Industri Genteng Lokal Tak Mampu Bersaing

Ada banyak tempat menjadi sentra industri genteng tanah liat. Sebut saja genteng Sokka dari Kebumen, Sidorejo, Godean, Yogyakarta, genteng Plered, Cirebon, Jabar, sentra genteng Kumbung Baru Kabupaten Lombok Tengah, sentra Wirun di Sukoharjo, Jateng, sentra genteng di Nguling, Pasuruan, Jatim, maupun sentra Karangasem di Grobogan, Jateng. Mereka memproduksi genteng jenis mantili, kodokan, sirap, juga kerpus.

Namun, sentra-sentra genteng skala industri rumah tangga (IRT) itu sudah mulai tergerus zaman, lambat laun bangkrut. Ada sejumlah penyebab kebangkrutan industri genteng tersebut. Di antaranya kesulitan bahan baku, seperti yang dialami perajin di Plered. Mereka mulai kesulitan mendapatkan tanah liat yang berkualitas. Yang bangkrut, juga karena tak mau memodernisasi peralatan alat hasilnya makin berkualitas.

Itu yang sudah dilakukan para perajin genteng di Kumbung Baru. Mereka mulai membeli mesin molen sebagai pengaduk tanah liat, dan mesin cetak pres dari Bali dan Jawa. Alhasil, proses pembuatan genteng menjadi lebih cepat. Dengan peralatan tradisional, membuat genteng hingga bisa dipasarkan butuh waktu sepekan. Dengan pertolongan mesin-mesin itu, prosesnya menjadi lebih singkat, cukup tiga hari saja. Hasil produksinya juga bisa lebih banyak.

Digerus Produk Pabrik

Era kebangkrutan sentra genteng di Kumbung Baru mulai datang justru di saat mereka mampu memproduksi genteng lokal yang berkualitas. Ada kebijakan pemerintah setempat yang mewajibkan sekolah-sekolah dan perkantoran pemerintah tidak lagi memakai genteng lokal, tapi harus dengan genteng multi roof yang dibuat di pabrik besar.

“Hanya saja ketika ada kebijakan pemerintah agar semua instansi seperti sekolah-sekolah dan juga gedung perkantoran memakai genteng jenis multi roof, maka pemasaran genteng produksi Desa Kumbung Baru kini merosot drastis, dan banyak perusahaan yang akhirnya gulung tikar atau bangkrut,” kata Ruslan Efendi, pemilik UD Sari Ayu, salah satu perusahaan genteng di Desa Kumbung Baru.

Genteng multi roof terbuat dari campuran tanah liat dan logam yaitu zincalume, yaitu mengandung unsur aluminium hingga 55%. Bentuk genteng multi roof merupakan lembaran yang merupakan kumpulan banyak genteng. Rata-rata per lembar sama dengan 10 genteng yang disusun berjajar 2 x 5. Selain multi roof, ada juga jenis genteng multicolor. Keduanya sama-sama berwarna-warni, jadi tampak lebih indah sesuai dengan warna kesukaan.

Keunggulan dari multi roof dibanding genteng pres biasa antara lain lebih tahan dari benturan dan beban atau lebih ringan, , bebas dari karat, pecah, serta serangan lumur dan jamur. Dengan ukuran yang lebih lebar, multi roof jenis lebih cepat pemasangannya. (saksono)

BERITA TERKAIT

Minim Sentimen Positif Apa Maknanya - Oleh : Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Judul ini terinsipirasi oleh hal yang berkembang di pasar. Saat ini kita tahu bahwa pasar uang dan pasar modal tidak…

Katrol Kompetensi SDM Industri 4.0, Kemenperin-BSN Teken MoU

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian dan Badan Standardisasi Nasional sepakat untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang terampil…

Industri Tekstil Indonesia Bidik Ekspor Senilai US$14 Miliar - Sepanjang 2018

NERACA Jakarta – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional diyakini mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan devisa dari ekspor…

BERITA LAINNYA DI HUNIAN

Separuh Generasi Milenial Tinggal di Kos - Survei IPW

Separuh Generasi Milenial Tinggal di Kos Survei IPW NERACA Jakarta - Survei Indonesia Property Watch (IPW) terhadap generasi milenial menunjukkan…

JRP Rampungkan Lebih Cepat Bintaro Plaza Residence

JRP Rampungkan Lebih Cepat Bintaro Plaza Residence   NERACA Tangerang Selatan - PT Jaya Real Property Tbk berhasil merampungkan lebih cepat…

Mitsubishi: Mulai Ada Tren Lift di Perumahan

Mitsubishi: Mulai Ada Tren Lift di Perumahan NERACA Jakarta - Presiden Direktur PT Mitsubishi Jaya Elevator and Escalator, Christian Satrya…