Revisi Lifting Minyak Disesuaikan Produksi - Pengelolaan Industri Migas

NERACA

Jakarta - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan bahwa revisi target lifting produksi minyak dilakukan agar lebih realistis dan sesuai dengan kenyataan di lapangan. "Revisi itu adalah menyampaikan angka yang realistis, setelah kita melihat produksi hanya 826.000 barel per hari (bph)," jelas Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini di Jakarta, Selasa.

Rudi mengatakan, jika produksi bisa bertahan di angka 830.000 bph maka hal tersebut sudah sangat baik, dan hal tersebut juga harus tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013. "Kita harus memberikan angka yang realistis, bukan angka-angka politis, dan hal ini harus dilakukan karena angka yang terkamuflase itu indah, namun tidak pada kenyataannya," ujar Rudi.

Rudi menandaskan, produksi minyak Indonesia saat ini terus menurun, bahkan di bawah 900 ribu barel per hari. Sebanyak 95% produksi minyak ini diproduksi dari Indonesia bagian barat. "Kita kan produksi 95% dari bagian Barat Indonesia, dari Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Tapi kemudian baru 5 persen dari arah Timur Indonesia. Oleh karena itu, kita harapkan bahwa eksplorasi berikutnya silakan ke Timur. Tapi karena Timur itu daerah susah, lautnya dalam biayanya mahal maka tentunya ini memerlukan insentif tersendiri," jelasnya.

Lebih jauh dia mengharapkan agar dalam 5-10 tahun ke depan Indonesia bisa mempunyai sumur minyak yang baru agar generasi mendatang tidak mengalami kelangkaan pasokan minyak. Namun sekali lagi, pemerintah harus mengundang perusahaan asing karena biaya yang besar untuk menggarap lapangan migas. Eksplorasi satu sumur minyak, lanjutnya, nilainya bisa mencapai US$ 700 juta, dan apabila tidak didapatkan minyak, maka pemerintah tidak akan mengganti uang investasi berupa cost recovery.

Sebelumnya, wcana mengenai revisi target lifting minyak yang tertuang di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih menunggu perkembangan. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) masih menunggu perkembangan produksi siap jual (lifting) minyak yang ditetapkan APBN 900.000 barel per hari, paling tidak hingga kuartal pertama 2013 sebelum mengajukan revisi dalam RAPBN Perubahan.

Menurut Deputi Operasional SKK Migas, Gde Pradnyana, saat ini tingkat produksi minyak memang masih jauh dari asumsi 900.000 barel per hari. "Saat ini tercatat masih 836.000 barel per hari. Tapi, tahun ini baru berjalan beberapa minggu, kita lihat saja nanti bagaimana perkembangannya," katanya.

Dia menjelaskan, kalau sampai kuartal pertama, tingkat produksi minyak tidak juga beranjak hingga 900.000 barel per hari, maka dimungkinkan revisi dalam RAPBN Perubahan 2013. Gde mengatakan, sejauh ini, pihaknya masih optimis produksi minyak mentah dan kondensat bisa mencapai target APBN sebesar 900.000 barel per hari. "Produksi yang hanya 836.000 barel per hari itu dikarenakan beberapa sebab," jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, kondisi cuaca yang buruk akhir-akhir ini juga mempengaruhi capaian produksi sesuai rencana. Dia mencontohkan, produksi Blok West Madura Offshore (WMO) yang sekarang ini hanya 7.000 barel per hari akibat beberapa faktor termasuk cuaca. Padahal, sesuai rencana kerja dan anggaran (work program and budget/WP&B) tahun 2013, produksi WMO ditargetkan 20.000 barel per hari. "Dari WMO saja kita sudah kurang 13.000 barel per hari," urainya.

Nah, akibat gangguan pecahnya pipa gas PT Trans Gas Indonesia (TGI), produksi Chevron masih berkurang 15.000 barel per hari. Menurut Gde, gangguan produksi pada lapangan-lapangan lainnya, maka total kehilangan produksi mencapai 42.000 barel per hari. "Serta, tambahan dari lapangan baru, maka kami masih optimis produksi mencapai 900.000 barel per hari," terangnya.

Selain itu, lanjutnya, meski sesuai WP&B, produksi minyak 2013 hanya berkisar antara 858.000-878.000 barel per hari. "Namun, dalam pelaksanaannya, ada beberapa kontraktor yang bisa di atas WP&B seperti Chevron yang tahun lalu sesuai WP&B 330.000, tapi ternyata bisa sampai 342.000 barel per hari," tandasnya.

Produksi di bawah 850.000 barel per hari pada 2013, jelasnya, sebenarnya masih relevan dengan rencana target satu juta barel per hari pada 2014 sesuai Instruksi Presiden No 2 Tahun 2012 tentang Peningkatan Produksi Minyak Bumi Nasional. "Kalau satu juta barel dikurangi Cepu 165.000 barel, maka sebenarnya produksi sampai akhir 2013 cukup 835.000 barel per hari," papar Gde.

Energi Terbarukan

Di pihak lain pemerintah menargetkan porsi energi baru dan terbarukan dalam bauran energi primer naik lebih dari 354% pada 2025 dibandingkan saat ini. Menteri ESDM, Jero Wacik sebelum sidang Dewan Energi Nasional di Jakarta, Selasa mengatakan, sekarang ini, porsi energi baru dan terbarukan (EBT) hanya sekitar 5,7%. "Tahun 2025 ditargetkan naik menjadi 25,9%," katanya.

Jero yang juga menjabat Ketua Harian DEN mengatakan, target kenaikan porsi EBT itu merupakan angka yang luar biasa. "Kami akan kerja keras dari sekarang dan dilakukan secara masif," ucap Jero.

Target EBT sebesar 25,9% tersebut tercantum dalam draf Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang kini tengah disusun DEN. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan target porsi EBT dalam bauran energi yang tercantum dalam Peraturan Presiden No 5 Tahun 2006 tentang KEN sebesar 17%.

Rinciannya 17 persen itu adalah bahan bakar nabati lima persen, panas bumi lima persen, EBT lainnya lima persen, dan batu bara yang dicairkan dua persen. Jero mengatakan, kenaikan porsi EBT tersebut mau tidak mau harus dilakukan untuk menggantikan peran energi fosil khususnya minyak bumi yang makin lama semakin habis.

Menurut dia, porsi minyak bumi ditargetkan turun menjadi 25% pada 2025 dari saat ini 47%. "Produksi minyak bumi pasti terus turun, sehingga harga naik. Dengan demikian, porsi minyak dalam bauran energi harus dikurangi," tukasnya.

Sementara, sesuai Perpres 5/2006, porsi minyak bumi direncanakan 20 persen pada 2025. Untuk gas dan batu bara, lanjutnya, sesuai draf KEN ditargetkan masing-masing sebesar 20% dan 30% pada 2025. Sedang, Perpres 5/2006 menyebutkan porsi gas 30 persen dan batubara 33% di 2025.

Sekjen DEN Lobo Balia mengatakan, ke depan, penggunaan minyak bumi akan dikurangi, EBT akan dipacu sebanyak mungkin, sementara gas dan batu bara menjadi penyeimbang. "Paling bersih adalah gas, sementara paling murah adalah batubara. Tapi, secara nasional arahnya ke EBT," ujarnya.

Menurut dia, EBT merupakan energi masa depan. "EBT itu tidak seperti gas atau batu bara yang bisa diekspor," tuturnya. Namun, lanjut Lobo, pemanfaatan EBT mesti dibarengi perbaikan struktur tarif dan pemberian insentif termasuk subsidi.

Anggota DEN, Mukhtasor menambahkan, draf KEN tersebut akan dibawa ke sidang paripurna yang diketuai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Februari 2013. "Selanjutnya, draf KEN ini dibahas bersama DPR sebelum dijadikan produk peraturan," katanya. Menurut dia, opsi produk peraturannya adalah UU atau PP.

BERITA TERKAIT

Revolusi Industri 4.0 Era Baru UKM Indonesia

Revolusi Industri 4.0 Era Baru UKM Indonesia NERACA Denpasar - Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga menyebutkan bahwa Revolusi Industri…

Gelar Festival Permainan Games - Telkom Ajak Milenial Bangun Industri Games

NERACA Jakarta - Kementerian BUMN RI bersama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) menggelar event Spirit of Millennials Games Day 2018 di…

Pesatnya Industri E-Commerce, Bisnis Afiliasi Isynergy Ikut Tumbuh

      NERACA   Jakarta - Pesatnya pertumbuhan teknologi digital, terutama di bidang pemasaran, menimbulkan perspektif baru dalam budaya…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Indonesia Latih Petani Hortikultura Timor-Leste

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia memberikan pelatihan teknis hortikultura kepada petani Timor Leste di desa Oesilo, Oecussi untuk membangun ekonomi…

Pungutan Ekspor Sawit Dihentikan, Program Jalan Terus

NERACA Jakarta – Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) tetap menjalankan programnya, meski pemerintah menghentikan sementara dana pungutan ekspor…

Menperin: IKM Makanan dan Tenun Kian Prospektif

NERACA Jakarta – Industri kecil dan menengah (IKM) di Provinsi Riau masih menjadi sektor andalan dalam menunjang roda perekonomian masyarakat…