Krisis Kepercayaan Bisnis

Senin, 04/02/2013

Sungguh mengejutkan hasil riset Edelman Trust Barometer 2013, dimana menunjukkan adanya krisis kepercayaan terhadap para pemimpin dunia bisnis dan pemerintahan di Indonesia. Pasalnya, diantara pemimpin bisnis dan institusi pemerintah belum mendapat kepercayaan penuh dari masyarakat walau tingkat kepercayaan terhadap pemerintah dan dunia bisnis meningkat dari tahun lalu.

Hasil survei lembaga swasta itu pekan lalu, mengungkapkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah meningkat dari 40% (2012) menjadi 47% pada 2013. Ini menggambarkan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah memang menguat dibandingkan tahun lalu, namun pemerintah masih memiliki tantangan berat dalam menjaga kepercayaan itu karena adanya krisis kepercayaan terhadap pemimpin.

Penyebab utama dari turunnya kepercayaan publik terhadap para pemimpin bisnis dan pemerintahan di negeri ini, adalah soal masalah korupsi dan inkompetensi yang menghasilkan kinerja buruk. Survei itu dilakukan oleh Edelman untuk ke-13 kali di dunia dan yang ke-5 bagi Indonesia, dimana melibatkan 31.000 responden dari 26 negara, dan dari jumlah tersebut 1.200 orang diantaranya berasal dari Indonesia.

Terungkap bahwa sebagian besar responden mempersepsikan pemimpin bisnis dan pemerintahan sebagai orang-orang yang kurang dapat dipercaya, dan kurang mampu dalam memecahkan masalah sosial dan membuat keputusan dengan pertimbangan etika dan moral yang tepat.

Kalangan responden menilai tahun ini Indonesia mengalami krisis kepercayaan yang menonjol. Sebagai akibat dari kejahatan korupsi (33%), kebijakan insentif yang keliru (17%), masalah transparansi (11%), masalah kelangkaan regulasi pengawasan (6%), dan kinerja yang buruk akibat tidak kompeten (31%).

Menurut Alan Vander Molen, CEO Edelman, masyarakat Indonesia sekarang lebih percaya pelaku usaha ketimbang pemerintah. Karena perilaku pejabat pemerintah yang seringkali terlibat dalam berbagai kasus korupsi menyebabkan tidak kompetennya kinerja pemerintah saat ini. "Sekarang anggapan publik menjadi alasan utama turunnya kepercayaan mereka terhadap pemerintah," ujarnya.

Padahal sebelumnya Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, Stefan Koeboerle pernah mengingatkan, Indonesia tidak dapat menghindar dari dampak penurunan ekonomi global, terutama jika harga komoditas dunia dan permintaan, seperti dari Cina, terkena dampaknya. Sebab itu, para pemimpin diharapkan mampu beradaptasi dengan perubahan keadaan yang menuntut dialog serta pendekatan inklusif dalam proses pengambilan keputusan.

Untuk menjadi pemimpin yang dipercaya, memang ada beberapa perilaku yang harus dilakukan. Stephen Covey mengidentifikasikan ciri perilaku utama para pemimpin yang terpercaya (high-trust leaders), adalah yang mampu berbuat jujur. Tindakan yang menutup-nutupi apa yang terjadi sesungguhnya justru menambah ketidakpercayaan publik.

Kemudian seorang pemimpin harus mampu mendengarkan orang lain menyatakan isi pikirannya. Mendengarkan terkadang lebih berharga ketimbang memberi perintah. Hargai setiap inci dari apa yang terjadi tanpa meninggalkan prinsip efektivitas. Pemimpin juga perlu menciptakan transparansi. Terbukalah dan bersikaplah otentik. Semoga!