Dari Hang Out, Jadi Duta BNN

WANDA HAMIDAH, Anggota DPRD DKI Jakarta

Sabtu, 02/02/2013

Nasib baik masih berpihak kepada Wanda Hamidah, selebritas yang menjadi anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta. Dia lolos dari jeratan pasal pidana khusus narkotika karena tak ditemukan bukti bahwa dia telah mengonsumsi obatan-obatan terlarang itu. Dia sempat menginap di gedung Badan Narkotika Nasional (BNN) di Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, selama tiga hari guna menjalani pemeriksaan laboratorium dan psikologis untuk membuktikan apakah dalam tubuhnya mengandung zat-zat psikotropika tersebut.

Sebaliknya, justru BNN merekrut politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) itu menjadi Duta BNN. Dia diberi tugas untuk menjadi corong bagi BNN, menjelaskan kepada masyarakat tentang apa dan bagaimana kerja BNN itu. "Alhamdulillah wasyukurillah, berkat rahmat Allah SWT dan atas lindungan Allah SWT, pada sore hari ini pukul 18.30 WIB saya dapat berkumpul kembali bersama teman-teman media, keluarga, sahabat, “ kata Wanda saat bersama Kepala Humas BNN Kombes Sumirat dan pengacaranya Malik Bawazier, menggelar jumpa pers di gedung BNN, Rabu (30/1) petang.

Sebelumnya, Wanda bersama presenter Raffi Ahmad dan belasan orang lainnya ditangkap petugas BNN di rumah Raffi di kawasan Lebak Bulus, Jaksel pada Minggu (27/1) selepas subuh. Sebelumnya mereka berkumpul malam-malam atau istilah gaulnya, hang out, atau dugem (dunia gemerlap) di sebuah restoran di kawasan Kemang, Jaksel, Sabtu malam. Dari Kemang, Wanda sempat pulang dan ganti mobil ke rumahnya di kawasan Bona Vista, Lebak Bulus.

Tidak jelas, apakah dugem dan hang out tersebut dalam upaya menunjang tugasnya sebagai anggota Komisi E DPRD DKI yang membidangi masalah sosial, pendidikan, kesehatan, olah raga, pemuda, keluarga berencana, dan pemberdayaan masyarakat dan perempuan. Namun, pertemuan itu rupanya untuk membicarakan rencana bakti sosial kepada korban banjir. Yang terang, petugas BNN menengarai di antara mereka ada yang kedapatan mengedarkan dan sekaligus mengonsumsi narkoba.

Aktivis Kampus

Perempuan kelahiran Jakarta, 21 September 1977 itu termasuk kaum gaul dan aktivis. Saat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Wanda pernah menjadi ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) tingkat universitas pada 1998-1999. Itu sebabnya dia juga ikut terlibat dalam gerakan reformasi yang berjuang untuk menumbangkan rezim Presiden Soeharto. Dia juga ikut menyaksikan beberapa rekannya yang terkapar di halaman kampus saat ditembaki aparat keamanan yang hendak menghalau demonstran anti-Soeharto ketika itu.

Wajahnya yang molek itu akhirnya mengantarnya menjadi gadis sampul sebuah majalah ibukota. Hingga akhirnya bekerja sebagai pembaca berita di Metro TV pada 2000-2002. Tak lama dia mundur dari dunia pertelevisian dan memilih jalur lain. Putri dari pasangan Muhammad Husein dan Nini Hanifah itu mendirikan dan memimpin Yayasan Azzahra yang bergera di bidang sosial dan penyantunan anak kurang mampu.

Perkenalannya dengan pengusaha yang juga politisi dari PAN Cyril Raoul Hakim pun menyeret Wanda untuk aktif di dunia politik. Keduanya sempat menikah sejak 2000. Namun pada November 2012 lalu, keduanya bercerai. Dari mereka, terlahir anak laki-laki dan dua perempuan, yaitu . Syafi Kryan Hakim, Aleyda Nashia Hakim, Noor Shalima Zamaiya Hakim, Muhammad Alfath Hakim, dan Rakshan Rashad Hakim.

Saat ini,Cyril tercatat sebagai salah seorang ketua DPP PAN dalam di bawah rezim Hatta Rajasa. Sedangkan, Wanda masih tercatat sebagai anggota Fraksi Amanat Bangsa (FAB) DPRD DKI masa bakti 2009 – 2014. Di sana, dia pernah menjadi ketua fraksi gabungan dari PAN dan PKB itu. Selain di Komisi E,Wanda juga tercatat sebagai anggota Komisi Anggaran DPRD.

Dia sempat mencalonkan diri sebagai kandidat gubernur DKI periode 2012-2017, namun kandas karena tak memperoleh dukungan dari partainya. Sebagai gantinya, dia pun mendukung kandidat gubernur Faisal Basri yang juga bekas seniornya di PAN dulu. Faisal maju melalui jalur independen, sebab, PAN sendiri mendukung incumbent Fauzi Bowo dari Partai Demokrat.

Alumnus SMAN 3 Setia Budi, Jakarta itu pernah aktif di sejumlah organisasi. Di antaranya menjadi anggota Lembaga Ukum Masyarakat Profesional Madani (MPM), pernah menjadi sekretaris Ikatan Mahasiswa Magister Notariat UI pada 2003-2004. Gelar S2 Kenotariatan UI disandangnya pada 2006. Selama lima tahun, yaitu pada 2006-2010, Wanda tercatat menjadi wakil ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak.

Kepada media massa, Wanda berjanji akan lebih selektif dalam bergaul dan memilih teman agar tak terjebak dalam dunia hitam. "Saya akan berhati-hati lagi, dalam bepergian. Saya tidak lagi akan berada di tempat dan waktu yang salah," ujar perempuan berkacamata minus itu. (saksono)