Produktivitas Sapi Buruk, Makelar Impor Bergentayangan

Senin, 04/02/2013

NERACA

Jakarta - Kasus suap kuota sapi impor yang baru baru ini terjadi telah menjadi berita besar. Bahkan sebagian masyarakat pun bertanya, sebenarnya apa permasalahan yang mendasar dari kasus ini. Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi mengungkapkan terjadinya kasus kuota sapi impor tersebut karena Kementerian Pertanian sampai saat ini kurang fokus mendorong produktivitas sapi lokal.

Hal itu, lanjut Bayu, mengakibatkan stok daging sapi yang ada di dalam negeri sangat kurang. "Kita tetap harus konsen penuh terhadap peningkatan produksi. Kami mengandalkan teman-teman di Kementan untuk lebih konsen ke sana," ungkap Wamendag di kantornya, Jakarta, akhir pekan lalu.

Lebih jauh lagi Bayu menerangkan, tugas Kementerian Perdagangan adalah menyempurnakan tata kerja dari Kementerian Pertanian sehingga harga daging sapi di dalam negeri bisa dikendalikan. Untuk itu,Bayu terus menyempurnakan aturan tata kerja sehingga harga bisa terkendali kemudian insentif peternak juga memadai dan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

Sebaiknya mekanisme perizinan akan lebih baik sesedikit mungkin antara yang memberi izin dengan mengajukan izin. Kita bikin e-lisensi. Pengajuan izin lewat elektronik saja. Pelayanan jauh lebih baikn kontrol akan lebih terbuka. Ini langkah yang akan diajukan dan disepakati bersama.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Lampung, Bustanul Arifin mengatakan metodologi estimasi pasok daging di Tanah Air selama ini tergolong buruk. Akibatnya sulit untuk memberikan penilaian tentang realistis tidaknya kuota impor yang ditetapkan.

Yang jelas, hal ini, kata dia, semakin memperparah kesenjangan produksi dan konsumsi daging yang menyebabkan Indonesia sangat tergantung pada pasok impor. “Masalah utama kita sederhana, produksi daging domestik lebih kecil dari konsumsi. Itu sebabnya Indonesia masih tergantung pada impor, walau tidak besar, cuma 30 persen,” kata Bustanul Arifin.

Menurut dia, produksi daging sapi pada tahun 2012 sekitar 320 ribu ton, sedangkan konsumsi sudah mencapai 400-450 ribu ton. “Bahkan ada estimasi konsumsi 2013 akan mencapai 500 ribu ton,” tutur Bustanul.

Tahun lalu, Pemerintah memangkas kuota impor sapi bakalan dari 600 ribu ekor menjadi 283 ribu ekor dan kuota impor daging sapi dari 90 ribu ton menjadi 34 ribu ton. Hal inilah, menurut Bustanul, yang turut menekan para pelaku impor daging nekad melakukan berbagai hal, termasuk menjadi makelar dengan perilaku melanggar hukum agar dapat menaikkan kuota.

Selain itu, Bustanul juga menengarai, struktur pasar daging sapi di Tanah Air tidak sehat cenderung oligopolistik. “Saya menduga ada struktur pasar yang tidak sehat, bahkan cenderung oligopoli, walaupun harus ada bukti akademik untuk menyatakan hal ini. Faktor oligopoli dan faktor berkurangnya kuota impor itu, secara bersama menjadi pressures bagi pelaku untuk berbuat sesuatu bahkan sampai diduga melanggar hukum,” kata Bustanul.

Fokus Produksi

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) angkat bicara soal prosedur mengurus kuota impor daging sapi selama ini diatur Kementan. Pengusaha merasa lembaga negara itu terlalu fokus membela peternak, sehingga konsumen dan industri terpinggirkan karena harga daging selalu melangit.

Wakil Sekretaris Jenderal Apindo Franky Sibarani menilai Kementan sebagai kementerian teknis diminta hanya fokus meningkatkan produksi sapi potong dalam negeri. Ikut mengurus izin impor membuat mereka tidak fokus menjalankan tugas. "Kementan pasti berpihak pada peternak, tapi kepentingan konsumen dan industri sekarang terabaikan, harga daging di masyarakat sekarang tidak terjangkau," ujarnya.

Bagi Apindo, lebih ideal bila urusan menentukan kuota impor daging sapi diserahkan pada Kemenperin dan Kemendag. Mekanismenya memakai rapat koordinasi di Kemenko Perekonomian. Pengusaha di sektor industri makanan minuman ini, tidak percaya masalah kuota impor bisa tuntas jika Kementan masih melakukan kerja ganda. Lembaga pimpinan Menteri Pertanian Suswono dinilai tidak mampu memberi data konkret berapa jumlah sapi nasional.

Tahun lalu, produksi daging sapi lokal mencapai 399.320 ton. Sementara tahun ini Suswono di pelbagai kesempatan menyatakan 85%kebutuhan daging Indonesia bisa dicukupi dari dalam negeri. "Sekarang yang dipegang (Kementan) kan data sensus sapi, kita tidak memiliki data hasil survei, berapa kebutuhan daging industri, berapa rumah tangga," cetusnya.

Data yang dianggap tidak valid itu, membuat pengusaha merasa pemerintah memberi janji surga. Pasalnya, pelaku usaha yakin pasokan daging harus ditambah 10 % dari total kebutuhan nasional 2013 sebesar 550.000 ton.

"Kebutuhan diperkirakan tambah 10 persen, tapi sekarang sapi lokal kosong di rumah potong hewan. Semester dua tahun ini harus kita buktikan, tapi kalau tidak ada lagi ya kuota impor daging sepertinya harus ditambah lagi," kata Franky. Pihaknya menagih janji Kementan yang bisa mengamankan pasokan dalam negeri.