mengurangi daya saing produk lokal dengan produk impor. Tanpa menaikkan harga jual kita sudah tidak bisa bersaing," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Industri Kementerian Perindustrian, Mujiyono memaparkan, untuk meningkatkan kompetensi pekerja di sektor TPT, Kementerian Perindustrian dengan gratis melakukan pelatihan kepada putra putri Indonesia untuk belajar.