Pelopor Pembayaran Non-tunai - e-Ticketing Transjakarta

Adanyae-ticketing Transjakarta, membuat Unit Pengelola (UP) Transjakarta Busway berkurang beban. Maklum saja, transaksi harian penyedia jasa transportasi umum Jakarta ini bisa mencapai miliaran rupiah.

NERACA

"Hari gini pakai uang tunai? Pakai kartu prabayar e-Ticket Transjakarta!"

Tulisan dua kalimat berwarna puti di atas latar belakang warna merah itu terpampang jelas di halte busway Transjakarta di kawasan Monas, Jakarta Pusat setelah Gubernur DKI Jakarta JokoWidodo meresmikan penggunaan kartu prabayar tiket busway Transjakarta, 22 Januari lalu.

Dengan adanya e_ticketing, Unit Pengelola (UP) Transjakarta Busway berkuranglah bebannya untuk menghitung transaksi harian yang mencapai miliaran rupiah. Semua membutuhkan uang receh yang kini kian langka. Tiap hari petugas keuangan Transjakarta harus menyediakan uang receh Rp 500, Rp 1.000, Rp 2.000, Rp 5.000, Rp 10.000, Rp 20.000, dan Rp 50 ribuan untuk kembalian pembelian tiket.

Maklum, uang receh kecil-kecil itu diperlukan karena harga tiket sekali perjalanan Rp 2.000 pada pukul 05.00 – 07.00 WIB dan Rp 3.500 pada pukul 07.00 – 23.00 WIB. Kebutuhan uang pecah itu rata-rata mencapai Rp 400 juta tiap hari. Beruntung, Transjakarta telah mengontrak PT Kelola Jasa Arta (Kejar) agar menyediakan dan mendrop uang pecah itu ke seluruh halte yang ada. Sebelum kerjasama dengan PT Kejar, petugas keuangan terkadang harus door to door untuk menukarkan uang pecah. Itu yang sungguh menyulitkan.

Sekarang, dengan adanya e_ticketing yang menggunakan kartu prabayar dari lima bank, yaitu Jak-Card dari Bank DKI, Flazz dari BCA, Kartu e_Money atau e-Toll dari Bank Mandiri, Brizzi dari Bank BRI, dan BNI Pre-Paid atau BNI Generik dari Bank BNI. Kendati demikian, karcis kertas tetap saja disiapkan untuk mengantisipasi tak berfungsinya piranti e_ticketing akibat rusak atau listrik padam.

Kartu prabayar tersebut tentu saja serba guna, karena tidak hanya bisa dipakai untuk membayar tiket Transjakarta saja, tapi juga untuk transaksi apa saja, termasuk saat berbelanja di supermarket. Dengan uang plastik itu, istilah lain untuk menyebut kartu prabayar, kita tak perlu lagi membawa uang cash dalam jumlah besar jika hendak melakukan transaksi pembayaran. Membawa uang cash dalam jumlah besar jelas berisiko tinggi. Misalnya dirampok, dicuri, atau bahkan ancaman dari uang palsu. Uang cash memang masih dominan untuk pembelanjaan yang belum menggunakan sarana transaksi elektronis, terutama di luar kota atau pelosok desa.

Makin mudahnya sarana pembayaran tiket naik bus Transjakarta, diharapkan mampu membukukan hingga 1 juta transaksi per hari dengan nilai Rp 3,5 miliar. Sebelum diterapkannya e_ticketing, transaksi masih sekitar 320 ribu transaksi/hari.

Program e_ticketing Transjakarta sebelumnya sudah diterapkan, tapi berhubung kontraknya selesai dan tidak diperpanjang, sistemnya tak bisa diambil alih dan dioperasikan petugas Transjakarta maupun pihak ketiga lainnya. Terakhir, UP Transjakarta mengikat perjanjian dengan Bank DKI untuk menyelenggarakan software dan hardware e_ticketing.

Namun, Bank DKI gagal menyelesaikan tugasnya sesuai kontrak. Hanya pada koridor VI (Ragunan – Dukuh Atas) saja yang berhasil diterapkan. Alhasil, Transjakarta pun menggandeng PT Gamatechno Indonesia yang bernaung di bawah manajemen Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengelola sistem e_ticketing di busway Jakarta. Sistem yang diterpakan bersifat kompatibel, artinya bisa diakses oleh banyak kartu prabayar, tidak hanya dari satu produk saja. Dengan demikian, para calon penumpang diberi banyak pilihan dalam memiliki atau membeli kartu prabayar tersebut.

Cashless Society

Rupanya, Transjakarta ketinggalan. Sebab, sistem yang dikelola Gamatechno itu sudah lebih dulu diterapkan di Trans-Jogja danTrans-Batik Solo. Tak soal ketinggalan atau tidak, kata Muhamad Akbar, direktur UP Transjakarta Busway, pihaknya ingin mengajak masyarakat, khususnya penumpang busway sebagai bagian dari masyarakat pengguna uang plastik, istilah lain dari kartu prabayar (cashless society). “Lebih aman, praktis, dan cepat,” kata Akbar. Karena, tak perlu lagi menyiapkan uang receh. Bahkan tak ada lagi uang hilang karena tak ada kembalian.

Kampanye cashless society tersebutsudah pasti didukung oleh para penerbit kartu prabayar. Bahkan, lembaga non-perbankan pun ikut-ikutan menerbitkan kartu prabayar, misalnya operator seluler Telkomsel dan XL Axiata, maupun jaringan minimarket Indomart. Namun, ternyata Indomaret Card diterbitkan bersama sebuah bank nasional plat merah.

Kabarnya, PT Kereta Api Indonesia (KAI) melalui anak perusahaannya, yaitu PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) juga akan menempuh langkah Transjakarta. Sebetulnya, proyek e_ticketing KAI juga sudah lama diformat, tak hingga kini tak kunjung dioperasikan. Bahkan, kartu prabayar Commet awal 2012. Kartu itu sudah dijual. Tapi, belakangan, Kartu Commet ditarik kembali. Barrier-barrier yang membatasi area para penumpang kereta masih mangkrak, jadi harus dijaga petugas. PT KCJ juga menyiapkan petugas yang akan memeriksa tiket para penumpang kereta (KRL) Commuter Line yang ber-AC dari gerbong ke gerbong. (saksono)

BERITA TERKAIT

Gerbang Pembayaran Nasional Resmi Berlaku

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) meresmikan Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) berkonsep integrasi untuk mencipatakan sistem pembayaran…

PELUNCURAN GERBANG PEMBAYARAN NASIONAL

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo (kedua kiri) dan Menkeu Sri Mulyani (kanan) meresmikan Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) atau…

BI MENDORONG GERAKAN NON TUNAI

Sejumlah kendaraan mengantre untuk melakukan pembayaran non tunai di Gerbang Tol Cililitan, Jakarta, Selasa (28/11). Bank Indonesia (BI) sudah merealisasikan…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

Mengajari Anak Menabung, Berbelanja, dan Berbagi

Oleh: Yulius Ardi Head, Managed Investment Product Standard Chartered Bank   Akhir musim sekolah telah diambang pintu dan anak-anak akan…

Sukuk Bisa Sebagai Alternatif Pembiayaan Daerah

Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengatakan penerbitan obligasi berbasis syariah atau sukuk bisa…

Keuangan Syariah: - Akan Stagnan Atau Butuh Terobosan

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad meminta inovasi dan terobosan pelaku industri untuk mengembangkan keuangan syariah, karena tanpa…