Tekan Defisit Perdagangan, Pemerintah Genjot Ekspor Non-Migas

Selasa, 05/02/2013

NERACA

Jakarta - Besarnya impor minyak olahan untuk bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, membuat neraca perdagangan Indonesia defisit US$ 1,6 miliar. Padahal sepanjang tahun 2012, total nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 190 miliar. Kondisi tersebut diprediksi masih akan terjadi tahun ini.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengungkap, defisit perdagangan masih akan sulit diatasi. Pasalnya, harga komoditas minyak dunia belum akan turun. Sehingga pemerintah fokus mempertahankan kinerja ekspor non-migas yang masih surplus sebesar US$ 4 miliar tahun lalu.

“Kami melihat situasi dan memperhatikan analisis mengenai outlook 2013 kami hanya melakukan perkiraan tentang posisi ekspor kita, kurang lebih sama antara US$ 190 miliar sampai Rp 195 miliar, importasi formatnya masih akan sama, kalau kita pertahankan,” ujar Bayu di Kementerian Perdagangan, Senin (4/2).

Bayu memaparkan, impor BBM selama Januari - Desember menghasilkan defisit mencapai US$ 5,6 miliar. Hal ini karena Indonesia bergantung pada impor minyak olahan untuk mencukupi bahan bakar bersubsidi, pihaknya tidak bisa mengubah komposisi defisit neraca perdagangan. "Saya hanya ingin mengatakan kalau kita polanya seperti sekarang, impor BBM (2013) masih akan menghadapi tekanan seperti itu," paparnya.

Dia mengaku berharap, untuk meningkatkan kinerja ekspor, khususnya non-migas, mendorong perdagangan di pasar baru, misalnya Afrika Selatan dan Amerika Selatan. Pembukaan toko yang menampilkan daftar produk Tanah Air di negara tujuan ekspor anyar diharapkan meningkatkan kinerja perdagangan Indonesia.

“Pembukaan Toko Indonesia di Johanesburg, Afrika Selatan, dan misi dagang di Amerika Selatan, mudah-mudahan akan menaikkan profil ekspor. Kalau kita pertahankan ekspor non-migas, mudah-mudahan kita bisa dapat surplus di neraca tahun ini,” jelas Bayu.

Khusus di Desember tahun lalu, ekspor mencapai US$ 15,4 miliar, menurun 5,6 % dibanding bulan sebelumnya. Meski migas jadi biang keladi defisitnya perdagangan sepanjang 2012, sebetulnya di akhir tahun ekspor migas sempat naik US$ 2,9 miliar atau meningkat 9 % akibat kenaikan harga komoditas gas.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Gusmardi Bustami juga mengungkap, saat ini jenis diversifikasi yang tengah dibidik adalah diversifikasi pembiayaan ekspor ke beberapa negara pasar berkembang (emerging market) di Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika. Tidak tertutup kemungkinan nantinya akan dilakukan diversifikasi produk ekspor ke pasar yang sedang tumbuh itu.

“Salah satu pasar potensial bagi Indonesia itu Afrika, ada beberapa negara Afrika yang datang tetapi belum menjadi mitra utama perdagangan kita seperti Mali dan Kamerun, tentunya itu peluang untuk kita eksekusi,” ujar Gusmardi.

Menurut dia, usaha diversifikasi yang dilakukan pemerintah tersebut merupakan salah satu bentuk mewujudkan Kerjasama Selatan-selatan, sebagai kekuatan ekonomi yang tengah berkembang dan potensial di pasar global.

"Forum ini merupakan satu jalan untuk menjembatani pasar yang tengah berkembang, khususnya di tengah lesunya pasar negara-negara di utara yang masih dilanda krisis," tandas Gusmardi.

Indonesia, sambungnya, dengan cepat mengambil inisiatif sehingga peluang kerjasama perdagangan Selatan-selatan semakin cepat terealisasi. Untuk itu, Gusmardi mengaku tidak ada target investasi atau ekspor yang akan dicapai melalui forum tersebut, karena sifatnya merupakan tempat komunikasi dan dialog guna menentukan cara dan menetapkan kebijakan yang memudahkan relasi dagang saling menguntungkan antar peserta, khususnya negara Selatan-selatan. “Kami akan lihat masukan apa yang didapat melalui forum ini, belum ada target dari segi nilai maupun volume,” terang Gusmardi.

Dukungan Industri

Di tempat berbeda, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Ernovian G. Ismy memaparkan, pelaku industri dalam negeri sepakat dengan langkah pemerintah untuk melakukan diversifikasi pasar ekspor sebagai upaya mengurangi dampak krisis global pada ekspor produk Indonesia. “Kami sepakat dengan upaya diversifikasi itu,” ujarnya.

Namun para pengusaha membutuhkan bantuan pemerintah untuk memperluas pasar ekspor itu. “Kami butuh pemerintah untuk memfasilitasi upaya tersebut. Karena tanpa preferensi dari pemerintah, kami akan susah masuk ke pasar baru," urainya.

Khusus untuk Afrika yang termasuk pasar baru bagi industri tekstil Indonesia, urai dia, para pengusaha masih perlu mendalami persis potensi pasar dan karakteristiknya.

Industri tekstil juga belum akan melepaskan Eropa dan Amerika Serikat sebagai target ekspor utama. "Uni Eropa dan Amerika termasuk pasar utama kami selain Jepang, persentase ekspor ke Uni Eropa mencapai 18 % dari total ekspor kami, sedangkan Amerika 36 %,” paparnya.

Bahkan hingga saat ini, ekspor tekstil ke Amerika dan Eropa belum terpengaruh krisis global. "Penjualan kami ke sana masih normal hingga sekarang," tegasnya. Diprediksi hingga akhir tahun nanti, nilai ekspor tekstil Indonesia bisa mencapai US$ 12,2 miliar.