Investasi Industri Kertas Ditaksir tumbuh 8%

Senin, 04/02/2013

NERACA

Jakarta - Pasar ekspor kertas sedang mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Maka dari itu, para produsen kertas akan melakukan peningkatan kapasitas produksinya, salah satunya dengan menggencarkan investasi. Dengan demikian, Pemerintah memperkirakan realisasi investasi industri kertas dan barang cetakan akan tumbuh sekitar 8% dari realisasi investasi tahun lalu sebesar Rp8,8 triliun.

"Dengan meningkatnya permintaan kertas di pasar ekspor, maka telah membuat produsen meningkatkan kapasitas produksinya. Hal ini membuat realisasi investasi industri kertas mengalami kenaikan sebesar 8% dibandingkan tahun lalu," Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Agro, Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Benny Wahyudi, di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Benny menjelaskan bahwa investor dalam negeri masih banyak untuk menanamkan modalnya di sektor kertas sementara investasi pulp kemungkinan akan banyak diminati oleh investor asing. Menurut dia, beberapa produsen kertas dalam negeri juga turut serta meningkatkan kapasitasnya produksinya demi memenuhi permintaan pasar ekspor.

Terkait dengan rencana pemerintah untuk menaikkan biaya energi, secara tidak langsung akan memberi dampak bagi industri kertas. Pasalnya industri kertas membutuhkan energi batubara dalam menjalankan roda bisnisnya. Namun tidak sampai menggangu rencana investasi. "Pabrikan kertas lebih banyak menggunakan batu bara sebagai sumber energi. Selain itu, tuduhan dumping terhadap produk kertas Indonesia di pasar ekspor tidak akan berdampak terlalu signifikan karena permintaannya terus bertambah," paparnya.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang diolah Kemenperin, investasi di sektor industri kertas dan barang cetakan pada tahun lalu untuk PMDN sebesar Rp7,56 triliun dengan 64 proyek. Sedangkan untuk PMA dari 57 proyek menghasilkan investasi sebesar Rp1,30 triliun. Total investasi sektor industri manufaktur pada 2012 meningkat dari Rp99,6 triliun menjadi Rp155 triliun.

Pengusaha Pesimis

Sementara itu, kalangan dunia usaha yang diwakili oleh Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) mengklaim bahwa kinerja industri kertas dan pulp kurang menggembirakan sampai dengan pertengahan 2013. Hal ini lantaran krisis ekonomi di kawasan Eropa dan maraknya kampanye hitam tantang produk-produk Indonesia. Ketua Umum APKI Misbahul Huda mengungkapkan bahwa pada pertengahan tahun 2012 pernah terjadi penurunan permintaan sehingga berpengaruh terhadap volume industri pulp dan kertas nasional yang turun 2-3%.

Penurunan permintaan, kata Misbahul, agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena terjadi pada pertengahan tahun dimana konsumsi pulp dan kertas akan mengalami kenaikan seiring dengan kebutuhan tahun ajaran baru dan negara-negara di Eropa dan AS yang mulai memasuki musim dingin. Akibat turunnya permintaan membuat harga kertas di dalam negeri sulit naik karena berlimpahnya pasokan. Bahkan sejumlah produsen kertas mengalami kelebihan stok, jika kondisi normal stok produsen hanya 2.000 ton kini bisa mencapai 4.000 ton."Akibatnya harga kertas saat itu mencapai US$800-850 per ton dan pulp US$630-650 per ton. Biasanya, selisih harga kertas dan pulp minimal US$250 per ton, namun saat ini kurang dari US$200 per ton," tuturnya.

Kepala Riset Equator Se­curities Gina Nasution menga­takan, prospek industri kertas ke depan masih cukup baik karena produk kertas tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari. "Kertas masih dibutuhkan oleh masyarakat dan juga industri dan sektor-sektor ritel," katanya. Gina juga mengatakan, bahan baku kertas juga dapat digunakan untuk produk-produk lain tidak hanya untuk pembuatan buku tulis dan hasil olahannya juga tidak hanya dipasok ke masyarakat, tapi juga ke industri lain.

Produk Andalan Dunia

Sebelumnya, Presiden Komisaris PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Tony Wenas menjelaskan, produk pulp dan kertas Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menjadi ancaman bagi negara pesaingnya di Eropa dan Amerika Selatan. Hal itu tak terlepas dari keunggulan produk hutan Indonesia yang dapat dipanen lebih cepat dibandingkan negara pesaing.

Untuk diketahui, tanaman akasia yang menjadi bahan baku pembuatan kertas bisa dipanen di Indonesia hanya dalam tujuh tahun. Sedangkan di Eropa atau Amerika Selatan, dibutuhkan waktu lebih dari 20 tahun. Keunggulan lain adalah jarak Indonesia dan China sebagai pasar utama kertas dunia relatif lebih dekat dibandingkan Brazil dan Eropa. "Industrialisasi di China dan dunia bakal tumbuh pesat. Jadi, kebutuhan kertas akan naik signifikan," ungkapnya.

Untuk mengekspor produk pulp maupun kertas ke China, produsen kertas Indonesia hanya butuh waktu tujuh hari, sedangkan perusahaan dari Eropa dan Brazil membutuhkan waktu lebih dari 30 hari. Dalam perhitungan RAPP, produksi kertas Indonesia saat ini mencapai 12 juta ton per tahun atau 2,2% pangsa pasar dunia yang mencapai 350 juta ton. Saat ini, produksi kertas Indonesia merupakan yang terbesar ke-12 dunia. Sementara itu, produk pulp nasional saat ini ditaksir sebesar 7 juta ton per tahun dan mengisi 2,5% pangsa pasar dunia sebanyak 200 juta ton. Produksi pulp Indonesia merupakan terbesar ke-9 dunia.

Dengan tingkat daya saing yang tinggi, Wenas menilai, para pelaku usaha sudah sepatutnya membuat sertifikasi hutan kayu yang diakui secara internasional. Sertifikat kelestarian hutan itu selanjutnya harus didukung pemerintah sehingga bisa diakui di dunia internasional. "Brasil sudah berhasil karena mereka bisa membuat sertifikasi yang diakui internasional. Kita belum punya (sertifikasi) itu," tegas Wenas.