Pemerintah Stop Impor Gula Mulai Februari

Stok Aman Untuk 14 Bulan

Jumat, 01/02/2013

NERACA

Jakarta - Kementerian Pertanian memastikan dalam waktu 14 bulan ke depan kebutuhan gula kristal putih alias gula konsumsi dapat dipenuhi dari dalam negeri. Pasalnya tahun ini stok gula nasional mencapai 839 ribu ton. Karena itu pemerintah memastikan impor gula akan dihentikan mulai Februari 2013.

Menteri Pertanian Suswono mengaku akan mendorong peningkatan produksi gula dalam negeri. Salah satunya adalah dengan mengeluarkan harga pembelian pemerintah (HPP) gula baru. Suswono menjelaskan pada tahun ini, produksi gula ditargetkan sebesar 2,7 juta ton. Angka ini naik sebesar satu juta ton dari target 2012 yang sebesar 2,6 juta ton. "Kita baru akan mengkaji dan menentukan HPP-nya," ujarnya di Jakarta, Kamis (31/1).

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) HM Arum Sabil mengungkapkan industri gula telah hadir di Indonesia sejak ratusan tahun silam, ketika pemerintah Kolonial Belanda menjejakkan kekuasaannya di Bumi Pertiwi.

Bahkan, pada sekitar tahun 1930-an, Indonesia pernah tercatat sebagai negara eksportir gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba, dengan produksi mencapai tiga juta ton per tahun. Produksi tersebut mengalahkan negara-negara lain yang dikenal sebagai produsen gula dunia saat ini, semisal Brazil, India, dan Thailand.

Akan tetapi, ujar Arum, posisi Indonesia sebagai negara eksportir gula lambat-laun menyusut dan disalip oleh negara-negara tersebut. Angka produksi tiga juta ton tak pernah lagi bisa direalisasikan, bahkan kini bisa dibilang makin tertinggal.

Terakhir pada 2012, produksi gula nasional hanya mencapai sekitar 2,56 juta atau meningkat dibanding 2011 yang hanya 2,2 juta ton. Jumlah produksi itu belum mampu menutupi kebutuhan nasional terhadap gula konsumsi (gula kristal putih) yang mencapai sekitar tiga juta ton.

Sejak beberapa tahun lalu, pemerintah telah mencanangkan program swasembada gula (untuk pemenuhan gula konsumsi) bisa direalisasikan pada 2014 dan berbagai upaya untuk menuju ke arah itu terus dilakukan.

Salah satu upayanya adalah peningkatan produksi dan produktivitas tebu dengan intensifikasi dan ekstensifikasi lahan. Selain juga melalui program revitalisasi pabrik lama dan pembangunan pabrik baru.

"Melalui program intensifikasi dan ekstensifikasi lahan, diharapkan terjadi peningkatan produktivitas tebu dari sebelumnya sebesar 81,81 ton per hektare menjadi 86,4 ton per hektare pada tahun 2014," kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa.

Revitalisasi Gagal

Sejatinya, program revitalisasi industri gula sudah dicanangkan dan dibahas dalam berbagai forum seminar, diskusi dan lainnya, namun berkali-kali pula strategi dan sasaran revitalisasi gagal, bahkan terputus di tengah jalan.

Hampir sebagian besar pelaku industri gula dan pihak-pihak yang menaruh perhatian tinggi terhadap sektor ini, mulai mencemaskan masa depan dunia pertebuan itu. Arum menilai wajar jika strategi dan sasaran revitalisasi tidak bisa mencapai hasil maksimal, karena pemerintah terkesan setengah hati melakukan program itu.

"Padahal, petani dan pabrik gula sudah melakukan upaya-upaya perbaikan dari sisi budidaya tanaman dan `off-farm` (pabrik gula). Kalau tidak ada dukungan penuh dari pemerintah, bagaimana hasilnya bisa maksimal," katanya.

Dari perhitungan APTRI, kapasitas produksi sebanyak 62 unit pabrik gula (sebagian besar milik BUMN sudah berusia tua) yang kini beroperasi masih bisa dioptimalkan hingga tiga juta ton, untuk memenuhi kebutuhan gula konsumsi secara nasional. Asumsi itu dihitung berdasarkan kapasitas giling 62 pabrik mencapai 205.000 ton tebu per hari, rendemen sembilan persen dan masa giling berjalan 170 hari.

Selain dukungan pendanaan yang memadai, pemerintah juga harus melindungi petani tebu melalui kebijakan-kebijakan yang memihak mereka, sehingga petani tetap nyaman dan termotivasi untuk menanam tebu. "Salah satunya kebijakan soal pembatasan gula impor, khususnya rafinasi, yang selama beberapa tahun terakhir selalu menjadi momok bagi petani," tambah Arum.

Saat ini, industri gula nasional dihadapkan pada berbagai tantangan yang berat dan mengharuskan industri padat karya ini untuk melakukan perubahan-perubahan dengan tidak lagi hanya menjalankan aktivitas bisnis secara datar-datar.

Program swasembada gula tidak bisa hanya dilihat sebagai upaya memenuhi kebutuhan produksi gula, tetapi lebih penting lagi bagaimana membangun sebuah industri berbasis tebu yang kompleks dan terintegrasi dari hulu hingga hilir.

"Tanpa kita membangun industri berbasis tebu secara komprehensif dari hulu ke hilir, sesungguhnya swasembada gula akan sulit tercapai," kata Ketua Ikatan Ahli Gula Indonesia Ir Subiyono, dalam sebuah diskusi di Surabaya akhir 2012 lalu.