Soal Hortikultura, Kemendag dan Kementan Tak Sejalan

NERACA

Jakarta - Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan selalu saja tidak pernah sependapat soal regulasi impor holtikultura. Dalam waktu dekat ini pihak Kemendag akan mengklarifikasi bagaimana cara implementasi dari Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 60/Permentan/OT.140/9/2012 tentang rekomendasi impor produk hortikultura (RIPH) yang telah berlaku 28 September 2012 lalu.

Menurut Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, sebenarnya Indonesia tidak melarang impor produk hortikultura (sayur dan buah), juga tidak menghentikan impor 13 produk holtikultura selama 6 bulan. Pernyataan soal larangan impor sementara tersebut pernah disampaikan oleh Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Rusman Heriawan. "Ini statement yang keluar dari Wamentan kan?, jadi kita akan klarifikasi, jadi tidak se-restriktif seperti apa yang disebut kemarin," kata Gita di Jakarta, Selasa (29/1).

Lebih jauh lagi Gita mengungkapkan, pemerintah tidak membatasi impor produk hortikultura, tapi juga menghormati apa yang direkomendasikan oleh Kementerian Pertanian mengenai implementasi Permentan No 60/Permentan/OT.140/9/2012.

"Sikap kita adalah tidak membatasi impor, dari manapun, apalagi dengan pendekatan bahwa kalau lagi ada ini, ada itu di dalam negeri. Jadi kita tidak membatasi impor, tapi juga kita menghormati rekomendasi dari Kementan," katanya.

Mengatur Impor

Di tempat berbeda, Anggota Komisi IV DPR-RI Jafar Hafsah menegaskan kalau kebijakan pemerintah mengatur waktu impor atau menghentikan sementara pemasukan produk hortikultura (buah dan sayur) ke Indonesia mendapat pujian dari banyak pihak termasuk dari anggota DPR-RI.

Alasannya buah impor selama ini kerap membanjiri pasar dalam negeri, dan keamanan termasuk kualitas kesegarannya dipertanyakan. Misalnya Anggota Komisi IV DPR-RI Jafar Hafsah mengatakan mengapresiasi kebijakan pemerintah dalam pembatasan impor buah, seharusnya kebijakan ini sejak dahulu telah diterapkan. Menurut Jafar kebijakan ini merupakan bentuk keberpihakan nyata bagi petani hortikultura.

"Kebijakan ini penting dikampanyekan untuk menumbuh kembangkan kecintaan terhadap produk buah lokal sekaligus penguatan ekonomi nasional," kata Jafar yang juga Ketua Badan Pertimbangan DPN Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dalam keterangan tertulisnya.

Jafar menegaskan kualitas buah lokal kita jauh lebih segar dan terbukti lebih unggul kandungan vitaminnya dibanding buah impor. Misalnya kandungan vitamin C dan A di mangga lokal sepuluh kali lebih tinggi dibanding kandungan mangga impor.

"Riset IPB pernah menemukan buah impor yang mengandung lapisan lilin sebagai pengawet, yang dapat menyebabkan kanker usus, hati, dan leukeumia," katanya.

Menurut Jafar mengkonsumsi buah lokal berarti ikut aktif dan berperan nyata dalam mensejahterakan petani bangsa sendiri apalagi jika melihat neraca perdangan Indonesia di sektor pertanian. Selain semakin menumbuhkan kegairahan usaha budidaya petani buah, kebijakan ini juga akan memberikam iklim yang kondusif bagi perkembangan lembaga-lembaga riset dibidang hortikultura. "Momentum ini mesti senantiasa dijaga dan dikembangkan pada sub sektor lainnya untuk memupuk dan menguatkan kecintaan terhadap produk-produk dalam negeri," katanya.

Kualitas Sepadan

Sementara itu, Menteri Pertanian, Suswono sangat tidak sependapat dengan Pernyataan Wakil Ketua Umum Gabungaan Importir Hasil Bumi Indonesia, Bob B Budiman, yang menyatakan buah lokal dapat menyebabkan diare jika dimakan. "Itu mengada-ada, anehlah menurut saya," kata Suswono.

Suswono mengatakan, kualitas buah nusantara saat ini kualitasnya hampir sepadan dengan buah impor. Bahkan di beberapa jenis buah nusantara jauh lebih unggul. "Saya tidak pernah mengkonsumsi buah impor tuh, buktinya saya tidak pernah sakit perut atau diare," ujar Suswono.

Sementara itu, Ketua Umum Alumni Institut Pertanian Bogor, Muhammad Said Didu menyesalkan pernyataan yang dibuat oleh Bob. Oleh karena dia harus meminta maaf kepada petani. "Pernyataan tersebut pasti sangat melukai perasaan para petani buah dan pihak-terkait serta kami yg sedang menggerakkan masyarakat utk mencintai produk petani terutama buah lokal. Kami menghimbau agar yang bersangkutan meminta maaf atas pernyataannya dan berharap agar masyarakat tidak mempercayai pernyataan yang sangat tidak mendasar tersebut, dan tetap konsisten hanya konsumsi buah lokal," ujar Said Didu.

Selain itu menurut dia, dengan adanya pernyataan seperti itu, maka akan membuka peluang impor buah-buahan dalam jumlah yang besar. Oleh karena itu ia setuju dengan pengaturan impor hortikultura. "Jadi bukan hanya menyelamatkan buah lokal, tapi juga untuk menekan impor buah," ucap Said.

Sebelumnya, Bob menyatakan bahwa buah-buahan lokal rasanya lebih dominan asem, daripada manisnya. "Ya karena rasanya kecut (asam), seperti Apel malang kan kecut, beda sama apel China atau Apel Washington yang rasanya manis dan lebih enak," ujar Bob.

BERITA TERKAIT

KABUPATEN SUKABUMI - Dua Bulan Tak Melaut, Nelayan Terpaksa Pinjam Rentenir

KABUPATEN SUKABUMI Dua Bulan Tak Melaut, Nelayan Terpaksa Pinjam Rentenir NERACA Sukabumi – Cuaca buruk yang melanda pantai selatan Kabupaten…

Pergerakan Modal, Akuisisi dan Merger

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Ketika kekuasaan bersatu dan bekerjasama dengan pengendali modal global membangun perekonomian…

Kementan Permudah Investasi Sektor Pertanian Lewat Perizinan Barsis Online

NERACA Jakarta - Kementerian Pertanian mempermudah sistem perizinan di sektor pertanian melalui  layanan berbasis  Sistem Informasi Manajemen Pelayanan Perizinan Pertanian…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Tampil dengan Warna Baru, Infinix HOT S3X Siap Goda Pengguna

NERACA Jakarta – Vendor smartphone terkemuka asal Hong Kong, Infinix, mengumumkan ketersediaan varian warna baru untuk produk andalannya, Infinix HOT…

Perkuat Ekspor Perikanan, KKP Benahi Pergudangan dan Logistik

NERACA Gorontalo - Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP),  Rifky Efendi…

Secara Volume, Indonesia Eksportir Ikan Hias Terbesar Dunia

NERACA Bogor - Rifky Efendi Hardijanto, Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan…