Susul Indeks SMInfra 18, Indeks Ekspor Bakal Dirilis - Target Launching April

NERACA

Jakarta – Sukses meluncurkan indeks saham bidang infrastruktur atau SMinfra 18, berikutnya PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menyiapkan untuk membuat indeks saham yang berorientasi ekspor menyusul partisipasi pasar modal domestik terhadap pertumbuhan ekonomi domestik.

Direktur Pengembangan BEI, Friderica Widyasari mengatakan, dalam tiga bulan kedepan akan diluncurkan indeks berorientasi ekspor, “Pembentukan indeks saham emiten berorientasi pada ekspor, salah satu cara untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia selain didorong juga dari infrastruktur,”katanya di Jakarta, Kamis (31/1).

Menurutnya, pendorong ekonomi domestik tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, dari sisi ekspor juga harus ditingkatkan. Kondisi itu yang memicu Bursa juga akan meluncurkan indeks ekspor.

Meski demikian, Friderica belum dapat mengungkapkan lebih jauh apakah pihak BEI akan bekerjasama dengan institusi terkait ekspor dalam pembentukan ekspor. Kata Friderica, indeks infrastruktur itu merupakan salah satu wujud partisipasi Bursa mendukung pertumbuhan ekonomi."Indeks itu bekerjasama dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), dalam indeks SMinfra18 terdapat 18 saham emiten yang mendukung infrastruktur salah satunya perbankan. Indeks SMinfra18 itu akan dikaji ulang setiap dua tahun sekali,”ujarnya.

Sementara pengamat ekonomi, Aviliani menambahkan, logistik dan infrastruktur merupakan agenda yang mendesak bagi perkembangan ekonomi Indonesia, “September 2012 lalu, McKinsey Global Institute (MGI) meramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi ketujuh terbesar di dunia pada 2030 mendatang," paparnya.

Dia menambahkan, penguatan dukungan pendanaan untuk menangkap peluang dan menjawab tantangan dengan membentuk lembaga pembiayaan khusus infrastruktur, pembiayaan perbankan terutama bank BUMN, pemanfaatan sumber pendanaan dari dana pensiun dan asuransi, serta IPO BUMN yang terkait infrastruktur.

Menurutnya, opsi mengeluarkan surat utang (obligasi) sebagai modal pembiayaan dan instrumen pembiayaan bilateral, multilateral dan internasional harusnya menjadi opsi terakhir jika sumber pembiayaan utama sudah tidak dapat dilakukan.

Selain itu, lanjut dia, memprioritas pembangunan infrastruktur di sektor pertanian dan pedesaan agar masalah ketimpangan juga dapat teratasi. (lia)

BERITA TERKAIT

Optimistis di 2019, BMW Indonesia Bakal Rilis 10 Mobil Baru

BMW Grup Indonesia akan meluncurkan sebanyak 10 mobil terbaru pada 2019, menunjukkan kepercayaan pabrikan mobil mewah asal Jerman itu dalam…

Likuefaksi di Palu Bakal Dijadikan Tempat Wisata

Salah seorang anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Matindas J Rumambi mengatakan semua lokasi likuefaksi di Kota Palu dan Kabupaten…

Demi 18 Juta Wisman, Kemenpar Bakal Perbanyak Diskon Wisata

Menteri Pariwisata Arief Yahya optimis bisa mendatangkan setidaknya 18 juta wisatawan mancanegara (wisman) tahun ini, atau sekitar 90 persen dari…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Fajar Surya Wisesa Melesat 136,1%

Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,405 triliun atau naik 136,1% dibanding periode…

Lagi, Comforta Raih Top Brand Award

Di awal tahun 2019 ini, Comforta Spring Bed kembali meraih penghargaan Top Brand Award. Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin,…

BPD Bank Kalsel Rencanakan IPO di 2020

Bila tidak ada aral melintang, Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kalimantan Selatan atau Bank Kalsel rencanakan melakukan penawaran umum saham perdana…