Transaksi Lindung Nilai Cegah Pelebaran Anggaran - Kelola Utang Pemerintah

NERACA

Jakarta - Penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 12 Tahun 2013 tentang Transaksi Lindung Nilai (hedging) dalam Pengelolaan Utang Pemerintah dinilai penting untuk melindungi anggaran negara dari volatilitas nilai tukar. Kepala Pelaksana Tugas (Plt) Badan Kebijakan Fiskal Bambang Brodjonegoro mengatakan,hedgingmenjadi penting dalam mencegah terjadinya pelebaran anggaran yang tidak diperkirakan.

Pelebaran anggaran perlu diwaspadai agar pemerintah tidak kaget dalam menghadapinya. "Hedgingitu pada intinya suatu praktik yang biasa untuk mencegah ketidakpastian anggaran. Bukannya tidak percaya sama rupiah daripada nanti kita terkaget-kaget seperti subsidi BBM. Subsidi BBM kan naik karena berbagai hal seperti harga ICP (minyak mentah Indonesia). Misalnya kalau harga ICP tidak kitahedgesetiap tahun, ya kita akan seperti ini," ujarnya kata usai menjadi pembicara kunci seminar protokol manajemen krisis, Rabu (30/1).

Bambang mencontohkan penambahan biaya subsidi BBM yang mengalami perubahan. "Misalnya pembiayaan subsidi BBM Rp100 triliun jadinya Rp150 triliun. (Ada dana) Rp50 triliun itu kan karena waktu itu kita "selamat" mengingat kebetulan belanja kitaunder performed. Coba kalau belanja kita mendekati 100%, repot kita mencari tambahan untuk menutupi subsidi," katanya.

Menurut Bambang,hedgingdiharapkan mampu mengurangi risiko kerugian akibat berubahnya kondisi dunia. "Setiap mata uang tidak ada kok yang nilainya fixed, baik itu mata uang dolar. Bahkan euro pun bergejolak," ujarnya.

Namun, hal ini perlu menjadi pertimbangan mengingat banyak hal yang harus dipersiapkan dalamhedgingutang tersebut.

Menurut Kepala Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Lana Soelistianingsih, pemerintah perlu menyubkontrakkanhedgingutang karena Indonesia belum berpengalaman dalam hal tersebut.

Bukan Hal Mudah

Dikatakannya, pengelolaanhedgingutang bukan hal yang mudah karena harus benar-benar bisa memperkirakan rupiah ke depannya. Lana mengatakan, Indonesia sebenarnya bisa meniru bank sentral Singapura yang sebagian cadangan devisanya dikelola atau digunakan untuk portofolio dengan membukafund-fund manager. Merekalah yang bisa mengelola dolar denganreturnyang ditetapkan sekian persen dan setiap 3 bulan dievaluasi.

"Hedgingitu bisa tiga bulan atau bisa harian. Itu semacam asuransi dan bank yang mengeluarkan asuransinya nggak mau rugi juga. Dan ada premi atau ongkosnya yang harus dibayar. Jadi untuk sementara kita belum berpengalaman sehingga bisa disubkontrakkan, dikelola olehtreasurydi luar negeri. Jadi serahkan saja ke yang pintar. Karena itu (hedging) bisa dimainkan (spekulan), jadi jangka pendek bisa beli tapi disubkontrakkan saja," terangnya.

Meski sifat hedgingtersebut memang baik, diperlukan juga asuransi kalau memiliki kewajiban dalam mata uang dolar AS. Namun, bagaimana pemerintah bisa membelinya karena jumlahnya pasti sangat besar mengingat instrumen di dalam negeri belum besar. "Suatu kemungkinan memang, dengan ini pasar dalam negeri bisa lebih likuid dan itu bagus. Namun BI khawatirhedgingini digunakan untuk spekulasi. Kalau fungsinya itu saya setuju dan perlu mengelola nilai tukar rupiah yang naik turun terlalu tajam," ujarnya.

Lebih lanjut Lana menyatakan, selain belum berpengalaman denganhedgingutang ini, di Indonesia juga belum diizinkan atau belum tersedia pasar derivatif sehingga untuk jangka pendek, kalau ingin membeli harus di luar negeri yang tentunya akan menguntungkan asing.

"Kalau terkait fasilitas di dalam negeri, itu bisa dikeluarkan BI dengan mengubah UU kepemilikan valas di BI. Tapi kalau misalnya pembukaan fasilitashedgingdi perbankan itu juga bisa dan mungkin nanti di BI atau OJK. Jadi pemerintah bisa membeli di perbankan domestik untukhedging," jelasnya.

BERITA TERKAIT

Momentum Tahun Politik - BBJ Incar Transaksi Tumbuh 15% di 2019

NERACA Jakarta – Momentum tahun politik di 2019, tidak membuat kekhawatiran bisnis perdagangan bursa komoditi ikut lesu. Namun demikian PT…

Pemerintah Izinkan KEK Arun Lhokseumawe

      NERACA   Aceh - Presiden Joko Widodo mengatakan pemerintah pusat telah memberikan izin Kawasan Ekonomi Khusus Lhokseumawe,…

Temu Bisnis Pengembang Raih Transaksi Rp10 Triliun

Temu Bisnis Pengembang Raih Transaksi Rp10 Triliun NERACA Nusa Dua, Bali - Kongres The International Real Estate Federation (FIABCI) di…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Cukai Rokok Tetap, Minuman Alkohol Naik

  NERACA   Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melakukan penyesuaian tarif cukai minuman yang mengandung etil alkohol (MMEA) dan konsentrat…

PNBP Sektor Tambang Lampaui Target

      NERACA   Jakarta - Asosiasi Pertambangan Indonesia (IMA) memuji kinerja sektor pertambangan yang berperan atas realisasi Penerimaan…

Penampungan Limbah di Atas Sesar Gempa Rentan Rusak

      NERACA   Medan - Keandalan instalasi penampungan limbah terhadap resiko bencana gempa menjadi salah satu persoalan yang…