Bahasa Laporan BI Dinilai Baik

Rabu, 30/01/2013

Bahasa Laporan BI Dinilai Baik

NERACA

Jakarta – Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral Indonesia memiliki banyak informasi dan data yang dibutuhkan oleh para pengamat, ekonom, mahasiswa, danstakeholderslain yang berkaitan dengan ekonomi. Laporan-laporan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia seringkali dijadikan referensi pihak-pihak tersebut.

Menanggapi laporan-laporan yang selama ini dibuat oleh Bank Indonesia, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Mahsun menilai laporan yang dikeluarkan Bank Indonesia sudah cukup baik jika dibandingkan dengan lembaga-lembaga pemerintahan yang lain.

Baca juga: Revisi PPnBM Dinilai Berdampak Positif bagi Perekonomian

“BI bahasanya bagus. Walaupun panjang, tetapi terlihat polanya. Namun ketika mereka mencoba merampatkan beberapa kalimat, itu ide pokoknya sering kacau,” kata Mahsun di kantor Bank Indonesia kepadaNeraca, Selasa (29/1).

Mahsun menilai, jumlah kata yang termaktub dalam laporan-laporan BI sering kali berlebih, bahkan bisa dua kali lebih banyak daripada laporan bank sentral negara lain.

Juga, laporan-laporan BI masih sering menggunakan kata-kata asing yang sebetulnya ada padanannya dalam Bahasa Indonesia. “Padahal kita punya 350 ribu istilah asing yang sudah ada padanannya dalam Bahasa Indonesia,” kata Mahsun.

Baca juga: OJK Minta Laporan Keuangan Sesuai Standar Internasional - Kerjasama dengan IAI

Dia menilai, laporan-laporan BI akan menjadi tidak terserap secara maksimal kalau tata bahasa yang digunakan kurang universal. “Kalau mereka tidak menggunakan bahasa yang mudah dicerna, nanti masyarakat yang membacanya hanya terbatas di kalangan tertentu. Padahal laporan ini kan harus disebarluaskan supaya tidak terjadi kepanikan,” jelas Mahsum.

Selain berakibat pada serapan yang terbatas pada kalangan tertentu, kata Mahsun, bahasa yang kurang dapat dipahami akan berakibat juga pada lemahnya pemahaman substansi. Mahasiswa-mahasiswa yang ingin mendalami laporan yang dikeluarkan BI akan kesulitan memahami laporan tersebut. Pers yang hendak menuliskan laporan tersebut juga bisa jadi tidak paham intisari dari laporan yang dikeluarkan BI. “Ketika laporan tidak terstruktur dengan baik, maka pesannya tidak sampai,” kata dia.

Baca juga: Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Menurun - Hasil Pemeriksaan BPK

Tanggapan serupa disampaikan pengamat ekonomi dari Atma Jaya Prasetyantono. “Orang banyak me-referdata dari BI, sehingga perlu metode komunikasi yang lebih baik,” kata dia.

Menurut Prasetyantono, beberapa laporan yang dikeluarkan BI ke publik, seperti siaran pers dan laporan kebijakan moneter masih kurang membumi. “Perlu ada siaran pers yang lebih sederhana daripada siaran pers yang sebetulnya sudah sederhana,” jelas Prasetyantono.

Namun demikian, Prasetyantono mengakui bahwa secara umum laporan yang dikeluarkan BI sudah bisa diterima publik. “Meskipun publik kita beragam dan belum semuanya bisa menerima,” ujar dia.

Baca juga: Pinjaman Multilateral Dinilai Minim Risiko

Prasetyantono juga mengingatkan BI agar siaran pers yang dipublikasikan bisa lebih menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami lagi agar bisa diamplifikasi oleh media. “Karena belum semua media kompeten. Kadang-kadang wartawan politik disuruh menulis ekonomi,” pungkas dia.

Untuk diketahui, jumlah pengunjung siaran pers BI cukup fluktuatif dalam tahun 2011-2012. Jumlah pengunjung tertinggi adalah pada bulan Januari, yaitu 6.500 hits. Sementara yang terendah adalah pada Mei 2011, yaitu 2.000 hits. Bisa dikatakan, terdapat sekitar 150 orang dalam satu hari yang mencari siaran pers di situs BI.

Baca juga: Pertamax Dinilai Tak Pengaruhi Harga Sembako