Bahasa Laporan BI Dinilai Baik

Bahasa Laporan BI Dinilai Baik

NERACA

Jakarta – Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral Indonesia memiliki banyak informasi dan data yang dibutuhkan oleh para pengamat, ekonom, mahasiswa, danstakeholderslain yang berkaitan dengan ekonomi. Laporan-laporan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia seringkali dijadikan referensi pihak-pihak tersebut.

Menanggapi laporan-laporan yang selama ini dibuat oleh Bank Indonesia, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Mahsun menilai laporan yang dikeluarkan Bank Indonesia sudah cukup baik jika dibandingkan dengan lembaga-lembaga pemerintahan yang lain.

“BI bahasanya bagus. Walaupun panjang, tetapi terlihat polanya. Namun ketika mereka mencoba merampatkan beberapa kalimat, itu ide pokoknya sering kacau,” kata Mahsun di kantor Bank Indonesia kepadaNeraca, Selasa (29/1).

Mahsun menilai, jumlah kata yang termaktub dalam laporan-laporan BI sering kali berlebih, bahkan bisa dua kali lebih banyak daripada laporan bank sentral negara lain.

Juga, laporan-laporan BI masih sering menggunakan kata-kata asing yang sebetulnya ada padanannya dalam Bahasa Indonesia. “Padahal kita punya 350 ribu istilah asing yang sudah ada padanannya dalam Bahasa Indonesia,” kata Mahsun.

Dia menilai, laporan-laporan BI akan menjadi tidak terserap secara maksimal kalau tata bahasa yang digunakan kurang universal. “Kalau mereka tidak menggunakan bahasa yang mudah dicerna, nanti masyarakat yang membacanya hanya terbatas di kalangan tertentu. Padahal laporan ini kan harus disebarluaskan supaya tidak terjadi kepanikan,” jelas Mahsum.

Selain berakibat pada serapan yang terbatas pada kalangan tertentu, kata Mahsun, bahasa yang kurang dapat dipahami akan berakibat juga pada lemahnya pemahaman substansi. Mahasiswa-mahasiswa yang ingin mendalami laporan yang dikeluarkan BI akan kesulitan memahami laporan tersebut. Pers yang hendak menuliskan laporan tersebut juga bisa jadi tidak paham intisari dari laporan yang dikeluarkan BI. “Ketika laporan tidak terstruktur dengan baik, maka pesannya tidak sampai,” kata dia.

Tanggapan serupa disampaikan pengamat ekonomi dari Atma Jaya Prasetyantono. “Orang banyak me-referdata dari BI, sehingga perlu metode komunikasi yang lebih baik,” kata dia.

Menurut Prasetyantono, beberapa laporan yang dikeluarkan BI ke publik, seperti siaran pers dan laporan kebijakan moneter masih kurang membumi. “Perlu ada siaran pers yang lebih sederhana daripada siaran pers yang sebetulnya sudah sederhana,” jelas Prasetyantono.

Namun demikian, Prasetyantono mengakui bahwa secara umum laporan yang dikeluarkan BI sudah bisa diterima publik. “Meskipun publik kita beragam dan belum semuanya bisa menerima,” ujar dia.

Prasetyantono juga mengingatkan BI agar siaran pers yang dipublikasikan bisa lebih menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami lagi agar bisa diamplifikasi oleh media. “Karena belum semua media kompeten. Kadang-kadang wartawan politik disuruh menulis ekonomi,” pungkas dia.

Untuk diketahui, jumlah pengunjung siaran pers BI cukup fluktuatif dalam tahun 2011-2012. Jumlah pengunjung tertinggi adalah pada bulan Januari, yaitu 6.500 hits. Sementara yang terendah adalah pada Mei 2011, yaitu 2.000 hits. Bisa dikatakan, terdapat sekitar 150 orang dalam satu hari yang mencari siaran pers di situs BI.

BERITA TERKAIT

Saatnya Reformasi Program Bantuan Sosial - LAPORAN BANK DUNIA TERBARU

Jakarta-Bank Dunia dalam laporan terbarunya mengungkapkan, bahwa reformasi program bantuan sosial yang lebih baik dapat membantu mengurangi kemiskinan dan ketimpangan…

Analis: IHSG Berpeluang Cetak Rekor Lagi - Fundamental Ekonomi Baik

NERACA Jakarta  - Analis pasar modal, Lucky Bayu Purnomo menilai bahwa indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia…

Wapres Yakin Ekonomi Tahun Depan Lebih Baik

      NERACA   Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla optimistis perekonomian Indonesia ke depan akan lebih baik seiring…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Shinta Bubu : 6 Juta UMKM akan Go Digital di 2020

NERACA Jakarta - Pertumbuhan E-Commerce di Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun bahkan berpotensi menjadi ekonomi digital…

Menhub Sangkal Jual Aset Infrastruktur Negara

    NERACA   Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyangkal bahwa kerja sama infrastruktur transportasi dengan pihak swasta…

Kemenkeu Dapat Pinjaman Rp15,2 triliun - Kerjasama dengan JICA

      NERACA   Jakarta - Kementerian Keuangan dan Japan International Cooperation Agency (JICA) menandatangani dua naskah perjanjiian pinjaman…