Tahun 2012, Laba Kalbe Farma Capai Rp 1,73 Triliun

Selasa, 05/02/2013

NERACA

Jakarta – Sepanjang tahun 2012, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) membukukan laba bersih konsolidasi indikatif (unaudit) naik 17% menjadi Rp1,73 triliun pada 2012 dari periode sama sebelumnya Rp1,48 triliun.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (4/2). Disebutkan, laba bersih perseroan didorong dari pertumbuhan penjualan dan peningkatan efisiensi perusahaan. Selain itu, laba bersih per saham indikatif naik 17% menjadi Rp36,9 per saham pada 2012 dari posisi 2011 sebesar Rp31,6.

Disamping itu, perusahaan farmasi plat merah ini juga mencatatkan penjualan naik 24,9% menjadi Rp13,63 triliun pada 2012 dari periode sama sebelumnya Rp10,91 triliun. Laba kotor naik 17,5% YoY. Sementara itu, marjin laba kotor terhadap penjualan bersih turun, dari 50,9% pada 2011 menjadi 47,8% pada 2012.

Kata Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Vidjongtius, penurunan marjin laba kotor didorong perubahan komposisi bisnis pada 2012 dengan adanya peningkatan distribusi dan logistik dari 35% pada 2011 menjadi 38% pada 2012,”Penjualan mencatat pertumbuhan baik, didukung pertumbuhan volume konsumsi dan kontribusi yang lebih besar dari distribusi dan logistik,”ungkapnya.

Selain itu, strategi peningkatan efektivitas pemasaran yang membuahkan hasil positif juga memberikan kontribusi besar. Kontribusi penjualan perseroan berasal dari divisi logistik sebesar Rp5,17 triliun pada 2012 dari periode sama sebelumnya Rp3,8 triliun. Divisi nutrisi berkontribusi Rp3,01 triliun, divisi consumer health Rp2,15 triliun dan divisi prescription Rp3,2 triliun.

Treasury Stock

Kemudian, Vidjongtius juga mengatakan, pihaknya tidak akan menerbitkan treasury stock sekitar 7,7% pada 2013, “Sebagian besar treasury stock akan kadaluarsa pada 2013 dan tidak akan diterbitkan kembali, “tegasnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, perseroan akan meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada Mei 2013. Sebagai informasi, treasury stock merupakan langkah perseroan untuk membeli lagi sahamnya dari peredaran untuk sementara waktu.

Dia menjelaskan, dampak pembatalan penerbitan treasury stock akan membuat Return on Equity (ROE) naik dalam jangka panjang. Sebelum pembatalan penerbitan treasury stock itu, perseroan berencana akan menjual treasury stock itu untuk mendanai akuisisi.

Selain itu, kata Vidjongtius, pihaknya akan melakukan akuisisi produk dan perusahaan dengan jumlah tidak besar. Pendanaan untuk akuisisi bisa dari kas internal. "Penjajakan akan dilakukan terus-menerus. Jumlah akuisisi tidak dalam jumlah besar sekitar Rp100 miliar-Rp200 miliar. Inovasi kita akan lebih baik," ungkapnya.

Asal tahu saja, perseroan melakukan pembelian kembali saham sejak 2008-2010. Hal itu dilakukan mengingat harga saham murah karena krisis keuangan global. (bani)