BSB Dukung Pelaksanaan Redenominasi

NERACA

Jakarta - Direktur Utama PT Bank Syariah Bukopin (BSB), Riyanto, mengatakan perangkat hukum harus kuat, khususnya bagi perbankan syariah, sebelum pemerintah menerapkan redenominasi rupiah. "Perangkat hukumnya harus kuat karena syariah ini kan bukan kredit dan tidak memiliki fleksibilitas," kata Riyanto di Jakarta, pekan lalu.

Oleh karena itu, perlu ada penyesuaian kebijakan dengan perangkat hukum syariah seperti fatwa syariah. Namun, Riyanto mengakui bahwa redenominasi akan memudahkan administrasi sistem keuangan perbankan. "Sekarang ini angka nolnya banyak sekali, padahal setiap nol itu ada nilainya. Dengan redenominasi bisa lebih sederhana," ujarnya.

Riyanto juga menuturkan bahwa dengan redenominasi akan menimbulkan kesan mata uang rupiah sudah sederajat dengan mata uang negara lain. "Redenominasi ini akan menaikkan citra rupiah sehingga mata uang kita sudah sederajat dengan mata uang lain," tukas dia.

Terkait ekspansi bisnis, Riyanto mengatakan, dalam empat sampai lima tahun ke depan, bisnis akan semakin berkembang seiring dengan peningkatan permodalan untuk masuk ke Buku II, dengan modal inti di kisaran Rp1 triliun sampai Rp5 triliun. “Modal inti sekarang sekitar Rp450 miliar sampai Rp500 miliar. Rencana masuk ke Buku II 4-5 tahun lagi,” terang Riyanto.

Perseroan, lanjut dia, akan memupuk perolehan laba dari perkembangan bisnis lewat penyaluran pembiayaan. Selain itu, peningkatan modal inti juga berasal dari suntikan modal dari komitmen para pemegang saham.

Kinerja 2012

Selama 2012, perseroan memeroleh laba Rp26,3 miliar, meningkat 74,18% dari perolehan pada 2011 sebesar Rp15,1 miliar. “Empat sampai lima tahun kalau pertumbuhan bisnis 30%. Karena modal mengikuti pembiayaan. Jadi dapat dari laba di-generate, sama tambahan modal,” ucap Riyanto.

Menurut dia, komitmen pemegang saham untuk menambah modal cukup besar dalam mendukung perkembangan bisnis, kendati penyuntikan modal tidak dilakukan tiap tahun.

“Sekarang (modal) masih cukup. Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sekarang 12,4%, untuk target 35%-40% (tahun ini) masih cukup CAR di atas minimal 8%. Tapi memang kita mau pertahankan di posisi 12%,” tuturnya.

Per akhir 2012, BSB mematok pertumbuhan pembiayaan 35%-40% tahun ini. Pada akhir 2012, perseroan mencatat kucuran pembiayaan mencapai Rp2,63 triliun, naik 37,23% dari Rp1,91 triliun pada akhir 2011. “Target pembiayaan tumbuh 35%-40% tahun 2013. Tahun 2012 sebesar 37%,” tukas Riyanto.

Perseroan juga mencatat kucuran pembiayaan mencapai Rp2,63 triliun, naik 37,23% dari Rp1,91 triliun pada akhir 2011. Sementara total dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp2,85 triliun, naik 24,40% dibanding periode sebelumnya yang sebesar Rp2,29 triliun. Sedangkan aset tumbuh 32,55% yoy (year on year) dari Rp2,73 triliun menjadi Rp3,61 triliun.

Mayoritas DPK, sambung Riyanto, merupakan deposito yang porsinya mencapai Rp2,32 triliun. Dia juga menjelaskan, kucuran pembiayaan paling besar disalurkan ke sektor perdagangan, disusul kesehatan dan pendidikan, dengan porsi segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mencapai 62% dari total pembiayaan.

“Untuk dana pihak ketiga kita patok tumbuh 30%. Dan ini harus segera disalurkan, ini FDR (rasio pembiayaan terhadap simpanan) harus di atas 90%, kalau tidak babak belur (terkait porsi deposito/dana mahal). Sekarang FDR kita 93-94%,” tandas Riyanto. [ardi]

Related posts