Wintermar Kembali Suntik Modal Anak Usaha US$ 6,7 Juta

NERACA

Jakarta – Guna mendukung bisnis anak usaha, perusahaan perkapalan PT Wintemar Offshore Marine Tbk (WINS) telah meminjamkan modal kepada anak usahanya senilai US$ 6,7 juta. Bunga dari pinjaman ini adalah lima persen per tahun.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (29/1). Disebutkan, penambahan modal ini dilakukan pada tanggal 23 Januari 2013 lalu dengan jangka waktu satu tahun.

Kata Corporate Secretary PT Wintemar Offshore Marine Tbk, Nely Layanto, nilai transaksi maksimal US$ 6,7 juta dengan bunga lima persen per tahun, “Pinjaman ini bersifat pinjaman sementara atau bridging loan yang digunakan untuk pembayaran pembelian kapal vessel bernama WM Natuna dan kebutuhan modal kerja kapal baru,”ungkapnya.

WM Offshore adalah anak usaha Wintermar Offshore yang 51% sahamnya dikuasai perseroan, 45% sisanya dipegang PT Meratus Line dan PT Edenvale sebesar empat persen. Sebelumnya, Desember 2012 lalu, perseoan juga menambah modal anak usahanya PT Sentosasegara Mulia Shipping sebesar Rp35,1 miliar.

Transaksi tersebut, dijelaskan perseroan bukan merupakan transaksi material karena dilakukan di bawah 20% dari ekuitas perseroan. Sebelumnya, PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) mendapatkan pinjaman dari IFC untuk memperluas layanan infrastruktur di industri minyak dan gas bumi Indonesia. Pinjaman tersebut dapat dikonversikan menjadi saham di WINS dengan harga Rp500 per saham.

Presiden Direktur WINS Sugiman Layanto menyebutkan, pinjaman tersebut berbentuk convertible loan yang memiliki kemungkinan IFC mengonversi pinjamannya ke dalam bentuk saham dalam jangka waktu tiga tahun, “Pinjaman yang dikonversikan saham di WINS dengan harga Rp500 per saham atau setara 5,4% saham,”ujarnya.

Selain itu, PT Wintermar Offshore Marine Tbk mencatatkan di tahun 2012 masih memiliki kontrak dengan beberapa perusahaan seperti Chevron, Total, Conoco Philips, Petrocina, dan Start Oil. Nilai kontrak tersebut mencapai US$ 200 juta, “Nilai kontrak mengalami kenaikan dari tahun 2011 sebesar US$ 125 juta, “kata Sugiman Layanto.

Sugiman menambahkan, hingga akhir tahun 2012 kemarin tender yang ditangani perseroan masih banyak. Namun kontrak tersebut memiliki beberapa kendala seperti dengan keterlambatan rig. Hal tersebut menjadikan pekerjaan dalam kontrak tersebut mundur, “Kerjaan kita jadi banyak, terus semakin mundur karena rig-nya terlambat,”tandasnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Perlu Kajian Matang - HOME Batalkan Divestasi Aset Anak Usaha

NERACA Jakarta – Emiten properti dan juga perhotelan, PT Hotel Mandarine Regency Tbk (HOME) mengurungkan rencana untuk melakukan divestasi atas…

Manfaatkan e-Smart IKM, Omzet Usaha Jaket Tembus Rp 50 Juta

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin serius mendorong pelaku industri kecil dan menengah (IKM) di dalam negeri agar terus memanfaatkan…

CLEO Siapkan Belanja Modal Rp 300 Miliar

NERACA Jakarta – Produsen air minum kemasan, PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) menganggarkan belanja modal atau capex tahun ini sebesar…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Lima Emiten Belum Bayar Listing Fee

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah emiten yang mengalami gangguan keberlangsungan usaha atau going concern dan berakibat tidak mampu…

Rayakan Imlek - Kobelco Berikan Special Promo Konsumen

NERACA Jakarta - Rayakan Imlek 2570, PT Daya Kobelco Construction Machinery Indonesia (DK CMI),  menggelar  customer gathering dari seluruh Indonesia.…

WSBP Pangkas Utang Jadi Rp 4,7 Triliun

PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) telah menerima pembayaran termin pada Januari 2019 yang digunakan perseroan untuk pelunasan pinjaman perseroan.…