CIMB Asset Management Bidik Dana Kelola Rp3,15 Triliun

NERACA

Jakarta- PT CIMB Principal Asset Management menargetkan total dana kelola total (Asset Under Management/AUM) tahun ini dapat menembus angka Rp3,15 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 50 % dari tahun lalu yang hanya mencapai Rp2,1 triliun.

Hal tersebut didorong adanya penerbitan produk reksa dana baru, “Dua produk baru yang akan diluncurkan yaitu CIMB Principal Indo Domestic Equity Fund dan fix income. Ini sejalan dengan target perusahaan untuk menggenjot produk reksa dana berbasis equity dalam dua tahun ke depan.” jelas Chief Investment Officer CPAM, Fajar Hidajat di Jakarta, Kamis (31/1).

Dari produk reksa dana CIMB principal Indo Domestic Equity Fund, menurut dia, ditargetkan perusahaan dapat memperoleh dana kelola sebesar Rp100 miliar. Pihaknya optimistis produk reksa dana baru ini dapat menyerap investor karena dapat menghasilkan return sekitar 10-15% dalam kurun waktu satu tahun. “Target return tersebut sama dengan target rata-rata return reksa dana saham secara menyeluruh tahun ini.” ujarnya.

Dia mengatakan, produk equity akan lebih menguntungkan karena fee yang didapat perusahaan lebih besar. Dengan transaksi yang lebih aktif, reksa dana berbasis ekuitas ini bisa dikenakan tarif fee hingga 3%. sementara produk berbasis fix income hanya bisa dikenakan fee mencapai 1,5 persen. Ke depan, perusahaan akan meningkatkan kinerja perusahaan melalui saham, yaitu dari sekitar 44% menjadi 50%

Revitalisasi Reksa Dana

Selain meningkatkan kinerja produk equity, lanjut dia, perusahaan akan melakukan revitalisasi atas reksa dana perseroan yang sudah ada, dan meluncurkan lagi beberapa reksa dana baru. Selain itu di tahun 2014 perusahaan juga akan membidik pasar kawasan Asia Tenggara melalui kerja sama dengan grup HSBC. “Nantinya perusahaan akan bekerja secara multinasional dan akan menyalurkan global fund, baik dari dalam maupun luar negeri.” jelasnya.

Dengan melakukan ekspansi ke kawasan Asia Tenggara, pihaknya akan membidik investor global dengan produk produk global bond. Sementara di tahun lalu perusahaan masih mengandalkan produk fix income yang dinamakan US Dollar Fund.

Presiden Direktur CIMB Principal Asset Management Reita Farianti mengatakan, kedua produk reksa dana tersebut akan fokus ke saham emiten yang produknya banyak dikonsumsi di dalam negeri. Karena itu, pihaknya optimistis produk reksa dana tersebut dapat berjalan baik di pasar, “Saat ini kondisi ekonomi global masih belum stabil dan terjadi current account defisit, tapi saya lihat tingkat konsumsi dalam negeri masih cukup tinggi,” jelasnya.

Dengan pertumbuhan konsumsi domestik, lanjut dia akan menjadi penggerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke depan. Oleh karena itu, terjadinya defisit neraca perdagangan atau currency account deficit sebetulnya tidak perlu dikhawatirkan. “Karena bila kita lihat nilai impor tahun lalu saja masih lebih banyak barang terutama bahan baku dan mesin-mesin pabrik dan bukan barang konsumsi,” ujarnya.

Dia menambahkan, di Australia saja defisit perdagangan tidak terlalu mempengaruhi perekonomiannya. Apalagi di Indonesia yang ditunjang dengan demografi yang baik dan penduduk usia produktif lebih besar dari yang bukan usia produktif. “Kita memiliki sumber daya alam yang melimpah. Oleh karena itu kami perkirakan IHSG tahun ini upside 15%,” pungkasnya.(lia)

Related posts