2012, Defisit Perdagangan Indonesia US$ 1,63 Miliar

Senin, 04/02/2013

NERACA

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia selama 2012 mengalami defisit sebesar US$ 1,63 miliar.

Menurut Kepala BPS Suryamin, di Gedung BPS, Jakarta, Jumat (1/2), kinerja sektor perdagangan selama 2012 lebih rendah dibanding tahun sebelumnya saat Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan sebesar 26,06%. Selama 2012, total ekspor Indonesia sebesar US$ 190,4 miliar dengan total nilai impor sebesar US$191,67 miliar.

"Defisit 2012 menunjukkan bahwa target peningkatan ekspor tidak tercapai, sebaliknya nilai impor justru semakin melonjak," kata Suryamin.

Dia menuturkan, selama 2012 dari 10 komoditas nonmigas tercatat tujuh mengalami penurunan ekspor seperti bahan bakar mineral, lemak dan minyak lemak nabati, mesin/peralatan listrik, karet dan barang dari karet, komoditi bijih, kerak dan abu logam, kertas/karton, dan pakaian jadi bukan rajutan.

Sedangkan komoditas nonmigas yang mengalami kenaikan hanya tiga yaitu mesin-mesin/pesawat mekanik, dan kendaraan dan bagiannya.

"Selama periode Januari-Desember 2012, ekspor dari 10 golongan barang tersebut memberikan kontribusi 63,05 persen terhadap total ekspor nonmigas," kata Suryamin.

Menurut dia, nilai ekspor Indonesia hampir ke seluruh negara tujuan umumnya mengalami penurunan, meskipun dari sisi volume ekspor mengalami peningkatan. Penurunan nilai ekspor lebih karena harga-harga komoditi terutama CPO, barang tambang mengalami kemerosotan.

Selama 012, ekspor Indonesia terbesar masih ke China yang mencapai US$20,86 miliar atau 13,63% dari total ekspor nasional, disusul Jepang sebesar US$17,23 miliar (11,25%), Amerika Serikat US$14,59 miliar (9,53%), dan India sebesar US$12,45 miliar.

Turunkan Kepercayaan

Defisit tersebut dikhawatirkan menurunkan tingkat kepercayaan pelaku pasar.

"Neraca perdagangan yang deficit. Tidak ada plusnya, yang ada minus akan menurunkan kepercayaan pelaku pasar terhadap Indonesia," kata pengamat ekonomi Ryan Kiryanto di Jakarta, Sabtu seperti dilansir Antara.

Menurut dia, turunnya tingkat kepercayaan pelaku pasar tersebut akan mendorong pada efek ikutan yang lebih luas.

Ia mencontohkan, dalam tataran yang lebih luas, neraca perdagangan yang defisit pada dasarnya berbahaya lantaran menggerogoti fundamental ekonomi. "Kondisi ini juga memperlemah nilai tukar rupiah," katanya.

Untuk itu, ia meminta pemerintah untuk mendorong ekspor sebesar-besarnya melalui diversifikasi produk dan negara tujuan ekspor.

"Itu juga berarti bahwa pemerintah harus menekan impor serendah-rendahnya," katanya.

Ryan juga menyarankan agar pemerintah mengupayakan ketersediaan bahan baku dan bahan penolong di dalam negeri untuk merespons banjirnya investasi langsung ke Indonesia.