Diversifikasi Ekspor Manufaktur Masih Lemah

NERACA

Jakarta - Diversifikasi pasar ekspor bisa menjadi jalan keluar di tengah kondisi pasar yang sedang jenuh dan mulai banyak pesaing. Namun, Indonesia belum maksimal untuk mengganti pasar ekspor khususnya di industri manufaktur. Pasalnya ekspor manufaktur dari tahun 2006 hingga 2011 masih tertuju pada Jepang dan China, padahal potensi untuk masuk ke pasar Eropa maupun pasar Afrika cukup terbuka lebar dengan adanya Free Trade Agreement (FTA) yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dengan negara-negara yang bersangkutan.

Hal ini seperti yang diungkapkan Pakar Ekonomi Industri dan UKM dari Universitas Trisakti, Tulus Tambunan di Jakarta, Selasa (29/1). "Tingkat diversifikasi ekspor manufaktur Indonesia masih sangat lemah, baik produk maupun pasar. Padahal diversifikasi pasar ekspor bisa menjadi salah satu syarat untuk bisa unggul dalam persaingan di pasar dunia yang kompetisinya semakin ketat," ungkap Tulus.

Tulus menilai konsentrasi pasar ekspor non-migas nasional hingga saat ini masih yang mengandalkan Jepang, China, Amerika Serikat dan India. "Ekspor Indonesia masih terkonsentrasi di sejumlah komoditas tertentu yang relatif sama seperti beberapa dekade yang lalu. Hingga saat ini negara-negara tujuan utama ekspor non-migas Indonesia masih yang sama juga seperti Jepang, China, Amerika Serikat (AS), dan India," tuturnya.

Misalnya, dari tahun 2006 hingga 2010, kata dia, Jepang masih diperingkat pertama sebagai pasar utama ekspor non-migas Indonesia, yang nilainya naik dari US$12.199 juta ke US$16.497 juta. Sedangkan pada tahun 2011, China mengambil posisi Jepang menjadi peringkat pertama dengan nilai US$17.136 juta. Pada tahun 2006, AS di posisi kedua dengan nilai US$10.683 juta dan pada tahun 2011 turun ke posisi ketiga dengan nilai US$13.223 juta.

Menurut dia, hingga saat ini belum ada peningkatan yang berarti dari ekspor non-migas Indonesia ke pasar lain seperti Eropa, Timur Tengah, Afrika dan Amerika Latin. "Ekspor manufaktur Indonesia masih didominasi sekita 34% diisi oleh mesin dan peralatan listrik, karet, pakaian jadi, serta minyak hewan/nabati. Sementara produk-produk andalan Indonesia tersebut di pasar dunia kian mendapat pesaing yang semakin kuat dari sejumlah negara lain seperti China, Vietnam dan India," jelasnya.

Bahkan, lanjut Tulus, sejak tahun 2009, Vietnam mulai menjadi pesaing ketat Indonesia dalam perdagangan pakaian jadi di pasar internasional. Terlebih, Vietnam telah lebih maju dalam diversifikasi pasar, yakni mulai menjual ke pasar di luar Asia dan Amerika. Berdasarkan data Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), pangsa Vietnam di impor Uni Eropa (UE) untuk pakaian jadi sekitar 1,26% dengan nilai 3,6 miliar euro, sedangkan pangsa Indonesia 1,21% dengan nilai 3,46 miliar euro.

Padahal, menurut Tulus, industri nasional memiliki peluang pasar luar negeri yang sangat besar. Hal ini lantaran adanya globalisasi dan liberalisasi perdagangan dunia, termasuk banyaknya kesepakatan perdagangan bebas (FTA) antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah-pemerintah negara lain, terutama dalam hal ekspor barang-barang jadi seperti tekstil dan produk-produk tekstil (TPT), barang-barang dari kulit termasuk sepatu dan tas, barang-barang dari kayu, bambu dan rotan, termasuk mebel, alat-alat elektronik, dan keterlibatan dalam rantai nilai regional atau global.

"Namun tantangan yang dihadapi industri nasional juga sangat serius. Pertanyaannya adalah apakah mampu industri nasional bisa menjadi pemasok untuk pasar regional ataupun global. Apakah produk-produk kita mampu bersaing dengan produk-produk dari China yang dikenal lebih murah. Maka dari itu, dengan adanya RUU perindustrian ini, harapannya adalah bisa meningkatkan mutu dan kualitas lewat aturan-aturan yang ada dalam undang-undang perindustrian," tambahnya.

Incar Timur Tengah

Kementerian Perdagangan RI berupaya meningkatkan pasar ke Timur Tengah melalui hasil pemetaan menjadi tiga wilayah, yakni Jordania, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. "Di tengah krisis ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa yang belum sepenuhnya pulih, Indonesia harus gencar memperluas pasar sebagai upaya diversifikasi pasar ekspor, terutama ke Timur Tengah," kata Wakil Menteri Perdagangan RI Bayu Krisnamurthi.

Turut dalam misi dagang tersebut antara lain Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Gunaryo, Kasubdit Ekonomi Keuangan dan Pengembangan, Direktorat Timur Tengah Kementerian Luar Negeri RI Darmawan Suparno, dan Fungsi Ekonomi KBRI Jordania di Amman Arif Hidayat.

Menurut Bayu, untuk memasuki pasar Timur Tengah tersebut Kementerian Perdagangan telah membagi tiga kelompok wilayah yaitu Timur Tengah bagian barat yang berpusat di Jedah, Arab Saudi, Timur Tengah bagian utara di Amman, Jordan, dan Timur Tengah bagian selatan berpusat di Dubai, Uni Emirat Arab. "Masing-masing kota tersebut (Jeddah, Amman, dan Dubai, red.) akan dijadikan semacam pusat distribusi dan logistik sebagai pintu akses memperluas pasar ke negara-negara di sekitarnya," katanya.

Dia menjelaskan karakteristik masing-masing negara yang berbeda antara satu dengan lainnya. Dubai merupakan kota bisnis termodern di Timur Tengah, sedangkan Jeddah kota di Arab Saudi di mana terdapat sekitar tiga juta tenaga kerja Indonesia.

Selain itu, Jordania merupakan negara dengan stabilitas politik yang terjaga, pertumbuhan ekonomi meningkat, dan tingkat pendapatan per kapita yang terus menanjak. "Melalui Arab Saudi, kita bisa membidik pasar Yaman sampai negara di pantai timur Laut Merah seperti Sudan, Etopia," kata Bayu. Selanjutnya, melalui Jordania, untuk masuk ke negara-negara seperti Mesir, Palestina, Libanon, Syiria, Irak, sedangkan Dubai, Uni Emirat Arab menjadi pintu gerbang untuk masuk ke wilayah Oman, Qatar, dan Iran.

Ia menegaskan pentingnya membagi wilayah Timur Tengah tersebut agar lebih fokus pada pengembangan pasar ekspor Indonesia terutama menyangkut logistik dan distribusi. "Wilayah Timur Tengah memiliki jarak yang cukup jauh dari Indonesia, sehingga dibutuhkan terobosan baru dalam hal logistik agar pengiriman komoditi bisa lebih efisien," katanya.

Khusus untuk Jordania, kata Bayu, Indonesia akan menjadikan negara itu sebagai "distribution center" atau menjadi pusat distribusi untuk negara-negara di sekitarnya. "Jordania sebagai tempat produk barang-barang ekspor Indonesia segera kita realisasikan dengan menjajaki investasi di kawasan industri dan pergudangan dalam skala besar yang sedang ditawarkan pemerintah Jordania," katanya.

Ia menjelaskan melalui Jordan Investment Board, negara itu menawarkan investasi pengembangan kawasan industri dan pergudangan Aqaba dengan total luar areal sekitar 1,5 juta meter persegi, yang berlokasi di Aqaba Spesial Economic Zona (ASEZ) atau sekitar enam kilometer dari Aqaba Container Port.

BERITA TERKAIT

Jumlah IPO Melebihi Target - Ironis Emiten Masih Kapitalisai Pasar Kecil

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun 2018, antrian perusahaan yang go public masih banyak. Berdasarkan data dari PT Bursa Efek…

Utang Negara Masih Aman

Menyimak ancaman krisis global belakangan ini, ada baiknya kita melihat kondisi sejumlah negara lain yang kondisinya tidak lebih baik dari…

Pasar Ekspor Meningkat - KPAS Tingkatkan Kapasitas Produksi 300%

NERACA Jakarta – Tahun depan, emiten produsen kapas PT Cottonindo Ariesta Tbk (KPAS) berencana meningkatkan kapasitas produksi sebesar 300% menjadi…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Kampus Diminta Gelar Lokakarya Penumbuhan Wirausaha

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin gencar mendorong tumbuhnya wirausaha industri baru karena ikut berperan penting dalam menggerakkan roda perekonomian…

Insinyur Perlu Berkontribusi Ciptakan Inovasi

NERACA Jakarta – Insinyur dinilai berperan penting dalam menyukseskan penerapan revolusi industri 4.0 di Indonesia melalui penguasaan teknologi terkini. Hal…

Sektor Riil - Komplek Petrokimia Senilai US$3,5 Miliar Dibangun di Cilegon

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong tumbuhnya industri petrokimia di Indonesia untuk semakin memperkuat struktur manufaktur nasional dari sektor…