DPR: Pemerintah Harus Pertimbangkan Redenominasi

NERACA

Jakarta - Pemerintah harus mempertimbangkan wacana redenominasi rupiah karena akan menimbulkan polemik baru ditambah dengan situasi perekonomian dunia yang masih fluktuasi. "Terlebih hal tersebut berpotensi melanggar UU Nomor 17 Tahun 2007 tentang RPJP dan Perpres No.5/2010 mengenai RPJM. Di dalam UU maupun perpres tersebut tidak ada program redenominasi," kata Arif Budimanta di Jakarta, Kamis.

Menurut anggota DPR RI dari Fraksi PDIP tersebut, redenominasi tidak memiliki urgensi mengingat situasi perekonomian global yang belum lepas dari krisis. "Kondisi perekonomian dalam negeri juga masih sangat rentan terhadap berbagai gejolak baik dari dalam maupun luar negeri. Inflasi yang ada tanpa redenominasi saja sudah cukup tinggi sehingga tidak relevan untuk menambah persoalan baru," ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa redenominasi rupiah tidak akan berpengaruh terhadap inflasi jika diasumsikan masyarakat menerima rencana tersebut. "Tidak akan mudah menyosialisasikan rencana ini kepada masyarakat dengan kesenjangan pendapatan yang tinggi, tingkat pendidikan masih rendah, dan akses terhadap informasi yang masih terbatas sehingga rencana redenominasi akan menimbulkan gejolak di tengah masyarakat dan justru inflasi yang tinggi," tukas Arif.

Selain itu, lanjut dia, ongkos ekonomi untuk melakukan redenominasi sangat besar serupa biaya sosialisasi, penarikan uang lama, dan pencetakan serta pendistribusian uang dengan nominal baru. "Diperkirakan biaya sosialisasi mencapai sekitar Rp10 triliun," tambahnya.

Arif menilai kewibawan suatu negara bukan dinilai dari nilai tukar mata uangnya terhadap mata uang lainnya, melainkan dilihat dari struktur, kekuatan, dan kedaulatan ekonomi negara-negara tersebut. "Nilai tukar mata uang Vietnam lebih rendah dari Indonesia, yaitu satu dong Vietnam setara dengan Rp2. Akan tetapi, tidak pernah merasa minder akan hal itu," katanya.

Menurut dia, sejumlah negara sudah melakukan redenominasi mata uangnya. Di antaranya adalah Rumania dan Turki. Rumania memotong 4 (empat) digit nominal mata uangnya, sedangkan Turki memotong 6 (enam) digit, yang membutuhkan waktu 10 tahun masa transisi penerapan yang dilakukan dengan disiplin fiskal yang ketat. [ardi]

BERITA TERKAIT

Tuntut Transparansi, Impor Beras Harus Diaudit - BUNTUT KETIDAKSINKRONAN DATA

NERACA Jakarta – Komitmen pemerintah untuk menciptakan swasembada pangan masih jauh dari harapan. Pasalnya, penyakit pemerintah dalam mengatasi keterbatasan pasokan…

DPR Targetkan Selesaikan 17 RUU

DPR Targetkan Selesaikan 17 RUU NERACA Jakarta - Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengatakan institusinya menargetkan menyelesaikan 17 rancangan undang-undang…

Pemerintah Perluas Akses Pasar Produk Usaha Kecil Dalam Negeri - UKM Lokal

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan (Kemendag) berupaya memperluas akses pasar produk dalam negeri khususnya bagi pelaku usaha kecil menengah (UKM),…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Pengembangan Industri Asuransi Perlu Modal Kuat

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan upaya pengembangan industri asuransi di Indonesia agar sehat…

OCBC NISP : Kenaikan Bunga Acuan Sudah Cukup

      NERACA   Jakarta - Presiden Direktur Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja menilai dosis kenaikan suku bunga acuan…

Defisit Transaksi Berjalan 2018 Diprediksi 2,3% dari PDB

  NERACA   Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengungkapkan defisit transaksi berjalan sepanjang 2018 akan mencapai 23 miliar…