Target IPO Tidak Akan "Menciut"

BUMN Batal Listing,

Jumat, 01/02/2013

NERACA

Jakarta- Batalnya penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO) beberapa perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), rupanya tidak menyurutkan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memenuhi target IPO 2013. “BEI tanpa BUMN akan tetap berjalan, namun semakin banyak perusahaan BUMN yang masuk akan semakin baik,”kata Direktur Utama BEI, Ito Warsito di Jakarta, Kamis (31/1).

Menurutnya, sejauh ini sebenarnya ada beberapa anak usaha perusahaan BUMN yang berpotensi untuk menjadi perusahaan publik. Meskipun demikian, keputusan untuk go public merupakan keputusan pemerintah. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa semakin banyak BUMN yang masuk ke BEI akan mampu memberikan kontribusi yang lebih baik bagi perkembangan pasar modal.

Dia menilai, perusahaan BUMN merupakan salah satu motor pendorong pertumbuhan ekonomi yang belum dimanfaatkan pemerintah secara optimal. Indonesia sangat membutuhkan dana untuk pembiayaan infrastruktur guna perkembangan ekonomi. Dengan dicatatkannya perusahaan BUMN sebagai perusahaan go public, tentu dapat mendukung kinerja perusahaan dan memperoleh penambahan dana untuk melakukan ekspansi.

Saat ini, lanjut dia, baru ada sebanyak 18 perusahaan BUMN yang tercatat di lantai bursa dari 141 perusahaan yang berada dibawah kementerian BUMN. Dari setiap perusahaan negara yang tercatat di bursa mampu mengalami peningkatan nilai kapitalisasi pasar yang cukup signifikan.

PT Semen Indonesia Tbk misalnya, sejak IPO nilai kapitalisasi pasarnya meningkat sebesar 90% dari Rp 1 triliun pada 1991 menjadi Rp 94 triliun. Sementara untuk Bank Mandiri tercatat mengalami peningkatan sekitar 14 kali lipat dan Perusahaan Gas Negara (PGN) juga mampu mengalami peningkatan sekitar16 kali dari nilai kapitalisasi pasar yang dicatatkan kali pertama.

Harga Komoditas

Diakui Ito, harga komoditas yang belum membaik menjadi salah satu hambatan yang membuat perseroan enggan melantai di tahun 2012, terutama untuk sektor tersebut, khususnya sektor perkebunan.

Hal tersebut juga menyebabkan perusahaan yang mencatatkan sahamnya (listing) khususnya di sektor pertambangan memperkecil jumlah saham yang ditawarkan kepada publik. “Tahun lalu ada yang listing tapi jumlah saham diperkecil karena kurang bagus harga batubaranya.” jelasnya.

Meskipun demikian, pihak BEI menegaskan, hal tersebut tidak serta merta menjadi alasan untuk merevisi target jumlah emiten sebanyak 30 emiten di tahun 2013. “Apakah komoditas akan membaik atau tidak, BEI tetap pada targetnya,” ujarnya.

Sementara analis saham, Lucky Bayu Purnomo sebelumnya mengatakan, sektor komoditas, seperti pertambangan dan CPO, di tahun 2013 masih belum cukup baik. Untuk mengakumulasi kedua saham tersebut saat ini dinilai memiliki nilai risiko yang tinggi.

Oleh karena itu, investor dan trader perlu untuk menerapkan sistem cut loss untuk level tertentu. Meskipun demikian, saham-saham komoditas yang memiliki nilai kapitalisasi besar dan mencatatkan fundamental yang cukup baik masih layak dikoleksi, “Dalam pertimbangan risiko, membeli saham batu bara yang tidak memiliki kapitalisasi besar cenderung akan memiliki profil risiko yang tinggi, sehingga para investor dan trader harus menerapkan sistem cut loss pada level tersebut.” jelasnya. (lia)