Antisipasi Twin-Deficit

Oleh: Prof. Firmanzah PhD

Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan

Dalam makroekonomi twin-deficit adalah situasi dimana defisit transaksi berjalan (currect account deficit) memiliki korelasi positif dengan defisit fiskal (fiscal deficit). Penyebab dari hal ini bisa berasal dari defisit fiskal dimana penerimaan negara (perpajakan dan bukan pajak) tidak mampu menutupi belanja pemerintah (government spending). Akibatnya anggaran negara menjadi defisit. Semakin membesarnya defisit anggaran fiskal membuat kemampuan untuk meningkatkan net-ekspor dan investasi berkurang sehingga membuat terjadinya defisit pada neraca traksaksi berjalan.

Ketika pemerintahan suatu negara menutup defisit fiskal melalui utang luar negeri maka hal ini akan semakin memperbesar defisit transaksi berjalan. Kekhawatiran ini muncul ketika Indonesia memiliki defisit transaksi berjalan pada akhir 2012 mencapai US$ 1,63 miliar. Jumlah dan persentase ini cukup merisaukan karena mendekati ambang batas psikologis 3%. Hal ini menurut data BPS, dipicu oleh lonjakan impor yang cukup besar pada periode yang sama mencapai US$ 191,67 miliar atau naik 8,02%. Sementara total ekspor tahun lalu tercatat US$ 190,04 miliar, atau menurun 6,61%.

Dengan semakin membaiknya iklim investasi di Indonesia, BKPM memperkirakan total penanaman modal di Indonesia sampai akhir 2012 dapat melampui target sebesar Rp. 283 triliun. Dengan trend positif investasi baik PMA dan PMDN total investasi di Indonesia pada tahun 2012 dapat mencapai lebih dari Rp. 300 triliun.

Arus investasi di sektor riil memang sempat membuat nilai impor Indonesia meningkat dalam beberapa waktu lalu. Dimana impor bahan baku penolong dan barang modal mendominasi impor. Membuat transaksi perdagangan menjadi defisit. Namun dalam jangka panjang produksi dari investasi yang masuk akan meningkatkan output dan nilai tambah ekspor nasional. Upaya ini juga disertai dengan diversifikasi pasar ekspor non-tradisional dan akan mengembalikan neraca transaksi perdagangan menjadi positif.

Defisit anggaran dalam APBN juga kita pertahankan dalam tingkat yang aman. Pemerintah dan DPR telah sepakat bahwa defisit anggaran terhadap PDB 2013 ditetapkan sebesar 1,65%. Meskipun jumlah ini meningkat dari usulan pemerintah sebelumnya yang hanya 1,62% tetapi kenaikan ini masih jauh dari batas ambang psikologis yaitu maksimum 3% terhadap PDB. Efisiensi penggunaan anggaran APBN terutama perjalanan dinas bermanfaat untuk menekan defisit fiskal kita sekaligus pemanfaatan bagi program yang lebih produktif. Menjaga defisit fiskal pada tingkat yang aman juga merupakan upaya untuk mencegah munculnya potensi twin-deficit terjadi.

Kebutuhan akan pendanaan infrastruktur juga diarahkan untuk tidak membuat defisit transaksi semakin meningkat. Pelibatan BUMN dalam pembangunan infrastruktur dan swasta melalui skema PPP juga merupakan solusi untuk tidak membuat defisit fiskal membengkak. Regulasi untuk mengakomodasi kerjasama antara pemerintah dengan swasta kini masih dalam tahap penyusunan untuk dijadikan dasar PPP. Optimalisasi dana masyarakat baik tabungan dan investasi juga merupakan strategi untuk tidak membuat defisit fiskal membuat defisit transaksi berjalan membesar.

BERITA TERKAIT

Pemerintah Harus Antisipasi Fluktuasi Harga Minyak

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Rofi' Munawar mengingatkan pemerintah melakukan antisipasi terhadap…

Perkuat Stabilitas untuk Antisipasi Kenaikan Bunga AS

      NERACA   Jakarta - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro menekankan pentingnya menjaga stabilitas untuk…

Banten Segera Bentuk BUMD Antisipasi Kenaikan Harga

Banten Segera Bentuk BUMD Antisipasi Kenaikan Harga NERACA Serang - Pemerintah Provinsi Banten segera membentuk badan usaha milik daerah (BUMD)…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Penggabungan PGN Ke Pertamina - Oleh : Jajang Nurjaman, Koordinator Investigasi Center for budget Analysis (CBA)

Hingga september 2017 total aset Perusahaan Gas Negara (PGN) mencapai USD6.307.676.412 atau setara Rp83.892.096.279.600 (Kurs Rupiah Rp 13.300). Bahkan PGN…

Impor, Kenapa Takut?

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Jangan marah dulu dengan judul tulisan ini. Atau jangan buru-buru emosi…

Menteri Terbaik

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi   Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Salah satu tim pembantu dalam Kabinet Kerja…