Bernostalgia Wisata Sejarah Pabrik Gula Tempoe Doeloe - Inovasi PTPN X Menggali Potensi Aset

Jakarta – Banyak catatan sejarah yang menggambarkan tentang kejayaan produksi gula dalam negeri dan eksistensi industri pabrik gula di Indonesia. Dahulu, Indonesia pernah mencapai kejayaan dalam produksi gula sebagai salah satu negara penghasil gula terbesar di dunia, dengan tingkat produksi gula tiga juta ton gula pasir pertahun. Sementara awal tahun 1930an, di pulau Jawa menjadi surga produsen gula tebu terkemuka di dunia dengan mencakup 200 ribu hektar lahan pertanian yang memasok tebu bagi 178 pabrik gula.

Selain itu, perjalanan pabrik gula di Indonesia yang telah berlangsung lama sejak abad ke-17 pada masa penjajahan kolonial Belanda telah membawa sejarah kelam bagi bangsa ini tentang adanya kebijakan tanam paksa pada bidang perkebunan dan hal itu, memaksa pribumi Indonesia untuk bekerja dengan kontrak yang tidak jelas.

Disamping itu, perjalanan panjang pabrik gula secara otomatis membentuk persepsi masyarakat terkait nilai sejarah yang melekat erat pada eksistensi pabrik gula di Indonesia. Dan sampai sekarang, kenang-kenangan bersejarah tersebut masih tersimpan rapih dan produktif di pabrik-pabrik tempo dulu pabrik gula di Indonesia. Diantaranya adalah bangunan, mesin-mesin tua dan raungan lokomotif ringkih namun bertenaga. Mesin-mesin tua yang diantaranya juga tercatat sejarah sebagai mesin-mesin terbaru post era bersejarah dan mengubah dunia “revolusi industri eropa”.

Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN X) merupakan perusahaan pabrik gula peninggalan Belanda yang kemudian di nasionalisasikan, hingga kini masih aktif beroperasi serta banyak menyimpan nilai sejarah. Mulai dari proses dan produksi masal dan bahkan di sejumlah pabrik gula milik PTPX X masih terdapat kereta api dengan tenaga mesin ketel uap yang difungsikan untuk mengangkut tebu.

Maka dalam rangka melestarikan sejarah pabrik gula tempo dulu, perseroan tengah mengembangkan program wisata sejarah di 11 pabrik gula peninggalan pemerintah kolonial Belanda. Ke-11 pabrik gula yang punya daya tarik sejarah itu adalah Watoetoelis, Toelangan, Kremboong (ketiga di Sidoarjo), Gempolkrep (Mojokerto), Djombang Baru, Tjoekir (Jombang), Lestari (Nganjuk), Meritjan, Pesantren Baru, Ngadiredjo (Kediri) dan Modjopanggoong (Tulungagung).

Kata Kepala Bidang Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) PTPN X, Wasis Pramono, ide membuka program wisata sejarah pabrik gula ini berawal dari keberadaan Monumen Kapal Selam di pusat Kota Surabaya, “Pada prinsipnya, program wisata sejarah pabrik gula ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman sejarah soal industri gula kepada masyarakat, terutama kalangan pelajar,”ungkapnya.

Merubah Image

Selain itu, menurutnya, program wisata sejarah pabrik gula juga dimaksudkan untuk merubah penilaian masyarakat tentang pabrik gula yang tidak bersih, riuh dan kotor. Oleh karena itu, manajemen PTPN X terus melakukan pembenahan di seluruh pabrik, mulai dari masalah kebersihan di dalam pabrik maupun di luar pabrik hingga penataan lingkungan, “Untuk mendukung program wisata sejarah pabrik gula, kami sudah mencanangkan program kebersihan dan penghijauan di lingkungan pabrik gula sejak tahun lalu,”kata Wasis Pramono.

Dia menambahkan, sebenarnya selama ini sudah banyak wisatawan asing yang mengunjungi pabrik gula, terutama dari Belanda. ” Tujuan mereka ke pabrik gula tidak lain untuk bernostalgia dan melihat peninggalan nenek moyang mereka yang masih tersisa. Mereka ingin melihat apa dan dimana dulu nenek mereka pernah tinggal. Mereka juga merasa bangga peninggalan nenek moyang mereka masih digunakan sampai hari ini,”paparnya.

Asal tahu saja, data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim pada Juni 2012 wisatawan mancanegra (wisman) asal Belanda yang berwisata ke Jatim yakni 1.268 orang, naik 13,33% dibandingkan sebelumnya yang hanya 225 orang. Yang menarik umumnya mereka mengunjungi objek wisata di wisata kereta api lokomotif uap di pabrik Gula Semboro Kencong Jember. Artinya, wisata sejarah masih menjadi magnet dan daya tarik wisatawan mancanegara ke Indonesia.

Kemudian selain bisa melihat bangunan pabrik dan mesin kuno buatan tahun 1800 hingga 1900-an yang saat ini masih dioperasikan, pengunjung wisata sejarah pabrik gula pun bisa melihat dan menginap semalam di rumah-rumah dinas berusia ratusan tahun yang kondisinya masih terawat.

Diversifikasi Usaha

Besarnya potensi wisatawan yang berkunjung ke pabrik gula peninggalan Belanda, menjadi peluang bagi PTPN X untuk menggali sumber pendatapan usaha baru dari potensi aset yang dimiliki, selain mengandalkan pendapatan dari produksi gula semata. Hal ini pula yang memantapkan PTPN X untuk serius menggali bisnis wisata sejarah sebagai diversifikasi usaha perseroan.

Sekretaris Perusahaan M. Cholidi pernah bilang, salah satu peluang yang bisa digarap oleh pelaku industri gula adalah wisata sejarah. Hampir semua pabrik gula sudah berumur tua karena dibangun di masa kolonialisme Belanda, “Jika dikembangkan dengan baik, potensi itu bisa dioptimalkan dengan membuat model wisata sejarah yang menarik,”ujarnya.

Untuk mematangkan proses diversifikasi usaha, tentunya harus diimbangi dengan perencanaan yang matang tentang model pariwisata yang seharusnya diimplementasikan. Oleh sebab itu, pengembangan bisnis wisata sejarah pabrik gula dituntut adanya infrastruktur yang memadai, mulai dari modifikasi dalam pabrik, akses transportasi ke area wisata untuk kemudahan pengunjung, revitalisasi bangunan tua dan infrastruktur ruang istirahat atau hiburan agar pengunjung nyaman dan bisa berlama-lama di sejarah pabrik gula.

Disamping infrastruktur, PTPN X juga dituntut untuk memperhatikan kearifan lokal petani tebu sebagai mitra utama pabrik gula sekaligus pemasok bahan utama pembuatan gula. Petani tebu tidak bisa dilepaskan secara mutlak dari sejarah perkembangan pabrik gula di nusantara ini.

Sehingga ambisi mencapai Golden Era seperti yang dicanangkan PTPN X akan sinergis dengan peran petani tebu yang masih setia merelakan lahannya untuk dijadikan kebun tebu sebagai bagian terintegrasi perencanaan wisata sejarah pabrik gula.

Kemudian cara untuk mendongkrak bisnis wisata sejarah ini, akan pentingnya promosi secara masif kepada lembaga-lembaga pendidikan dan masyarakat luas. Seperti pengadaan festival kebudayaan giling dan promosi paket-paket perjalanan wisata.

Wisata sejarah pada pabrik gula dapat dijalankan dengan konsep tour edukasi dan kultural. Menjelajah pabrik, sambil mengenalkan sejarah gula, proses produksi gula, sejarah pabrik, ataupun sejarah material klasik pabrik seperti lokomotif, mesin, dan bangunan.

BERITA TERKAIT

Dukung Pendanaan PTPN III, PNMIM Kucurkan RDPT Rp2 Triliun

Dukung Pendanaan PTPN III, PNMIM Kucurkan RDPT Rp2 Triliun NERACA Jakarta - Dalam rangkaian acara IMF - World Bank Annual…

Menakar Potensi Pasar Dinfra Jasa Marga - Bidik Dana Rp 1,5 Triliun

NERACA Jakarta – Setelah sukses melakukan sekuritisasi aset untuk mendanai pengembangan jalan tol, rupanya membuat PT Jasa Marga (Persero) Tbk…

Presiden: Pangkas Regulasi yang Hambat Inovasi! - IMF-BANK DUNIA PUJI EKONOMI INDONESIA

Bali-Presiden Jokowi kembali mengingatkan pentingnya perkembangan teknologi demi masa depan yang lebih baik. Untuk itu, Presiden akan memberikan regulasi yang lebih…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Lebih Efisiensi dan Menguntungkan, Sistem Bioflok Jadi Solusi Budidaya Ikan Masa Depan

NERACA Sukabumi –  Sistem budidaya ikan bioflok dianggap menjadi solusi budidaya untuk masa depan. Karena dengan bioflok lebih efisien untuk…

Sejumlah Negara Afrika Tertarik Pesawat Buatan Indonesia

NERACA Jakarta – Sejumlah negara Afrika; Madagascar, Kongo dan Sudan tertarik dengan dua jenis pesawat produksi PT Dirgantara Indonesia (PT…

IMF-WBG AM 2018 Pacu Kemitraan Sektor Industri

NERACA Jakarta – Pertemuan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia atau The Annual Meetings of International Monetary Fund & World…