Industri Makanan dan Minuman Tumbuh di Atas Target

Sepanjang Tahun 2012,

Selasa, 05/02/2013

NERACA

Jakarta - Pertumbuhan ekonomi yang tetap stabil dan daya beli masyarakat yang cukup baik membuat konsumsi makanan dan minuman di Indonesia mengalami peningkatan tajam. Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) memprediksi pertumbuhan industri mamin akan mencapai 8,2%, tetapi kenyataannya pertumbuhan industri mamin telah mencapai 12,75%.

“Awalnya kita hanya menargetkan pertumbuhan berkisar 8,2% mengingat angka tersebut diperoleh pada kuartal III/2012. Akan tetapi pertumbuhan industri makanan justru telah mencapai 12,75%. Angka ini diluar ekspektasi para pengusaha," kata Ketua Umum Gapmmi Adhi Lukman di Jakarta, Senin (4/2).

Baca juga: Industrialisasi Energi Terbarukan Perlu Aksi Nyata dan Konsisten - Himbauan Menteri ESDM

Menurut dia, investasi di industri mamin juga meningkat tajam, baik investasi lokal mau asing. Hal ini juga menjadi peningkatan pencapaian pertumbuhan industri mamin. Data Kementerian Perindustrian memperlihatkan penanaman modal dalam negeri di industri makanan pada tahun lalu tercatat senilai Rp11,2 triliun, naik 40% dibandingkan periode yang sama pada 2011 yakni senilai Rp7,9 triliun.

Adapun, total nilai investasi asing di industri tersebut pada tahun lalu naik 61,4% dari US$1,1 miliar pada 2011 menjadi US$1,7 miliar yang menjadi kontributor ketiga terbesar penanaman modal di bidang manufaktur. "Peningkatan kebutuhan masyarakat seiring dengan kenaikan jumlah penduduk juga menjadi salah satu faktor pendorong meningkatnya produksi," ujarnya.

Baca juga: Kemenperin Sebut TKDN Tinggi Indikator Kemandirian Industri - Kewajiban Kandungan Lokal

Namun demikian, pihaknya menargetkan industri makanan pada tahun ini hanya tumbuh 8%. Hal ini akibat banyaknya kendala yang dihadapi seperti penaikan upah buruh, tarif dasar listrik, dan gas yang dapat meningkatkan biaya produksi.

Adhi berharap pemerintah dapat segera memperbaiki infrastruktur dan sarana transportasi agar pengusaha dapat menutupi kenaikan biaya produksi dengan mengurangi biaya logistik ke berbagai daerah di Tanah Air.

Peran Penting

Sementara Dirjen Agro Industri Kementerian Perindustrian, Benny Wahyudi menjelaskan bahwa industri makanan dan minuman termasuk tembakau memiliki peranan penting dalam pembangunan sektor industri terutama terhadap produk domestik bruto (PDB) industri nonmigas dibanding subsektor lainnya mencapai 35,73%.

Baca juga: APP Dukung Pemda Sumsel Atasi Deforestasi dan Emisi GRK - Industri Kertas

Ia mengungkap, selain industri makanan dan minuman maka industri alat angkut, mesin dan peralatan juga memberikan sumbangan cukup tinggi sebesar 228,12%, industri pupuk, kimia dan barang dari karet sebesar 12,27%.

Kemudian tekstil, barang kulit dan alas kaki yang mencapai 9,20%, barang kayu dan hasil hutan lainnya 4,80%, kertas dan barang cetakan 3,91%, semen dan barang galian bukan logal 3,38% dan logam dasar besi dan baja sekitar 1,91%.

Kondisi ini juga, lanjut Benny, didukung pula oleh pangsa pasar yang besar dengan pertumbuhan yang tinggi. Pada 2009 laju pertumbuhan mencapai 11,22%. Namun pada 2010 merosot hanya 2,78%, dan pada 2011 kembali meningkat mencapai 9,19%.

Baca juga: KKP Ajak Eks Nelayan Lobster Berbudidaya Ikan dan Rumput Laut - Solusi Permen KP No. 1/2015

Benny Wahyudi mengatakan, pertumbuhan kumulatif industri makanan, minuman, dan tembakau pada kuartal kedua 2012 sebesar 7,03% mengalami kenaikan dibanding laju pertumbuhan kumulatif triwulan kedua pada 2011 hanya 6,93%. Kalau dilihat dari penerimaan devisa sektor industri nonmigas melalui ekspor, industri makanan dan minuman mampu memberikan sumbangan yang cukup berarti. “Pada 2011 nilai ekspor makanan dan minuman sebesar US$13,73 miliar naik dibanding periode sama 2010 hanya US$9,26 miliar,” katanya.

Baca juga: KKP Gelontorkan Insentif Pajak Usaha Kelautan dan Perikanan - Dorong Investasi

Impor tinggi

Meski demikian, lanjut dia, impor makanan dan minuman masih cukup besar mencapai US$1,94 miliar pada 2011, dan masih adanya ketergantungan terhadap bahan baku impor yang cukup besar diantaranya, gandum 5,6 juta ton, gula 2,7 juta ton dan biji kedelai dua juta ton. “Selain itu juga, Indonesia masih mengimpor lebih dari 70% bahan baku untuk industri pengolahan susu,” ujarnya.

Dia menambahkan, pangsa pasar produk makanan dan minuman yang cukup besar tersebut akan mendorong tumbuhnya permintaan bahan tambahan pangan. “Saat ini saja lebih dari 30% kebutuhan bahan tambahan pangan (BTP) masih impor. Untuk itu kami mengundang investor untu menanamkan investasinya dibidang indusgtri BTP di Indonensia,” katanya.

Baca juga: Prioritaskan SVLK Bagi Industri Pengolahan Kayu - IKM Furniture dan Mebel Keberatan Biaya Sertifikasi

Menurut dia, sejumlah bahan tambahan pangan mulai dari pewarna, pemanis buatan, pengawet, penyedap dan pengawet rasa dan aroma, antioksidan, antikempal, pengatur keasaman, pemutih, dn pematang tepung, pengemulsi hingga pengental masih diimpor dari Eropa, Amerika Serikat dan China. Oleh karena itu pengembangan industri ke depan harus fokus kepada penguatan seluruh rantai nilai agar tercipta pembangunan industri yang berkelanjutan dengan struktur industri yang kuat serta menghasilkan nilai tambah yang tinggi,” katanya.

Baca juga: RI Perlu IKM Berbasis Kreativitas dan Budaya Lokal - Hadapi MEA 2015