Memilih Bahan Atap Rumah Secara Jeli

Sabtu, 02/02/2013
Membangun rumah baru atau mengganti total rumah lama, ada sejumlah bagian rumah yang akan mewarnai detil dan ciri khas rumah tersebut. Di antara yang paling dominan adalah tembok, atap, kusen, dan pagar.

NERACA

Dilihat dari tampilannya, warna dari tembok, pagar, dan atap juga bisa menjadi penanda bahwa rumah kita beda dengan rumah para tetangga.Namun tak akan ada pilihan jika membeli rumah dalam kompleks yang seragam, yaitu seragam tipe, bahan dan bentuknya. Sebab, bahan dan bentuknya sudah dibakukan oleh pihak pengembang. Dalam brosur rumah baru, misalnya pondasi sudah ditentukan foot plat, struktur beton bertulang, dindingnya dari bata merah, plafonnya dari gypsum, lantai keramik 40x40, kusennya kayu meranti, pintu utama panen, dan atapnya dari rangka baja ringan dan genteng flat beton.

Khusus atap rumah, sebetulnya banyak pilihan jika kita bisa memilih bentuk dan bahannya. Urusan berikutnya tentu berkaitan dengan bujet, karena beda bentuk, ukuran, dan bahan, akan mempengaruhi biaya. Tapi, terkadang, aspek biaya akan menjadi nomor dua jika kita sudah menjatuhkan pilihan karena berbagai pertimbangan menyangkut kebutuhan, estetika, desain, dan fungsi, dan aspek efisiensi.

Arsitek Amirullah Muhammad Amin menyebutkan, setidaknya ada sepuluh macam bahan dasar untuk atap penutup rumah. “Dalam memilih berbagai jenis material penutup atap, sebaiknya disesuaikan dengan fungsi, desain rumah, serta kondisi anda,” kata Amirullah.

Genteng. Genteng adalah salah satu jenis atap rumah yang paling banyak digunakan. Bahan bakunya saat ini beragam. Awalnya dari tanah liat. Kini sudah banyak ragam dan modifikasinya. Misalkan, genteng dari keramik atau beton. Genteng keramik banyak dipakai di perumahan besar kelas menengah ke atas, dan genteng beton di kalangan menengah ke bawah. Bahan lain dari genteng adalah serat fiber, asbes, kaca, beton, dan metal atau seng aluminium.

Sirap. Atap dari sirap, biasanya mengikuti model dan bahan konstruksi rumah. Biasanya, sirap dipakai untuk jenis rumah berkonstruksi kayu, karena sirap juga terbuat dari kayu yang sudah diawetkan hingga mampu bertahan puluhan bahkan rausan tahun lamanya. Tingkat keawetan bahan itu tergantung dari proses pengawetannya. Yang jadi masalah adalah perawatannya.

Rumbia. Bahan jenis ini berbahan baku dari daun rumbia yang dianyam hingga membentuk bidang persegi. Bahan rumbia terkesan alami dan tradisional, juga murah. Namun, dilihat dari bahannya, bahan ini tidak tahan lama, rawan bocor, dan mudah terbakar. Karena itu, bahan jenis ini biasanya dipakai untuk bukan rumah tinggal atau rumah utama.

Beton Bertulang. Atap model ini jelas kuat dan bahkan tak membutuhkan konstruksi yang rumit, sebab, atap beton dibuat menempel atau bergandengan dengan tembok. Jika bentangannya cukup luas, tak jarang ditunjang dengan sejumlah tiang di tengahnya. Rumah beratap beton bertulang sering disebut dengan rumah bertumbuh, karena, biasanya, atap ini dipilih bagi rumah yang hendak ditingkat atau rumah besar. Rumah besar itu termasuk masjid, gedung pertemuan atau aula.

Seng (metal bergelombang). Bahan jenis inilah yang juga banyak dipakai sebagai pengganti genteng. Selain karena harganya lebih murah, ringan, sederhana konstruksinya. Dipilih karena tidak pecah seperti genteng, dan paling mudah perawatannya. Atap seng paling banyak dipakai di kampung-kampung dan kalangan bawah. Untuk mengurangi panas dari hantaran sinar matahari, seng dilapisi cat yang warnanya sesuai selera, tapi biasanya warna merah bata. Selain seng, sebetulnya ada lagi bahan yang mirip seng, yaitu asbes. Namun dengan alasan mengganggu kesehatan, asbes sudah jarang dipakai untuk rumah tinggal.

Polikarbonat. Bahan ini banyak dipilih karena lebih mampu menahan panas dan biasanya dilapisi lapisan ultraviolet. Bahannya ringan jadi juga tak membutuhkan konstruksi yang rumit. Warnanya tak cepat pudar dibandingkan dengan bahan fiberglass. Mudah ditekuk. Itu sebabnya, pemasangannya juga mudah.

Polivinil Klorid. Banyak digunakan dan posisinya antara fiberglass dan polikarbonat. Maksudnya, bahan ini lebih tahan lama dibanding fiberglass, tetapi lebih murah dari polikarbonat.

Eter. Jika menyukai atap model seng atau asbes yang bergelombang, kini ada bahan serupa yang mempunyai sejumlah keunggulan, yaitu eter. Bahan bakunya dari campuran semen, air dan diperkuat dengan serat alami dan sintetis. Keunggulan jenis eter adalah bukan asbes, tidak berkarat, ringan, tahan api, tidak berisik disbanding seng, ringan, kuat dari benturan dan injakan karena tidak rapuh, serta mudah dicat.

Ada kalanya, dalam satu kesatuan rumah, atap sering dipadupadankan dengan beberapa jenis bahan. Misalnya, rumah induk dipakai genteng keramik, sedangkan di bagian teras atau carport memakai bahan polikarbonat, fiberglass, atau polivinil klorid. (saksono)